JawaPos Radar

Usai Diguncang Bom, 2 Gereja Kembali Aktif

15/05/2018, 17:32 WIB | Editor: Sofyan Cahyono
Gereja Santa Maria Tak Bercela
Aktivitas ibadah misa keluarga korban jemaat Gereja SMTB. (Aryo Mahendro/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Ledakan bom mengguncang dua gereja di Surabaya pada Minggu (13/5) lalu. Adalah Gereja Santa Maria Tak Bercela (SMTB) dan Gereja Kristen Indonesia (GKI) Diponegoro.

Selang dua hari terjadinya insiden, aktivitas peribadatan di dua gereja tersebut sudah kembali dilakukan. Namun kegiatan ibadah masih belum sepenuhnya terbuka untuk jemaat umum.

Pastur Rekan Paroki Gereja Santa Maria Tak Bercela Aloysius Widyawan mengatakan, pihaknya sudah menggelar ibadah misa pukul 17.00 WIB usai serangan bom pada pagi harinya. Dia dan Pastur Kepala Paroki SMTB mengajak jemaat yang masih bertahan di dalam area gereja.

"Kami pikir, tidak ada yang boleh melarang orang beribadah. Jadi kami merasa harus berbenah diri dan mendoakan yang terbaik bagi para korban. Terutama doa untuk Aloysius Bayu Rendra Whardana," kata Aloysius ditemui JawaPos.com di Gereja SMTB, Selasa (15/5).

Peribadatan misa juga sudah menjadi aturan keagamaan Katolik. Yakni, 2 kali sehari saat weekdays dan 5 kali pada Sabtu dan Minggu. Tapi, ibadah misa masih terbatas jemaat dari keluarga korban tewas maupun luka. "Kami juga belum mendapat instruksi langsung dari kepolisian kapan gerejanya terbuka kembali untuk jemaat umum," kata Aloysius.

Hal senada disampaikan Ketua Majelis Jemaat GKI Diponegoro Daniel T Hage, Pihak gereja juga masih berkoordinasi dengan aparat kepolisian terkait normalisasi aktivitas gereja.

Kendati demikian, Daniel mengaku sudah mendapat instruksi dari polisi untuk melepas pita police line dan penutup pagar depan gereja. "Kami mempersilahkan para jemaat jika ingin mengambil kendaraannya yang terparkir sejak serangan bom. Tapi memang belum ada jemaat yang hadir. Karena hari ini tidak ada jadwal ibadah," kata Daniel.

Berbeda, Gereja Pantekosta Pusat Surabaya di Jalan Arjuno belum terbuka untuk umum. Dari pantauan JawaPos.com, kondisi bangunan gereja rusak parah. Pintu gerbang depan juga masih tertutup dan tersegel dengan triplek putih dan garis polisi.

Salah seorang anggota Satpol PP Surabaya Sujono menuturkan, sebanyak 10 personel berjaga di sekitar area gereja. Sujono sendiri mengamankan gereja tersebut sejak hari pertama serangan bom. "Sebelumnya, kami berkekuatan tiga pleton full untuk penjagaan dan membantu jika ada penutupan jalan," ujar Sujono.

Saat ini, pihak kepolisian menyatakan lokasi di gereja sudah steril. Sebagian personel terbagi ke beberapa lokasi. Antara lain di GKI Diponegoro, Mapolrestabes Surabaya, dan beberapa lokasi strategis lainnya.

"Saat ini, GPPS ini masih di police line. Yang berkewanangan hanya dari kepolisian. Tugas kami hanya mengamankan sekitar lokasi saja. Untuk antisipasi ledakan susulan," paparnya.

(HDR/JPC)

Alur Cerita Berita

Sejumlah Warga Dievakuasi ke Blok D 15/05/2018, 17:32 WIB
Warga Malang Tidak Takut Teroris 15/05/2018, 17:32 WIB
Lihat semua

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up