JawaPos Radar

DP5A Surabaya Buka Kelas Konseling Pra-nikah

17/02/2018, 17:44 WIB | Editor: Sofyan Cahyono
kelas pra-nikah
Sosiolog Unair Udji Asiyah memberikan arahan kepada 30 mahasiswa dari pelbagai universitas tentang berumah tangga yang baik di ruang kelas di Puspaga, Gedung Siola lantai 2. (Aryo Mahendro/JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Dinas Pengendalian Penduduk, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP5A) Kota Surabaya membuka kelas pra-nikah. Kegiatan berlangsung di ruang Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga), Gedung Siola lantai 2 mulai Sabtu (17/2) ini.

Kepala DP5A Surabaya Nanis Chairani mengatakan, kelas pra-nikah memberikan sejumlah materi. Antar lain penikahan dan tata laksananya, attitude dalam keluarga, pentingnya agama dalam ketahanan keluarga, managemen keuangan keluarga, kesehatan reproduksi dan managemen konflik keluarga.

Tujuannya supaya anak muda yang akan menikah dapat membangun dan membina keluarga yang kuat. Sehingga masa depan anak-anaknya terarah dan terjamin. "Terutama soal jaminan kualitas psikologis dan mental anak yang baik," jelas Nanis ditemui wartawan di Gedung Siola lantai 2.

Pembukaan kelas parenting tersebut adalah kali kedua sejak November 2017. Tahun ini, kegiatan akan digelar mulai Februari hingga Oktober mendatang. Pendaftaran peserta dapat dilakukan dengan mengakses website DP5A. Kemudian prosesnya dilanjutkan dengan mengisi data diri melalui google form.

Ada dua kelas yang sudah disiapkan. Pesertanya terbatas untuk 30 orang per pertemuan. Kelas pra-nikah boleh diikuti semua kalangan dan latar belakang. Tidak ada syarat khusus bagi peserta. Hanya mereka yang berniat dan siap nikah. Kegiatannya diadakan setiap hari Sabtu.

Pengajar melibatkan sejumlah tenaga ahli. Yakni, sosiolog dan psikolog dari sejumlah universitas, sejumlah pakar dari departemen agama dan sejumlah aktivis dari Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB).

Kelas parenting juga dimaksudkan untuk menekan angka perceraian di kalangan pasangan muda. Mereka harus dapat memegang teguh janji pernikahan. Sebab percerian selalu berdampak negatif pada psikologis dan mental anak.

Nanis berencana mengembangkan fasilitas konseling untuk orang tua anak berkebutuhan khusus (ABK). Kegiatan akan diadakan di ruang khusus di depan Puspaga. Saat ini, ruangannya sedang dibangun. Penangannya akan difokuskan pada sisi psikologis si anak.

Sedangkan pembelajaran untuk orang tuanya akan dimulai minggu depan. "Terapinya dapat dilakukan di sini (ruang Puspaga). Tapi kalau sudah berkaitan dengan medis, akan ditangani Dinas Kesehatan Surabaya," jelas Nanis.

Ada perbedaan perlakuan untuk anak normal dan anak berkebutuhan khusus. Terutama saat menangani ABK dalam tingkah laku kesehariannya. Jika tidak dilakukan secara hati-hati, dapat berpotensi tindak kekerasan pada anak.

(HDR/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up