alexametrics

Lebar Jalan Perumahan Idealnya 10 Meter

21 September 2017, 20:41:24 WIB

JawaPos.com – Rencana pansus mewajibkan pemilik mobil memiliki garasi juga mendapat respons dari Ketua Kehormatan Realestat Indonesia (REI) Jatim Sutoto Yakobus. Dia menganggap aturan itu belum saatnya diterapkan saat ini.

Sutoto justru mengajak pemkot mendorong pengembang untuk menambah fasilitas infrastruktur. Rata-rata lebar jalan perumahan di Surabaya untuk kelas menengah ke atas hanya 5 hingga 8 meter. Lalu, garis sempadan bangunan (GSB) atau jarak jalan dengan tembok hanya 3 hingga 4 meter. Ruang GSB tersebut biasa digunakan sebagai garasi. ’’Ukuran itu sebenarnya cukup untuk satu mobil,’’ katanya.

Namun, sebagian pemilik rumah tidak cukup satu mobil. Minimal ada dua mobil. Satu mobil untuk bekerja dan satunya untuk kepentingan keluarga. ’’Nah, akibatnya, ruang garasi tidak cukup,’’ jelasnya.

Garasi Mobil yang Ideal
Spesifikasi Ideal Garasi Mobil (Grafis: Erie Dini/Jawa Pos/JawaPos.com)

Pemilik rumah lalu memarkir mobil di depan. Namun, ada permasalahan baru. Rata-rata lebar mobil sekitar 1,5 meter, sedangkan ruang jalan hanya 5 meter. Sisa yang ada 3,5 meter. Kalau ada dua mobil yang parkir secara paralel, jalan tersebut sudah tidak bisa dilewati. ’’Sisa 2 meter hanya cukup dilewati satu mobil,’’ jelas pria yang juga direktur Ciputra Surya Tbk itu.

Dia menyebutkan, lebar jalan ideal bagi perumahan adalah 10 meter. Dua kendaraan yang parkir di sisi kiri dan kanan jalan hanya membutuhkan 3 meter. Perinciannya, masing-masing kendaraan butuh ruang 1,5 meter. ’’Masih sisa 7 meter yang cukup untuk lewat kendaraan,’’ ujarnya.

Karena itu, Sutoto lebih setuju jika pemerintah mendorong pengembang menerapkan aturan lebar jalan minimal 10 meter. Kebijakan itu lebih tepat dibanding melarang beli mobil kecuali memiliki garasi. Aturan tersebut bisa saja diakali. Sebab, masyarakat sebenarnya memiliki garasi, tapi tidak cukup untuk dua mobil.

Memang ada penyebab lain. Yaitu, pemanfaatan ruang lahan rumah. Pengembang selalu menyisakan lahan untuk satu rumah. Sering kali, pemilik rumah memanfaatkan sisa lahan itu untuk bangunan kamar atau toko. Akibatnya, tidak ada lagi tempat untuk garasi. ’’Pada kasus ini, pengembang bisa turut andil untuk mengendalikan,’’ ucapnya.

Caranya dengan membuat perjanjian di awal jual beli rumah. Ada syarat bahwa pemilik rumah harus menyisakan lahan. Bisa untuk garasi atau keperluan lain. Misalnya, menjemur pakaian. Apabila melanggar, pemilik rumah bisa dikenai sanksi.

Sutoto menyatakan, transportasi masal di Surabaya juga belum layak. Wajar masyarakat memilih menambah mobil untuk memenuhi kebutuhan mereka. Aktivitas bisa lebih cepat dan luwes. Berbeda bila mengandalkan angkutan umum.

Warga harus jalan kaki ke depan perumahan, lalu menunggu angkutan. Ditambah layanan armada angkutan yang kurang memuaskan. ’’Mereka pasti akan mengeluh dengan aturan yang sedang dipersiapkan tersebut,’’ ucap Sutoto.

Karena itu, dia menganggap dorongan kepada pengembang menyediakan lahan jalan minimal 10 meter lebih realistis. Memang, tidak semua pengembang bisa menerima ide yang dia sampaikan. Tapi, Sutoto menganggap lebar jalan itu sebagai fasilitas yang akan dicari masyarakat.

Rumah tanpa fasilitas infrastruktur yang memadai tidak akan menarik pembeli. Sebaliknya, rumah kecil tetap diburu apabila fasilitas infrastrukturnya bagus. Lebar dan bisa dimanfaatkan untuk keperluan lainnya.

Saling Klakson Setiap Pagi

SUASANA masih pagi. Namun, bunyi klakson mobil sudah memecah keheningan. Suasana saling klakson itu kerap terjadi di Jalan Lebak Arum V, Kelurahan Gading, Tambaksari. Jalan yang hanya selebar 4 meter tersebut sering macet karena banyak mobil yang parkir di jalan.

Mobil yang terparkir di jalan umumnya merupakan milik pribadi. Mobil tersebut diparkir di tepi jalan lantaran pemilik tidak punya garasi. Ada juga yang punya garasi untuk satu mobil, padahal punya dua mobil.

Sebut saja namanya Heru. Dia memiliki dua mobil. Namun, garasinya hanya cukup untuk satu mobil. Alhasil, mobil lainnya diparkir di tepi jalan. Tapi, mobil tersebut tidak terparkir di depan rumahnya. Heru memarkirnya di depan rumah orang lain.

Padahal, pemilik rumah, Sri Rahayu, juga punya mobil. Saat pagi tiba, dia sulit mengeluarkan kendaraan miliknya. ”Dibuat belok tidak cukup. Parkirnya mepet sama pintu,” keluhnya.
Yayuk –sapaan Sri Rahayu– pernah menegur dan lapor ke RT. Namun, hasilnya nihil. Menurut dia, Heru berkilah jika parkir di depan rumahnya, tetangga di depannya tidak bisa memasukkan mobil.

”Sekarang depan rumah saya kasih pot dan fondasinya saya tinggikan,” katanya. Dengan begitu, mobil milik Heru semakin kesulitan parkir. Jika memaksa parkir, jalan akan semakin sempit. Konsekuensinya, dia akan dikomplain banyak orang.

Peristiwa lain terjadi di Jalan Karang Asem. Di sana bukan cuma mobil pribadi yang parkir. Truk pun ikut parkir. Akibatnya, saat jam sibuk, lalu lintas tersendat. Apalagi saat ada kendaraan roda empat yang melaju dari dua arah.

Meskipun cuma jalan kampung, lalu lintas di sana padat. Sebab, jalan itu menjadi jalur alternatif bagi pengendara. Utamanya bagi mereka yang berasal dari Jalan Kenjeran menuju Jalan Putro Agung. Sebab, persimpangan Jalan Kenjeran dan Kedung Cowek sering terjadi kemacetan panjang.

Truk yang parkir di sana tidak lepas dari keberadaan rumah yang beralih fungsi menjadi gudang. Karena halaman dan garasi mobil tidak muat, truk diparkir di tepi jalan. Separo badan truk dinaikkan ke atas got yang sudah dicor. Sedangkan sisanya berada di badan jalan.

Warga di sekitar tempat itu sebenarnya tidak diam saja. Mereka pernah menegur pemilik rumah yang beralih menjadi gudang tersebut. Namun, teguran itu tidak direspons. Menurut Candra Wibowo, salah seorang warga, pemilik truk tidak pernah menggubris komplain warga. ”Ya begitu sikapnya, acuh. Mau negur pegawainya ya mereka cuma jalankan perintah,” katanya.

Saat ditanya soal perda tentang kepemilikan garasi, dia menanggapinya dengan baik. Menurut Candra, perda itu sangat pas jika diterapkan di Surabaya. Sebab, Surabaya semakin krisis lahan parkir.

Editor : admin

Reporter : (riq/gal/c17/c21/oni)

Lebar Jalan Perumahan Idealnya 10 Meter