JawaPos Radar

60 Satwa Langka Diperdagangkan Lewat Facebook

06/04/2018, 14:33 WIB | Editor: Sofyan Cahyono
kakatua
Burung-burung langka yang hendak dijual ke Thailand melalui Facebook, diamankan Polda Jatim dan BKSDA Jatim. (Dida Tenola/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Jatim bersama Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) kembali mengungkapkan perdagangan satwa dilindungi. Sebanyak 60 satwa langka yang masuk dalam appendix 1 dan appendix 2 berhasil diamankan di Sidoarjo.

Puluhan satwa tersebut disita dari tangan dua tersangka. Yakni, Achmad Shodikin, 33, warga Pondok Wage, Taman, dan Gusti Saindi Salatin, 27, warga Ngingas, Waru, Sidoarjo.

Keduanya memperdagangkan hewan-hewan yang dilindungi melalui Facebook. "Satwa-satwa ini diburu di kawasan Indonesia Timur kemudian dijual ke Thailand lewat Facebook," jelas Dirreskrimsus Polda Jatim Kombes Pol Agus Santoso kepada wartawan, Jumat (6/4).

60 Burung yang diamankan terdiri dari berbagai jenis. Antara lain 7 ekor kakatua jambul oranye, 26 kakatua jambul kuning, 11 kakatua putih, 6 nuri kepala hitam, 3 kasturi raja, 2 cenderawasih lesser dan 2 cenderawasih Lophorina Magnifica.

Puluhan satwa itu disimpan di dalam rumah pelaku. Sembari menunggu pelanggan, keduanya mempromosikan lewat akun facebook. "Ada dua akun yang dipakai. Untuk pengirimannya melalui jalur laut," tambah polisi dengan tiga melati di pundak tersebut.

Salah seorang tersangka, Achmad Shodikin mengaku bahwa burung-burung tersebut dihargai cukup tinggi di Thailand. Contohnya kakatua jambul kuning. Peminat di luar negeri bisa menawarnya mulai harga Rp 5 juta hingga Rp 7 juta. "Saya ada kenalan orang kapal untuk ngirim burung-burung ini ke Thailand," bebernya.

Saat ini polisi masih menyelidiki adanya pelaku lain. Petugas meyakini bahwa kedua tersangka yang ditangkap adalah bagian dari pemain lama yang biasa memperdagangkan satwa-satwa langka.

Di tempat yang sama, Kepala BKSDA Jatim Nandang Prihadi menerangkan, untuk sementara satwa-satwa tersebut akan mendapat perawatan. Beberapa burung memang stres karena tidak mendapat perawatan yang layak selama berada di tangan pelaku. "Kalau untuk selanjutnya akan dititipkan di mana atau kembali dilepas ke alam bebas, kami akan menunggu keputusan dari Pengadilan," terang Nandang.

Kedua pelaku tersebut dijerat pasal Pasal 21 ayat (2) huruf a dan huruf c Jo Pasal 40 ayat (2) dan ayat (4) UU RI Nomor 5 Tahun 1990. Mereka terancam mendekan di penjara maksimal selama lima tahun dan denda paling banyak Rp 100 juta.

(did/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up