JawaPos Radar

Taman Bungkul Tidak Pro Penyandang Disabilitas

Dinilai Minim Fasilitas

17/12/2017, 15:27 WIB | Editor: Sari Hardiyanto
Hari Disabilitas
Sejumlah penyandang disabilitas tengah memperingati Hari Disabilitas Internasional di Taman Bungkul Surabaya, Minggu (17/12). (Aryo Mahendro/JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Hari Disabilitas Internasional pertama kalinya digelar di Surabaya, Minggu (17/12). Sejumlah penyandang disabilitas dari berbagai komunitas berkumpul di Taman Bungkul untuk melampiaskan uneg-uneg mereka.

Mayoritas, mengeluhkan minimnya fasilitas di Taman Bungkul dan tempat umum lain di Surabaya untuk penyandang disabilitas.

Ketua Ikatan Alumni Karya Mulia Surabaya Willy, salah satu penyandang tuna rungu di Surabaya mengeluhkan tentang penggunaan bahasa isyarat. Menurutnya, pemerintah hanya mematenkan bahasa Sistem Isyarat Bahasa Indonesia (SIBI) ketimbang Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo). "Karena penyandang tuna rungu lebih nyaman menggunakan Bisindo," katanya saat ditemui JawaPos.com, Minggu (17/12).

Berbeda dengan Willy. Humas Komunitas Disable Motorcycle Indonesia Dzakiy Suhada mengatakan, masih banyak tempat dan fasilitas umum di Surabaya yang belum memberikan kemudahan akses bagi penyandang tuna daksa. Dia mencontohkan fasilitas parkir di Taman Bungkul.

Menurutnya, Taman Bungkul tidak memiliki akses jalan kursi roda dan tempat parkir khusus. Selain itu, dia juga mengeluhkan jalan-jalan setapak di areal taman yang licin karena dilapisi dengan ubin. "Harapan saya agar Pemerintah tahu kalau kami butuh akses seluas-luasnya," kata Dzakiy.

Hal senada juga diungkapkan oleh Ketua Pelaksana Event Holding Hand Komunitas Konco for Disabilities Ashya Firdausy. Menurutnya, fasilitas untuk penyandang disabilitas di Taman Bungkul minim. Misalnya, akses jalan khusus tuna netra atau guiding block yang belum tersedia di areal taman.

Begitu pula dengan fasilitas lain yang belum memfasilitasi penyandang tuna netra. "Contohnya secara warna tidak mencolok, kualitasnya kurang timbul," kata Ashya.

Curhatan-curhatan itulah yang mendorong Ashya dan komunitasnya menggelar event bertajuk Holding Hand tersebut. Acaranya tidak hanya membahas soal kurangnya fasilitas bagi penyandang disabilitas. Dia juga membahas beberapa isu penting seperti masalah diskriminasi, hak asasi manusia, ekonomi, dan pendidikan inklusi bagi penyandang disabilitas.

Melalui, acara tersebut dia berharap Pemerintah lebih memperhatikan kemudahan akses supaya dapat bersosialisasi dengan masyarakat normal. "Kami mengangkat isu inklusi tentang pemerataan hak dan kewajiban serta persamaan hak asasi manusia. Jangan sampai ada yg merasa ditinggalkan atau  meninggalkan," pungkasnya.

(HDR/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up