← Beranda

Jual 36 Ribu Tuyul, Omzet Rp10 Juta Seminggu

AdministratorKamis, 19 Oktober 2017 | 01.41 WIB
DIPASARKAN HINGGA KALIMANTAN: Kadim memasukkan mainan tuyul ke dalam plastik. Dalam sehari, dia bisa mengepak 30 bal mainan tuyul.

JawaPos.com- ”Ayo! Ini Jawa Pos mau lihat tuyul kamu,” ujar Kepala Desa Kepatihan, Tulangan, Sidoarjo, Sutrisno Utomo, kepada salah seorang perangkat desanya, Giatno. Jangan salah kira. Yang dimaksud Sutrisno bukanlah makhluk halus yang identik dengan tubuh seperti anak kecil dengan kepala plontos. Melainkan mainan tradisional anak.


Di desa tersebut, Giatno terkenal sebagai pelaku UMKM. Laki-laki 37 tahun itu membuat aneka mainan tradisional. Hal tersebut dilakoninya sejak enam tahun lalu. Menurut dia, mainan tradisional harus dilestarikan. Oleh karena itu, dia sengaja terjun menekuni usaha tersebut. ’’Jika tidak ada yang membuat, khawatir anak-anak tak tahu jenis mainan tradisional itu apa saja,” terangnya. ”Apalagi sekarang gadget kian memikat. Membuat anak-anak malah jarang memainkan mainan tradisional ini,” lanjutnya.


Giatno membuat beberapa mainan. Salah satunya tuyul. Laki-laki yang tinggal di Dusun Kepatihan, Desa Kepatihan, itu lantas mempraktikkan cara pembuatan tuyul. Bahannya adalah balon warna-warni dengan kualitas karet yang bagus. ”Ujungnya diisi air, lalu diikat,” katanya sembari menunjukkan cara pembuatannya. Lalu, sisa balon karet itu dipompa dengan angin hingga membentuk bulatan kecil.


Nah, bulatan tersebut digulungkan ke dalam karet sisa. Dengan begitu, kulitnya makin tebal dan menjadi bentuk bulat padat. Ujung bulatan itu bakal diberi tali panjang berbahan plastik. Ketika dilempar, alhasil si tuyul akan meloncat lincah bersama ekornya yang panjang. ”Alhamdulillah, tuyul bisa terus disukai sampai sekarang,” lanjutnya.


Dalam sehari, dia bisa mengepak hingga 30 bal mainan tuyul. Satu bal berisi sepuluh pak yang masing-masing diisi 20 tuyul. ”Jadi, ya rata-rata enam ribu tuyul per hari,” terang Kadim, ayah Giatno. ”Kalau per minggu, ya bisa bikin 36 ribu tuyul,” lanjutnya.


Seluruh tuyul ditaruh dalam tiga karung besar dan akan dikirim ke berbagai wilayah. ”Pengiriman rutin ke Surabaya sama Malang. Nanti distributor Surabaya kirim lagi ke Bali, Lombok, dan Kalimantan,” papar Giatno.


Dia bersyukur. Dari hasil pembuatan mainan tersebut, Giatno bisa membeli sebuah unit mobil. Omzet per minggunya mencapai Rp10 juta. Prinsip yang dia pegang teguh adalah fokus kerja dan tidak sombong. Giatno sempat dibicarakan warga karena jarang terlihat keluar rumah. Tiba-tiba bisa membangun toko dan membeli mobil. ”Kalau ditanya, ya saya jawab guyonan saja. Saya ngurusi tuyul, makanya kaya,” selorohnya, lantas tertawa terbahak-bahak.

EDITOR: Administrator