JawaPos.com - Bagi seorang miliarder, merekrut karyawan adalah investasi besar. Salah satu CEO sukses, Matteo Franceschetti, punya strategi unik yang kini viral di media sosial.
Pendiri perusahaan kasur pintar dan teknologi tidur bernilai ratusan juta dolar, Eight Sleep, ini selalu menggunakan lima pertanyaan yang sama, diulang pada setiap kandidat. Tujuannya? Bukan sekadar menguji kemampuan, tapi memburu "red flag" dan pola pikir asli pelamar.
Franceschetti, yang membagikan triknya di podcast "The Twenty Minute VC (20VC): Venture Capital" dan TikTok, menyebut cara ini sebagai panduan wawancara kerja paling efektif untuk memecah kejujuran dan melihat karakter asli kandidat.
Ia percaya, menggali perjalanan karier dari awal hingga akhir jauh lebih penting daripada sekadar membaca CV. Ini adalah trik cerdas untuk menemukan aset nyata, bukan hanya pekerja biasa.
Taktik Jitu CEO Eight Sleep: Mengapa Pola Pertanyaan yang Sama Selalu Digunakan?
Matteo Franceschetti menggunakan pola pertanyaan yang sama untuk semua posisi.
Alasannya sederhana: dengan konsistensi, ia dapat membandingkan karakter, profesionalitas, dan cara berpikir ratusan kandidat dengan cepat. Jika ada yang "tidak beres" atau terlalu dibuat-buat, polanya akan langsung terlihat.
Inilah lima pertanyaan rahasia yang selalu ia ajukan dan alasannya:
1. "Bagaimana Anda menemukan pekerjaan itu dan untuk apa mereka mempekerjakan Anda?"
Pertanyaan ini bukan basa-basi. Ini adalah cara Franceschetti memetakan pola karier kandidat.
Jawabannya bisa menunjukkan apakah kandidat memiliki jaringan profesional yang kuat (direkrut/direkomendasikan) atau sering melamar sendiri. Reputasi positif di industri sering tercermin dari bagaimana seseorang mendapatkan pekerjaan.
Lebih dari itu, cara kandidat menjelaskan perannya bisa mengindikasikan apakah mereka bekerja dengan kesadaran penuh akan tujuan pekerjaan (tahu apa yang mereka lakukan) atau hanya sekadar mengikuti arus.
2. "Apa pencapaian terbesar kedua Anda?"
"Pencapaian terbesar" biasanya sudah dihafal dan disiapkan matang-matang oleh pelamar. Karena cenderung "terlalu bagus" dan minim kejujuran, Franceschetti sengaja menanyakan pencapaian terbesar kedua.
Tujuannya? Memicu respons yang lebih spontan dan jujur.
Pertanyaan ini mengukur kontribusi individual dan inisiatif. Ia ingin tahu apakah kandidat mampu menghasilkan dampak signifikan secara mandiri, atau hanya kebetulan sukses karena timnya.
Bagi Franceschetti, detail dan data konkret adalah bukti nyata. Jawaban samar-samar bisa menjadi indikasi ketidakpahaman atas hasil kerja sendiri.
3. "Apa titik terendahmu?"
Inilah pertanyaan yang sering membuat pelamar gugup, padahal sangat krusial.
Franceschetti melihat momen ini sebagai cermin kematangan emosional dan kemampuan refleksi. Ia menilai bahwa orang yang mau mengakui perannya dalam sebuah masalah, dan tidak menyalahkan mantan atasan atau rekan kerja, justru lebih bisa dipercaya.
Ingat, tanggung jawab adalah kunci komitmen dan moral kerja. Orang yang mampu mengakui perannya dalam sebuah masalah justru lebih bisa dipercaya untuk memegang tanggung jawab besar di perusahaan.
Ia ingin melihat, apakah kandidat belajar dari kegagalan atau justru membawa energi negatif (luka lama) ke lingkungan kerja yang baru.
4. "Siapa manajer terakhir Anda dan apa yang akan mereka katakan tentang Anda?"
Pertanyaan ini menguji kejujuran dan integritas profesional. Franceschetti mencatat bahwa pelamar yang sebelumnya berani mengkritik manajer mereka seringkali langsung berhati-hati saat menghadapi pertanyaan ini.
Momen ini mengungkap seberapa baik kandidat menjaga hubungan profesional dan apakah mereka memiliki reputasi positif yang kredibel. Jika seorang pelamar terlihat gugup, itu bisa jadi sinyal adanya masalah dengan mantan atasan.
5. "Mengapa kamu pergi?"
Terakhir, ini adalah cara paling sederhana untuk menemukan pola stabilitas dan komitmen seorang kandidat.
Pertanyaan ini sensitif karena bisa menunjukkan apakah pelamar keluar secara sukarela atau dipecat.
Melalui jawaban ini, ia bisa melihat apakah kandidat punya pola tertentu terkait alasan mereka meninggalkan pekerjaan sebelumnya. Apakah mereka selalu bosan setelah satu tahun? Apakah mereka sering konflik? Atau ada indikator lain yang mungkin menjadi perhatian?
Pola ini, jika digabungkan dengan riwayat pekerjaan sebelumnya, akan menjadi prediktor apakah kandidat akan bertahan lama atau cepat pergi. Kejujuran adalah kuncinya.
Menuju Wawancara Kerja Modern: Karakter Lebih Penting dari CV
Metode Franceschetti ini dijuluki sebagai teknik Topgrading di media sosial, yaitu teknik yang menekankan pola konsisten untuk mendeteksi karakter dan sifat "toksik" sejak awal.
Tren wawancara kerja memang berubah. Menurut Becca Carnahan dari Next Chapter Careers, banyak perusahaan kini memakai wawancara berlapis untuk memastikan rekrutmen adil dan bebas bias.
Kemampuan teknis saja tidak cukup; kecocokan budaya dan karakter kini menjadi penentu utama.
Pelamar masa kini pun berharap dinilai secara seimbang, bukan hanya dari CV, tetapi juga dari potensi jangka panjang dan kemampuan adaptasi mereka.