JawaPos Radar

Sulit Hidupkan Pertokoan Jalan Tunjungan

07/02/2017, 19:07 WIB | Editor: Suryo Eko Prasetyo
Sulit Hidupkan Pertokoan Jalan Tunjungan
Sulit Hidupkan Pertokoan Jalan Tunjungan (Salman Muhiddin/Jawa Pos/JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com – Pemkot berupaya menjadikan Jalan Tunjungan sebagai kawasan wisata heritage. Tahun lalu fasad bangunan dicat untuk mengembalikan wajah kota lama. Meski begitu, para pemilik toko masih enggan membuka usaha lagi. Akibatnya, kawasan Tunjungan terkesan mati.

Berdasar pantauan Jawa Pos, terdapat 59 toko yang tidak difungsikan di sepanjang Jalan Tunjungan. Toko-toko yang masih buka terlihat sepi pengunjung. Salah satu pemilik persil di Jalan Tunjungan, Njoto Widjodjo, mengeluhkan kondisi tersebut. Dia harus menutup usahanya sejak 2008. Sebab, pengunjung semakin sepi. Masalah parkir menjadi salah satu penyebabnya. Mobil dan motor tidak boleh diparkir di depan toko. Padahal, mayoritas toko di Jalan Tunjungan tidak memiliki lahan parkir. ’’Pembeli tidak mau kalau parkirnya jauh,’’ ujar pengusaha toko elektronik tersebut.

Karena enggan membuka usaha di Jalan Tunjungan, dia memasang poster di depan tokonya. Gedung dua lantai seluas 700 meter persegi itu dikontrakkan. ’’Kalau pemkot mau nyewa untuk kantor pemerintahan, silakan. Saya banting harga,’’ katanya.

Pada 1960 hingga 1970-an area Tunjungan menjadi pusat perdagangan kota. Dia bisa mendapatkan 50 transaksi penjualan dalam sehari. Namun, penjualan semakin menurun pada awal 2000-an. Kondisi itu terjadi sejak kendaraan tidak boleh parkir di Jalan Tunjungan. Pedagang kaki lima pun ditertibkan. ’’Sehari kadang tidak ada yang laku,’’ ungkapnya.

Tahun lalu jalur pedestrian dilebarkan hingga 2 meter. Akibatnya, jalan semakin menyempit. Menurut Widjodjo, kebijakan itu kian membuat pemilik toko enggan membuka usahanya.

Dia juga mengeluhkan tingginya biaya pajak bumi dan bangunan (PBB). Selama ini dia harus merogoh kocek hingga Rp 20 juta per tahun untuk bangunan yang tidak dipakai. Dia meminta pemkot untuk segera mencarikan solusi agar para pemilik persil tidak dirugikan.

Kabid Pelestarian Bangunan dan Heritage Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jatim Dyan Lesmana pernah terlibat dalam pengembangan kawasan Tunjungan. Konsep yang bakal dikembangkan ialah menjadikan kawasan bersejarah itu sebagai daerah konservasi. ’’Dilindungi dan dipelihara sebagai warisan kota yang memiliki sejarah perjuangan arek-arek Suroboyo,’’ tuturnya.

Menurut dia, kawasan Tunjungan lebih cocok digunakan untuk kafe dan galeri. Bukan sebagai kawasan perdagangan alat elektronik. Kawasan Tunjungan yang memiliki gedung-gedung tinggi dengan arsitektur lawas sangat cocok untuk tempat nongkrong anak muda. Sementara itu, galeri bakal menjual benda-benda seni atau suvenir khas Surabaya. ’’Kalau dijadikan galeri atau kafe, bisa kerja sama dengan dinas pariwisata,’’ jelasnya.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko) Surabaya Agus Iman Sonhaji sepakat dengan ide Dyan. Konsep yang ditawarkan kepada para wisatawan adalah mengunjungi life museum. Dia menerangkan, konsep kafe di Tunjungan bisa meniru beberapa tempat di Eropa. Di sana meja dan kursi ditempatkan di jalur pedestrian. ’’Ada kursi di jalur pedestrian, di depan toko, sejak sore hingga malam buat ngopi. Seperti suasana kota lama Eropa,’’ paparnya.

Masalahnya, selama ini jalur pedestrian harus steril dari kegiatan jual beli. Namun, menurut Agus, aturan itu bisa disesuaikan khusus untuk Jalan Tunjungan setelah jalur pedestrian ditata. Nantinya lebar jalur untuk pejalan kaki dibuat sama dari ujung ke ujung. Dengan begitu, para pemilik bangunan bisa memanfaatkan jalur tersebut.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Widodo Suryantoro menjelaskan, upaya memanggil pemilik bangunan di sepanjang Jalan Tunjungan sudah dilakukan. Pemkot meminta para pemilik bangunan untuk membuka usaha kembali. Namun, masih banyak yang enggan.

Dia menerangkan, disbudpar telah mengupayakan wisata mlaku-mlaku nang Tunjungan. Bentuknya berupa festival kuliner Tunjungan, pentas seni Tunjungan, hingga car free day. ’’Konsep ini sudah berjalan,’’ jelasnya.

Pengembangan kawasan Tunjungan sempat gencar saat Surabaya menjadi tuan rumah Prepcom for UN Habitat III pertengahan tahun lalu. Namun, setelah agenda tingkat dunia itu selesai, pengembangan kawasan Tunjungan terkesan mandek. (sal/c15/oni/sep/JPG)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up