JawaPos Radar

Warga Sepakat Tolak PKL Kembali

02/06/2017, 16:09 WIB | Editor: Suryo Eko Prasetyo
Warga Sepakat Tolak PKL Kembali
MOKONG: Berkali-kali ditertibkan, pedagang masih saja berjualan di kawasan Perumahan Gading Fajar. (Chandra Satwika/Jawa Pos/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com – Setelah ditertibkan secara masif oleh tim gabungan, para pedagang kaki lima (PKL) di kawasan Perumahan Gading Fajar tetap berupaya untuk bisa kembali berjualan di fasilitas umum (fasum). Namun, keinginan itu, tampaknya, harus dipikirkan dengan masak. Sebab, jika tetap nekat balik kucing, bukan tidak mungkin mereka akan berhadapan dengan warga.

Warga Sepakat Tolak PKL Kembali
KAMBUH LAGI: Berkali-kali ditertibkan, pedagang masih saja berjualan di kawasan Perumahan Gading Fajar. (Chandra Satwika/Jawa Pos/JawaPos.com)

Saat ini warga sudah bulat untuk menolak rencana pedagang itu kembali menempati fasum di Gading Fajar. Mereka tidak ingin lingkungan menjadi kumuh lagi. ’’Sudah seharusnya fasum steril dan digunakan untuk ruang terbuka hijau (RTH),” kata Nasukh, salah seorang warga.

Pria berusia 52 tahun itu menceritakan awal mula masuknya PKL ke Gading Fajar. Sekitar 10 tahun lalu, sejumlah pedagang datang ke areal perumahan. Mereka menempati lahan-lahan kosong. Penjual itu berasal dari Alun-Alun Sidoarjo. ”Karena alun-alun ditertibkan, ada pedagang yang pindah ke sini,” jelasnya.

Tambah lama, jumlah pedagang semakin banyak. Jumlahnya melonjak drastis. Berdasar data yang dihimpun Satpol PP Sidoarjo, saat ini jumlah PKL di Gading Fajar sudah mencapai 1.200 orang. Tidak hanya di taman, pedagang juga menempati trotoar serta jalan.

Menurut Nasukh, selain lingkungan menjadi kumuh, keberadaan PKL membuat warga tidak nyaman. Misalnya, saat ada tamu berkunjung, mereka bakal kerepotan. ”Sering tidak bisa masuk ke perumahan,” ujar warga RW 9 itu.

Saat ini, lanjut dia, warga bahu-membahu menanami fasum dengan tanaman. Selain itu, warga ikut berjaga secara rutin. ”Beberapa hari lalu, kami sudah mengusir sejumlah pedagang yang mau menempati fasum,” jelasnya.

Pengamatan di lapangan pada awal Juni (1/6), pedagang kembali menempati wilayah Gading Fajar. Di depan RW 9 dan RW 10, misalnya. Pedagang membuka lapaknya di bahu jalan. Lokasi lain di dekat bundaran Gading Fajar. Padahal, sebenarya pemkab sudah menyediakan lahan relokasi di tanah milik Mahkamah Agung (MA). Namun, PKL memilih berjualan di trotoar dan jalan. Kemarin tidak tampak ada petugas yang berjaga.

Pelaksana Tugas (Plt) Kasatpol PP Pemkab Sidoarjo Widiyantoro Basuki mengatakan, pedagang tetap tidak diperbolehkan berjualan di fasum serta badan jalan. ”Kami sudah menyediakan lahan relokasi. Jadi, PKL harus masuk ke dalam lahan tersebut,” ucap pria yang akrab disapa Wiwit itu.

Wiwit mengatakan, nanti di setiap RW dibangun sentra PKL. Selain itu, lahan milik MA akan dipercantik. ”Di sentra PKL nanti dibangun taman. Dengan demikian, pengunjung bisa berbelanja dengan nyaman dan tidak mengganggu lalu lintas,’’ katanya. (aph/c7/hud)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up