JawaPos Radar

Cinta Kasih Menjaga Kebinekaan

12/05/2017, 15:43 WIB | Editor: Suryo Eko Prasetyo
Cinta Kasih Menjaga Kebinekaan
MERAH-PUTIH: Peringatan Waisak dengan Puja Bahti di Vihara Dharma Bhakti Pondok Jati. Doa dipimpin oleh Pandita Nico Tri Sulistyo Budi. Tampak suasana jelang pembacaan kitab Paritta Suci (Boy)
Share this

JawaPos.com – Sejumlah umat Buddha di Kota Delta merayakan Trisuci Waisak di Wihara Dharma Bhakti, Pondok Jati, Kamis (11/5). Mereka mengenakan pakaian serbaputih. Puja bakti yang dipimpin Nico Tri Sulityo Budi pun berlangsung khidmat.

Cinta Kasih Menjaga Kebinekaan
KHIDMAT: Beberapa umat Buddha beribadah di Wihara Dharma Bhakti, Pondok Jati Kamis (11/5) untuk memperingati Hari Waisak. (Boy Slamet/Jawa Pos/JawaPos.com)

Wihara keluarga almarhum Nugroho itu memang selalu ramai saat perayaan Trisuci Waisak. Bukan hanya umat Buddha asal Sidoarjo, ada juga yang datang dari Surabaya. Tempat puja bakti tersebut cukup kecil dengan sarana sederhana. Namun, jumlah umat yang datang cukup banyak. ’’Sebenarnya tempat kami ini lebih disebut cetiya. Tetapi, banyak orang yang lebih familier dengan wihara,’’ kata Nico, pengurus Wihara Dharma Bhakti generasi kedua.

Sejatinya detik-detik perayaan Trisuci Waisak jatuh Kamis itu pada pukul 04.45. Namun, Nico sengaja memulai kebaktian Waisak pada pukul 09.30. Sebab, banyak umat Buddha di Kota Delta yang memiliki kesibukan pada pagi hari. Apalagi, wihara miliknya berada di lokasi Perumahan Pondok Jati yang tidak memungkinkan ramai pada dini hari. ’’Kalau terlalu pagi, banyak anak yang juga belum bangun. Jadi, kami siapkan 09.30 agar bisa melakukan ibadah bersama,’’ jelasnya.

Ya, tepat pukul 09.30, prosesi ibadah umat Buddha di Wihara Dharma Bhakti dimulai. Anak-anak, remaja, dewasa, maupun lansia datang memenuhi ruangan di depan altar untuk melakukan puja bakti. Sebelumnya, anak-anak melakukan persembahan puja yang melambangkan simbol-simbol agama Buddha. Mulanya, seorang anak dengan selempang kuning membawa air yang melambangkan kerendahan hati. Bunga merupakan simbol ketidakkekalan, buah sebagai wujud terima kasih, dan lilin lambang penerangan dalam hidup. Lalu, dupa melambangkan keharuman ajaran sang Buddha.

Nico yang sejak awal berada di depan tempat puja bakti berusaha mengarahkan. Persembahan puja akhirnya tuntas. Nico langsung memimpin pembacaan Paritta Suci. Yakni, kitab suci yang masih menggunakan bahasa Pali, bahasa asli sang Buddha. Isinya, khotbah-khotbah sang Buddha pada zaman dulu.

Puji-pujian dan mantra yang diucapkan para Buddhis pun terdengar nyaring dan khusyuk. Puncaknya, seluruh umat Buddha di Wihara Dharma Bhakti melakukan meditasi. Anak-anak, remaja, dewasa, dan lansia tampak begitu fasih bermeditasi. Selain konsentrasi, meditasi ditujukan untuk mengembangkan cinta kasih pada dalam diri. ’’Lamanya bergantung kepada setiap Buddhis. Bisa lebih lama, bisa cepat. Ini seperti menghubungkan diri sendiri dengan Tuhan,’’ ungkapnya.

Setelah meditasi, dilakukan pemercikan tirta suci. Seharusnya pemercikan tirta suci dilakukan biksu. Namun, karena tempat puja bakti itu masih cetiya, tirta suci dipercikkan salah seorang petugas. Baru dilanjutkan dengan khotbah.

Ritual ibadah umat Buddha pada Kamis (11/5) berlangsung sekitar dua jam. Setelah khotbah, seluruh umat Buddha juga menjalani pradaksina. Dalam arti sesungguhnya, seluruh umat Buddha berjalan mengelilingi kompleks wihara. Namun, dalam perayaan Trisuci Waisak di Wihara Dharma Bhakti, seluruh Buddhis hanya membawa satu tangkai bunga sedap malam dan dupa untuk pemujaan. Kemudian, dilanjutkan dengan ramah-tamah untuk menjalin silaturahmi.

Nico menyatakan, perayaan Trisuci Waisak tahun ini berlangsung sangat khidmat. Bahkan, umat Buddha yang beribadah di Wihara Dharma Bhakti tahun ini lebih banyak jika dibandingkan dengan tahun lalu. ’’Ini melebihi ekspektasi saya. Saya pikir sekitar 40 umat saja. Tetapi, yang datang malah lebih dari 70 orang,’’ ujarnya.

Pada perayaan Trisuci Waisak kali ini, Nico mengangkat tema Cinta Kasih Menjaga Kebinekaan. Tema tersebut diambil setelah melihat kondisi negara yang begitu gonjang-ganjing. Bahkan, dia mengibaratkan air yang sudah mau mendidih. ’’Cinta kasih perlu dikembangkan. Meski berbeda, kita harus saling menghargai, menghormati, dan mencintai antar sesama,’’ tandasnya. (ayu/c14/hud)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up