alexametrics

Krisis Air Bersih, BPBD Ini Minta Bantuan Pasca Sumur Keluar Lumpur

8 September 2017, 19:25:56 WIB

JawaPos.com – Krisis air bersih melanda 32 desa di wilayah Kabupaten Gresik. BPBD memang mendistribusikan air lewat truk tangki sejak Senin (4/9). Namun, dropping air itu belum mampu menutup kebutuhan penduduk.

Salah satu wilayah yang krisis air parah adalah Desa Pucung, Kecamatan Balongpanggang. Di desa tersebut, hampir semua dusun kekurangan air. Kepala Desa Pucung Choirul Anam menuturkan, di desanya memang ada sumur bor bantuan dari Bank Dunia. Namun, sejak Juli, air sumur sangat berkurang. Keruh lagi. ”Yang keluar lebih banyak lumpur daripada air. Tidak bisa dikonsumsi,” katanya.

Kekeringan terparah melanda Dusun Kampung. Dusun berpenghuni 500 jiwa tersebut mengalami paceklik air sejak Juli. Untuk mandi saja, warga harus mengungsi ke desa tetangga. ”Kalau minum, beli air isi ulang,” lanjutnya.

Krisis Air Bersih, BPBD Ini Minta Bantuan Pasca Sumur Keluar Lumpur
Desa-desa Kekeringan di Kota Pudak (Grafis: Herlambang/Jawa Pos/JawaPos.com)

Senin lalu sebenarnya Desa Pucung digerojok air tangki oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gresik. Namun, bantuan air sepekan sekali tidaklah cukup. ”Kami berterima kasih diberi bantuan. Tapi, alangkah baiknya kalau empat kali seminggu,” ujarnya.

Selain wilayah Balongpanggang, Desa Dampaan, Kecamatan Cerme, kehabisan air bersih. Air drop-dropan Senin lalu sudah habis. Saat itu, air dipusatkan dalam tandon utama di balai desa. Namun, tandon tersebut sudah kering. ”Sejak ada air, warga ambil di balai desa. Ya, sekarang sudah habis,” ucap Kepala Desa Dampaan Imam Ashari.

Imam juga meminta BPBD lebih banyak membantu. Sebagian desa lebih beruntung karena masih ada persediaan air di telaga. Salah satunya adalah telaga di Dusun Sumber, Desa Kembangan, Kebomas. Meski debitnya terus mengecil, air masih bisa dimanfaatkan. Puluhan orang Kamis (7/9) terlihat mengambil air di telaga tersebut. Lokasinya berdekatan dengan Masjid Agung Gresik. Mereka memanfaatkannya untuk mandi, mencuci, hingga minum. ”Sekarang air sumber ini mengecil. Tapi, syukur masih bisa digunakan,” kata Abdurrahman, seorang warga.

Sementara itu, BPBD Gresik mengirim air ke wilayah Kedamean. Yakni, Desa Tulung dan Desa Cermenlerek. Kepala BPBD Abu Hasan menyatakan, pihaknya menyuplai 25 tangki air ke 25 desa terdampak. Per desa diberi 8.000 liter. ”Kami akan menyuplai air secara bergiliran. Minimal seminggu sekali per desa,” jelasnya.

Anggaran pengadaan air bersih BPBD untuk penanggulangan kekeringan mencapai Rp 137 juta. Anggaran itu hanya cukup untuk 450 tangki. Abu memastikan tidak cukup untuk menjangkau seluruh wilayah Gresik. Kebutuhan air pasti lebih banyak. Apalagi, target suplai air dilakukan sampai pertengahan Desember. ”Kami juga berharap peran swasta. Misalnya, dunia industri atau perbankan di Gresik,” imbuhnya.

Rawan Diare dan Gatal-Gatal
Bencana kekeringan bisa berimbas pada kesehatan masyarakat. Jika air bersih tidak tercukupi dengan baik, berbagai penyakit bisa muncul. Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan (Dinkes) Gresik dr Ummi Khoiroh mengingatkan, krisis air bisa menurunkan kualitas sanitasi. Kondisi itu rawan penyakit.

”Kekeringan membuat lingkungan jadi tidak bersih,” tuturnya. Menurut Ummi, sanitasi yang baik merupakan modal utama hidup bersih dan sehat. Kalau kekeringan melanda, beberapa penyakit menular bisa muncul. Salah satunya, diare.

Penyakit kulit juga mengancam saat suhu udara tinggi. Dokter spesialis kulit RSUD Ibnu Sina dr Wind Faidati SpKK mengungkapkan, suhu tinggi bisa menurunkan kelembapan kulit. Kulit jadi bersisik dan mudah tergores. ”Kulit kering itu bisa menimbulkan gatal-gatal,” terangnya.

Apa antisipasinya? Wind menyarankan mengonsumsi banyak buah dan sayur. Tujuannya, menjaga kelembapan kulit. Kandungan serat pada buah dan sayur bisa menjaga asupan air di dalam tubuh. ”Penyerapan saat pencernaan jadi lebih bagus,” ungkapnya.

Penggunaan pelembap juga sangat disarankan. Apalagi, suhu udara cenderung tinggi. ”Kelembapan kulit terjaga, tapi tidak sampai ketergantungan obat,” tutur alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga itu.

Editor : admin

Reporter : (mar/adi/c7/c16/roz)

Krisis Air Bersih, BPBD Ini Minta Bantuan Pasca Sumur Keluar Lumpur