alexametrics

Bedah Buku Oleh-Oleh Jurnalis di Universitas Narotama

Harus Berani Berpikir Nakal agar Dapat Kisah Fantastis
6 Januari 2017, 06:52:41 WIB

Buku adalah jendela dunia. Ungkapan itu menjadi pembuka dalam bedah buku Oleh-Oleh Jurnalis karya wartawan Jawa Pos Doan Widhiandono. Acara tersebut menjadi bagian dari rangkaian Dies Natalis Ke-36 Universitas Narotama Surabaya.

DEBORA DANISA

LEBIH dari 100 mahasiswa Universitas Narotama memenuhi aula kampus Kamis pagi (4/1). Walau di tengah masa ujian akhir dan menjelang libur semester, mereka tetap antusias menghadiri bedah buku tersebut.

Bagi mereka, kesempatan itu menjadi momentum untuk menyerap informasi dan inspirasi, terutama terkait penulisan.

Buku berjudul Oleh-Oleh Jurnalis: Catatan Traveling di 20 Kota pada 11 Negara itu berhasil menyedot perhatian audiens. Maklum, traveling atau berkelana saat ini menjadi tren di kalangan muda.

Tak heran, banyak buku tentang traveling yang menjadi incaran pembaca. Lalu, apa keunikan buku karya Doan Widhiandono? Doan mengaku gemas ketika melihat buku traveling lain yang kurang memuaskan.

”Ibarat lihat foto selfie orang,” ungkapnya. Terkadang, buku traveling hanya berisi info destinasi wisata. Tidak membawa pembaca terlibat dalam perjalanan itu sendiri.

Sebagai seorang jurnalis, pria kelahiran Malang tersebut merasa wajib membuat tulisan menjadi hidup. Pembaca akan merasa hadir di tempat yang dia tuturkan dalam bukunya.

Seluruh tulisan yang terangkum dalam buku Oleh-Oleh Jurnalis adalah hasil liputan Doan sejak menjadi wartawan Jawa Pos pada 2002. Semuanya menggunakan gaya penulisan feature.

Pembaca tak hanya dibuai dengan gaya cerita yang ringan dan mengalir. Mereka juga bisa mendapatkan ilmu-ilmu jurnalistik. Misalnya, tentang cara ”menangkap” peristiwa, proses riset, hingga wawancara.

Berbeda dengan berita langsung (straight news), berita berformat feature haruslah menyajikan sesuatu yang awet, tak lekang oleh waktu. Dibaca kapan pun tetap menarik.

Dan yang terpenting adalah ditulis secara runtut sehingga bisa mengaduk-aduk emosi pembaca. ”Menulislah seperti berbicara,” ucap Doan. Menurut dia, menulis feature harus dengan gaya bercerita yang menggelitik. Jika perlu, selipkan humor.

Dua puluh kota di 11 negara bukanlah jumlah yang sedikit. Doan beruntung bisa berkeliling ke berbagai tempat sebagai seorang jurnalis. Sebab, dari doktrin jurnalistik itulah dia dapat berbagi kisah-kisah menarik dan tidak biasa dalam kelananya.

Misalnya, saat dia makan bersama suku nomaden di Jordania. Hal yang nyaris mustahil dialami oleh turis biasa yang mengandalkan jasa agen wisata.

Tak semua liputannya berjalan mulus. Ada kalanya jurnalis yang kini menjabat kepala kompartemen Metropolis itu menghadapi tantangan. Ketika hendak meliput perayaan Natal di Betlehem, kota bersejarah dalam Kitab Suci, dia harus berurusan dengan petugas imigrasi Israel.

Dia sempat ditahan di perbatasan selama tujuh jam karena melanggar aturan imigrasi. Namun, Doan mengatakan, jika tak melewati jalan menyimpang, pembaca tidak bisa mendapatkan kisah fantastis yang layak diprasastikan.

”Harus berani berpikir nakal,” katanya. Indonesia tentunya tak ketinggalan dalam daftar petualangannya. Malah, Doan menganggap keindahan Indonesia terasa lebih menggetarkan ketika dirinya sudah menginjakkan kaki di negeri orang.

Walau pernah berurusan dengan militer luar negeri, kendala tersulit bagi Doan justru ketika meliput tempat-tempat lumrah seperti Singapura.

Saking seringnya orang Indonesia berkunjung ke sana, dia harus memutar otak untuk mencari angle di luar arus utama. Yang tak dipikirkan oleh orang lain yang pernah bertandang ke sana.

Sebanyak tujuh mahasiswa beruntung mendapatkan kesempatan bertanya langsung kepada sang penulis. Rata-rata tertarik mendengar kiat-kiat menulis. Namun, ada pula yang penasaran dengan tip melakukan perjalanan.

Salah satunya adalah Husni Mubarok dari fakultas ekonomi bisnis (FEB). ”Apakah kita yang bukan jurnalis bisa menulis seperti sudut pandang jurnalis?” tanyanya.

Sesungguhnya, untuk menulis dan berbagi pengalaman, menurut Doan, seseorang tak perlu serta-merta menjadi jurnalis. Yang terpenting adalah semangat untuk berkelana dan berbagi kisah lewat tulisan.

Rektor Universitas Narotama Rr Iswachyu Dhaniarti mengatakan, Dirjen Dikti berusaha meningkatkan mutu pendidikan.

Salah satu caranya menuntut akademisi untuk menghasilkan berbagai karya tulis ilmiah. Karena itu, dia mengadakan acara bedah buku dengan mengundang Doan. (*/c6/oni/sep/JPG)

Editor : Suryo Eko Prasetyo


Close Ads
Bedah Buku Oleh-Oleh Jurnalis di Universitas Narotama