alexametrics

Proyek Flyover Dolog Tak Sesuai Rencana Tata Kota Mending Ditunda Saja

Bakal Bangun Elevated Train di A. Yani
6 November 2016, 18:04:00 WIB

JawaPos.com – Pembangunan underpass di bundaran Dolog tampaknya harga mati bagi pemkot. Mereka bahkan lebih memilih menunda proyek tersebut daripada pemerintah pusat menggantinya dengan flyover.

”Dibangun dua-tiga tahun lagi nggak masalah,” ujar Wali Kota Tri Rismaharini. Pembangunan underpass sebenarnya direncanakan sejak 2014.

Jalan bawah tanah tersebut dibangun untuk mengurai kepadatan kendaraan di kawasan bundaran Dolog. Proyek itu bakal didanai pemerintah pusat.

Namun, Direktorat Jenderal Bina Marga mendadak menangguhkan pembangunan underpass. Salah satu alasannya, proyek itu terlalu mahal. Biaya pembangunannya mencapai Rp 273 miliar.

Sebagai gantinya, pemerintah pusat mengusulkan pembangunan flyover yang biaya pembangunannya hanya Rp 80–100 miliar. Risma mengaku bisa memahami kendala anggaran tersebut.

Karena itu, dia tidak ngotot meminta underpass dibangun tahun depan. Jika memang anggaran pusat belum memungkinkan, pembangunan lebih baik ditunda daripada diganti flyover.

Menurut Risma, opsi flyover yang ditawarkan Balai Besar Pelaksaan Jalan Nasional (BBPJN) VIII itu tidak sesuai dengan rencana kota. Risma menegaskan, opsi flyover di bundaran Dolog tidak pernah ada.

Pemkot tetap menginginkan underpass untuk mengurai kemacetan Dolog. ”Desainnya sudah underpass. Tidak ada flyover itu,” tegas Risma.

Mantan kepala bappeko itu menerangkan, kemacetan di bundaran Dolog terjadi karena jalur penyangga atau frontage road (FR) barat belum tersambung.

Solusi terdekat adalah mempercepat penyambungan FR dari depan kantor Bulog Divre Jatim hingga Dinas Kesehatan Jatim. Selain itu, Jalan Jemur Andayani bakal dilebarkan dua kali lipat.

Caranya mengubah saluran air menjadi jalan raya. Risma menegaskan, pembangunan flyover akan mematikan perekonomian di sekitarnya. Apalagi, wilayah sekitar Dolog menjadi pusat perdagangan dan jasa (perjas).

Pernyataan Risma mengacu pada dampak pembangunan flyover di Pasar Kembang. Dua tahun lalu pemerintah pusat membangun flyover di Pasar Kembang.

Kini efek pembangunan itu dirasakan langsung oleh pedagang. Salah satunya Semi Andayani. Perempuan yang berjualan buku tersebut mengaku omzetnya menurun sejak ada flyover.

Alasannya, sisi jalan semakin sempit. Tidak ada lahan parkir untuk pembeli. ”Kalau ada yang mampir, sudah di-bal bel bal bel sama yang di belakang,” keluh penjaga Toko Buku Sukirno. Toko buku tersebut berada di sisi timur flyover.

Di sisi barat flyover, pemilik toko punya keluhan sama. Salah seorang pemilik toko yang tak mau disebut namanya menjelaskan, kini jalan hanya bisa dilalui dua mobil. Konstruksi flyover juga menutupi wajah tokonya dari seberang jalan.

”Kalau ditanya ke semua pedagang, jawabannya sama. Tanya ke toko emas, pegadaian, dan pedagang buah. Pasti mengeluh,” ujarnya. Saat ditemui Jawa Pos, tidak ada satu pun pembeli yang mampir ke tokonya.

Haryo Sulistyarso, pakar lalu lintas dari ITS, mengakui bahwa flyover dapat mematikan ekonomi kawasan di bawah jembatan. Tengok saja Pasar Wonokromo Lama.

Setelah dibangun flyover Mayangkara, daerah di bawah jembatan layang menjadi mati. ”Karena kondisi bangunan lebih rendah dari jalan, jadi kurang dilirik orang,” katanya.

Haryo menambahkan, fungsi underpass dan flyover sama. Kemacetan jalan yang disebabkan crossing kendaraan harus ditangani dengan membangun jalan baru yang tidak sebidang.

Namun, pembangunan flyover di bundaran Dolog memang tidak sesuai dengan rencana tata kota Surabaya. Dia lantas menyentil rencana pemerintah pusat membangun kereta elevated (layang) di sepanjang Jalan Ahmad Yani.

Jalur kereta tersebut berada di atas rel kereta yang ada saat ini. Nah, apabila pemerintah membangun flyover, proyek angkutan masal elevated tersebut dikhawatirkan terganggu.

”Kereta elevated nanti kan di atas. Kalau ada flyover, jelas nanti jalurnya bisa tumpang tindih,” katanya.

Kepala Bidang Fisik dan Sarana Prasarana Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko) Surabaya Gde Dwija Wardhana mengungkapkan, memang ada rencana pembangunan elevated train.

Kereta tersebut bakal menghubungkan Stasiun Gubeng dengan Bandara Juanda. Rencananya, kereta akan terintegrasi dengan angkutan massal cepat (AMC). Di Stasiun Wonokromo terkoneksi dengan trem jalur utara-selatan.

Sementara itu, di Stasiun Gubeng dengan light rapid transit (LRT) jalur timur-barat. ”Itu dari Kemenhub,” ujarnya. (sal/rst/c6/oni/sep/JPG)

Editor : admin


Close Ads
Proyek Flyover Dolog Tak Sesuai Rencana Tata Kota Mending Ditunda Saja