JawaPos Radar

Koramil Tegalsari Gelar Bomb Blast Simulation di GKI Diponegoro

20/05/2018, 15:45 WIB | Editor: Budi Warsito
Koramil Tegalsari Gelar Bomb Blast Simulation di GKI Diponegoro
Danramil Tegalsari, Mayor Infanteri Mahfud Rofii mempraktekkan cara berlindung usai ledakan. (Aryo Mahendro/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Banyak gereja yang melakukan upaya antisipasi pasca tragedi bom di Surabaya pekan lalu. Salah satunya, Gereja Kristen Indonesia (GKI) Diponegoro yang menggelar kelas bomb blast simulation di ruang ibadah utama, Minggu (20/5).

Pada bomb blast simulationi itu, para peserta mendapatkan materi yang dibagi menjadi dua bagian. Yakni, deteksi dini dan upaya menyelamatkan diri saat ledakan pertama terjadi. Sekitar 100an jemaat gereja menyimak dengan antusias tiap materi yang diajarkan.

Danramil Tegalsari, Mayor Infanteri Mahfud Rofii selalu pemateri mengatakan, pada upaya deteksi dini, pihak gereja perlu memberdayakan tenaga keamanan dengan naluri intelejen dasar yang kuat. Setidaknya, sekuriti harus aware terhadap orang dengan gelagat atau busana yang mencurigakan.

Jika ada orang yang kedapatan membawa barang berbahaya, langsung teriak. Teriakan itu dapat dianggap sebagai "senjata". Sehingga, perhatian orang-orang di sekitar akan tertuju pada teriakan.

Jika tidak, pemeriksaan berlapis harus tetap dilakukan. Mulai dari pemeriksaan isi barang bawaan, metal detektor dan fisik. Prosedur tersebut adalah standar keamanan yang sangat dianjurkan.

"Karena sebaik-baiknya deteksi awal, semua aspek pemeriksaan itu penting. Supaya tidak ada celah (bagi pelaku kejahatan)," kata Mahfud, Minggu (20/5).

Lalu apa yang harus dilakukan jika ada orang yang berhasil meledakkan diri di tengah kerumunan? Langkah awal yang harus dilakukan adalah tiarap di tempat. Lalu, bergerak menjauh dari asal suara ledakan dengan merayap.

Mahfud menjelaskan, pelaku bom bunuh diri, biasanya memasang bom di bagian atas tubuh. Pada bagian perut atau dada. Saat meledak, 90 persen arah ledakan melesat ke atas dan samping. Sementara, dampak ledakan di bagian bawah hanya 10 persen.

"Sesuai hukum fisika. Dampak daya ledak itu arahnya keatas. Jadi diperkirakan hanya bagian bawah tubuh yang lebih aman," jelas Mahfud.

Kemudian, ia mengimbau bagi jemaat yang berada di dalam gereja dapat langsung berjalan menuju pintu keluar. Mahfud juga mengingatkan agar para jemaah tetap pada posisi merayap atau merunduk. Tujuannya adalah, menghindari dampak yang lebih parah jika ada ledakan susulan.

"Menurut tipologi (medan area) gedung GKI ini, berarti dua pintu di pojok belakang itu yang harus dibuka lebih dahulu. Berdayakan jemaat pemuda untuk membuka pintu. Perempuan, anak dan lansia belakangan keluarnya," katanya.

Setelah itu lanjut Mahfud, tunggu kedatangan Polisi dan personel penjinak bom yang akan mengamankan area ledakan. "Tunggu instruksi lanjutan dari TNI dan Polisi. Supaya tidak terkena dampak ledakan susulan," tuturnya.

Ketua Majelis Jemaat GKI Diponegoro, Daniel T Hage mengatakan, pihaknya akan memperketat kemananan tiap ibadah pada Minggu. Selain itu, pihaknya juga mulai merekrut relawan keamanan. Mayoritas, memberdayakan jemaat GKI Diponegoro.

Selain itu lanjutnya, pihak gereja juga sudah menambah alat-alat keamanan. Salah satunya, menambah jumlah alat metal detector. "Karena kami sering memanfaatkan metal detector saat acara-acara khusus. Misalnya, Natal dan Paskah," kata Daniel.

(HDR/JPC)

Alur Cerita Berita

Sejumlah Warga Dievakuasi ke Blok D 20/05/2018, 15:45 WIB
Warga Malang Tidak Takut Teroris 20/05/2018, 15:45 WIB
Lihat semua

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up