JawaPos Radar

Cerita Korban Bom di Polrestabes Surabaya (1)

Bripda Maufan Terkena Bom, Adiknya Ingin Jadi Polisi

15/05/2018, 14:32 WIB | Editor: Sofyan Cahyono
Korban Bom surabaya
Yuslam Asrofi (kiri) adik kandung Bripda Ahmad Maufan. (Dida Tenola/JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Bom bunuh menyasar Polrestabes Surabaya, Senin (14/5) pagi. Sejumlah korban berjatuhan. Termasuk dari aparat kepolisian. Namun, aksi teror tak membuat gentar keluarga korban.

Tercatat ada empat polisi di pos penjagaan saat bom meledak. Salah satunya Bripda Ahmad Maufan. Hingga Selasa (15/5) siang, kondisi polisi yang akrab disapa Afan itu terus membaik.

Dia sudah dijenguk rombongan dari Polrestabes Surabaya yang dipimpin Wakapolrestabes AKBP Pratomo Satriawan. Meski tidak banyak, Afan sudah bisa diajak mengobrol. Saat dijenguk di ruang Teratai RS Bhayangkara, Afan masih terbaring lemas di atas ranjang. Tubuhnya berbalut selimut hijau tosca.

Korban Bom Surabaya
Bripda Ahmad Maufan saat dijenguk rekan-rekannya dari Polrestabes Surabaya. (Dida Tenola/JawaPos.com)

JawaPos.com lantas mewawancarai adik kandung Afan, Yuslam Asrofi. Saat peristiwa terjadi, Yuslam berada di rumah kerabatnya di Blitar, Jawa Timur. "Waktu itu di rumah bude, ada saudara yang menelepon bude. Akhirnya saya telepon ayah. Ternyata keluarga sudah di rumah," cerita siswi kelas IX MTs tersebut.

Yuslam pun langsung bergegas menuju rumahnya di kawasan Sananwetan, Blitar. Tak berselang lama setelah tiba di sana, rombongan keluarga langsung berangkat ke Surabaya. Mereka langsung menuju ke RS Bhayangkara.

Afan sendiri saat kejadian posisinya berada di samping motor para pelaku. Dia berada di dekat Bripka Rendra yang kondisinya paling parah. "Sebenarnya mas sudah feeling, seharusnya motor itu kan antre di belakang mobil. Tapi ini motor lewat samping," tambah Yuslam mengisahkan cerita sang kakak kepadanya.

Benar saja, kecurigaan Afan terbukti. Saat dirinya meminta dua motor itu berhenti, bom meledak. Ledakan berlangsung cepat. "Pelaku nggak sempat ngomong apa-apa," tutur Yuslam.

Akibat ledakan itu, dua gigi Afan bagian depan rontok. Gendang telinga kirinya bengkak. Sedangkan gendang telinga kanan robek. Sekarang, semua proses pemulihan berjalan lancar dan melegakan keluarga.

Sebagai polisi, Afan adalah kebanggaan bagi keluarganya. Menurut Yuslam, di antara keluarga besarnya hanya Afan yang menjadi korps berseragam cokelat. Afan lulus dari SMAN 1 Blitar tahun 2013. Setahun berselang, dia diterima jadi polisi.

Saat itu, keluarganya sangat bahagia. Mereka bersyukur karena Afan bisa mengabdi kepada negara. "Waktu itu syukuran bagi-bagi nasi kotak ke tetangga. Mas (Afan) pendidikannya di Kupang," ucap remaja berusia 15 tahun tersebut.

Saat ditanya cita-citanya, Yuslam sebenarnya tidak ingin menjadi polisi. Namun usai kejadian tersebut, mimpi Yuslam direvisi. Dia melihat kakaknya sebagai panutan. Pengabdiannya kepada negara begitu luar biasa. "Gara-gara ini (bom di Mapolrestabes Surabaya, red), saya ingin jadi polisi kayak mas. Saya ingin negara ini aman," harapnya.

(did/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up