JawaPos Radar

Alamak, PKL di Kawasan Fasum Perumahan Balik Lagi

22/05/2017, 19:40 WIB | Editor: Suryo Eko Prasetyo
Alamak, PKL di Kawasan Fasum Perumahan Balik Lagi
SUSAH DIATUR: Ratusan pedagang kembali memadati trotoar dan badan jalan di Gading Fajar. (Ariski Prasetyohadi/Jawa Pos/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com – Benar-benar butuh ketegasan untuk menata PKL di kawasan Gading Fajar. Minggu (21/5) ratusan pedagang kembali menggelar lapak di sekitar taman kota, trotoar, serta jalan menuju perumahan. Padahal, sejumlah pihak sudah menghijaukan kawasan tersebut. Selain itu, sudah ada kesepakatan bersama antara pemkab, TNI, Polri, dan warga untuk menjaga kebersihan serta ketertiban.

Pantauan Jawa Pos di depan RW 9 dan RW 10 Gading Fajar, misalnya. Deretan lapak penjual berjajar di bahu jalan dan trotoar. Akibatnya, akses kendaraan menjadi tersendat. Pejalan kaki pun tidak bisa menggunakan trotoar. Mereka terpaksa turun ke badan jalan dan berebut tempat dengan kendaraan.

Sebenarnya, pemkab sudah menerbitkan larangan berjualan bagi PKL di Gading Fajar. Penjual hanya diperbolehkan menggelar lapak saat sore. Selain itu, mereka tidak diperbolehkan menempati taman dan jalan. ’’Mulai pukul 16.00 baru boleh. Kalau pagi, ada larangan,’’ kata penjual boneka.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Pemkab Sidoarjo M. Bahrul Amig menyatakan, lahan fasum memang tidak boleh difungsikan sebagai tempat berjualan. Di Gading Fajar, fasum berfungsi sebagai taman dan ruang terbuka hijau (RTH). ’’Dalam peraturan daerah (perda), fasum tidak boleh untuk tempat berjualan,’’ katanya.

Amig menuturkan, PKL di Gading Fajar tidak bisa seenaknya memanfaatkan fasum. Sebab, lahan itu dibangun sebagai fasilitas warga perumahan. Selama ini PKL sudah menempati lahan publik tersebut bertahun-tahun. ’’Jadi, sudah seharusnya mereka pindah atau menyewa lahan lain untuk membuka lapak,’’ katanya.

Soal pedagang yang lagi-lagi balik kucing, mantan camat Taman itu mengatakan, pemkab masih memberikan kesempatan. Untuk sementara, pedagang diperbolehkan menempati lahan tersebut mulai pukul 16.00. Dengan catatan, mereka tidak boleh merusak taman dan fasum yang lain. ’’Kalau merusak, tim pemkab langsung bergerak menertibkan,’’ jelasnya.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Satpol PP Pemkab Sidoarjo Widiyantoro Basuki mengungkapkan, pihaknya bakal selalu mengawasi pedagang. ’’Kalau tidak sesuai dengan aturan, langsung kami tindak,’’ jelas pria yang akrab disapa Wiwit itu.

Sebenarnya, lanjut dia, pemkab tidak anti dengan PKL. Namun, jika ingin terus berjualan, pedagang harus mau mematuhi konsep penataan yang kini digodok pemkab. Misalnya, ketentuan waktu berjualan. Untuk sementara, pedagang hanya boleh berdagang sejak pukul 16.00. Selain itu, lapak tidak boleh permanen.

PKL nantinya dibangunkan area atau sentra untuk tempat berjualan. Menurut Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Pemkab Sidoarjo Sigit Setyawan, sesuai dengan konsep awal, pemkab akan bekerja sama dengan pengembang perumahan. Nanti pengembang menyediakan tempat. ’’Nah, pedagang kami tempatkan di situ,’’ jelasnya.

Dia menjelaskan, pembangunan sentra PKL memang belum bisa dimulai dalam waktu dekat. ’’Kami berharap bisa sabar. Yang pasti, pemkab mengajak agar kepentingan masyarakat luas dikedepankan,’’ tutur Sigit. (aph/c15/hud)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up