JawaPos.com - Banyak yang berpikir wanita sukses punya hidup sempurna, termasuk dalam urusan pertemanan. Namun, faktanya seringkali bertolak belakang.
Seorang psikolog klinis mengungkap fenomena mengejutkan: banyak wanita berprestasi dan sukses dalam karier justru kesulitan mempertahankan teman dekat. Kondisi ini makin umum terjadi pada mereka yang juga memikul beban ganda, seperti mengurus anak dan pekerjaan dengan tanggung jawab besar.
Lalu, apa alasan sebenarnya di balik kerenggangan pertemanan ini? Benarkah kesuksesan harus dibayar mahal dengan kesepian? Dikutip dari YourTango, Kamis (28/11), berikut 5 alasan utama yang dibeberkan oleh psikolog klinis mengenai mengapa wanita sukses seringkali kesulitan menjaga persahabatan mereka.
Jadwal Padat dan Waktu yang Benar-benar Terbatas
Inti masalahnya terletak pada waktu. Bagi wanita berprestasi, sehari terasa kurang untuk menampung semua tuntutan. Waktu harus dibagi antara karier menuntut, mengurus rumah tangga, hingga kebutuhan anak-anak.
Hampir setiap jam sudah dialokasikan. Bahkan, untuk urusan self-care seperti olahraga atau terapi, mereka harus mencuri-curi waktu. Kondisi ini membuat celah untuk bersosialisasi menjadi sangat kecil.
Menyisipkan waktu untuk bertemu teman sudah sulit, apalagi menghabiskan waktu berjam-jam untuk obrolan santai yang menjadi fondasi persahabatan.
Dua perempuan dengan jadwal sesibuk ini tentu hampir mustahil menemukan waktu yang sama-sama kosong untuk sekadar telepon, apalagi bertemu langsung.
Kelelahan: Energi Fisik dan Mental Terkuras Habis
Memasuki usia 30-an, energi fisik wanita seringkali menurun, apalagi setelah melewati proses melahirkan dan mengurus anak. Kondisi ini diperparah dengan risiko kelelahan mental yang berujung depresi.
Rasa capek yang muncul bukan hanya letih fisik, tetapi juga mental. Ketika malam tiba, tubuh dan pikiran hanya ingin istirahat. Ini otomatis mengurangi peluang untuk bersosialisasi.
Wanita berprestasi harus pintar menghemat energi demi menyelesaikan tugas yang tak ada habisnya: kerja tambahan, email larut malam, atau pekerjaan rumah. Akibatnya, hubungan pertemanan seringkali terpaksa tidak mendapatkan porsi perhatian yang cukup.
Perubahan Prioritas Hidup: Keluarga jadi Nomor Satu
Ini adalah dilema besar yang dihadapi banyak wanita karier sukses. Mereka sebenarnya ingin punya lebih banyak teman, namun begitu ada waktu luang, mereka memilih menghabiskannya untuk anak dan pasangan.
Mereka sangat terampil dalam manajemen waktu dan energi. Jika harus mengorbankan waktu keluarga demi berkumpul dengan teman, banyak yang akhirnya memilih tetap bersama anak.
Di usia ini, anak-anak masih senang menghabiskan waktu dengan orang tua. Sebagian perempuan sadar bahwa fase ini tidak akan berlangsung lama, karena begitu anak memasuki masa remaja, waktu berkualitas bersama orang tua biasanya makin sedikit. Alasan inilah yang membuat waktu bersama teman menjadi salah satu hal yang paling mudah dikorbankan.
Stres Menumpuk, Interaksi Sosial jadi Beban Baru
Stres dan kelelahan mental membuat percakapan panjang terasa menguras energi. Wanita berprestasi cenderung ingin menyingkat semua obrolan agar efisien. Padahal, obrolan mendalam adalah fondasi utama sebuah persahabatan.
Lama-lama, interaksi sosial terasa seperti beban tambahan, bukan hiburan.
Rasa stres juga membuat seseorang lebih sensitif terhadap tuntutan emosional. Kapasitas emosional untuk sekadar mendengarkan curhat teman pun bisa jadi kosong. Situasi ini mendorong mereka untuk menarik diri dari lingkungan sosial.
Tanpa disadari, ini menciptakan jarak antara diri sendiri dan teman, yang kadang terlihat seperti 'menghilang' atau tidak peduli padahal tidak demikian.
Sulit Menemukan Circle yang Relate dengan Gaya Hidup
Meskipun semakin banyak wanita yang meraih jabatan tinggi, jumlah ibu dengan anak kecil yang berada di posisi serupa masih terbatas. Ini berarti, peluang bertemu teman yang benar-benar memahami jenis tekanan dan gaya hidup yang sama menjadi lebih sulit.
Wanita berprestasi membutuhkan teman yang bisa relate dengan kesibukan dan ritme hidup mereka. Ironisnya, orang-orang di circle serupa juga sama sibuknya. Akibatnya, sulit bagi mereka untuk membangun "kawanan" atau persahabatan yang solid.
Mulai Perbaiki Hubungan: Langkah Kecil Penuh Makna
Jika Anda merasa kondisi ini sangat dekat, mungkin ini saatnya merefleksikan kembali apa yang Anda butuhkan dalam pertemanan. Cobalah jawab pertanyaan ini dengan jujur.
- Apakah Anda benar-benar merindukan teman, atau sekadar merindukan masa muda yang lebih bebas?
- Adakah teman lama yang bisa Anda hubungi kembali?
Mulai dari langkah kecil: kirim pesan teks atau telepon singkat.
Jika beban mental terasa sangat berat, jangan ragu mencari bantuan profesional seperti terapi. Prioritas hidup memang berubah seiring tanggung jawab. Fokus pada keluarga dan karier adalah pilihan yang sah. Yang terpenting, pastikan pilihan Anda selaras dengan hati dan kebutuhan hidup Anda saat ini.