← Beranda

Cara Melatih Otak dan Mencegah Penurunan Kognitif dengan Seru, Kenali Istilah Exergaming

Siti Nasywa Artika MaulanaJumat, 10 Oktober 2025 | 00.06 WIB
Ilustrasi seorang perempuan sedang mempraktekan exergaming (Dok. ResearchGate)

JawaPos.com - Selama beberapa tahun terakhir, para ilmuwan semakin tertarik pada hubungan antara permainan aktif berbasis teknologi atau exergaming dan kesehatan otak. Exergaming adalah bentuk permainan video atau olahraga virtual yang menuntut aktivitas fisik, seperti menari, bersepeda, atau bermain tenis dengan sensor gerak. Jenis permainan ini tidak hanya menyenangkan, tetapi juga diyakini dapat memberikan manfaat kognitif yang nyata.

Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Alzheimer's Research and Therapy menemukan bahwa pelatihan berbasis exergame dapat menimbulkan perubahan positif pada otak, terutama pada individu dengan gangguan kognitif ringan (mild cognitive impairment). Perubahan ini dikaitkan dengan peningkatan fungsi kognitif, yang membuka peluang baru dalam upaya menjaga kesehatan otak.

Dampak Exergame pada Gangguan Kognitif Ringan

Gangguan kognitif ringan ditandai dengan penurunan kemampuan ingatan dan berpikir yang lebih besar dari penuaan normal, namun tidak sampai mengganggu kemandirian sehari-hari. Menurut Dr. Amarish Dave, seorang ahli saraf, kondisi ini sering kali menjadi tahap awal menuju demensia, khususnya penyakit Alzheimer.

Penulis studi menjelaskan bahwa penderita gangguan kognitif ringan biasanya mengalami penyusutan jaringan otak lebih cepat daripada orang sehat. Karena itu, intervensi dini sangat penting untuk memperlambat kerusakan otak dan menjaga kemampuan berpikir.

Penelitian terbaru ini berfokus pada efek pelatihan exergame terhadap perubahan struktur otak dan kaitannya dengan peningkatan fungsi kognitif. Studi ini merupakan bagian dari uji coba terkontrol acak yang lebih besar, yang juga meneliti pengaruh latihan pernapasan dan aktivitas fisik terhadap kinerja otak.

Perubahan Otak dan Peningkatan Fungsi Kognitif

Dalam studi tersebut, sebanyak 41 peserta dengan gangguan kognitif ringan dibagi secara acak menjadi dua kelompok: kelompok intervensi yang melakukan exergame dan latihan pernapasan, serta kelompok kontrol. Sebagian besar peserta menunjukkan biomarker yang berhubungan dengan penyakit Alzheimer.

Program pelatihan disusun secara individual dan bersifat multidimensi, mencakup latihan fisik, motorik, kognitif, dan pengendalian diri. Peserta diminta berlatih sedikitnya lima kali seminggu dengan durasi minimal 24 menit per sesi. Sebelum dan sesudah program selama 12 minggu, peserta menjalani pemeriksaan MRI untuk melihat perubahan pada otak mereka.

Dari 30 peserta dengan data MRI lengkap, hasilnya menunjukkan bahwa kelompok yang mengikuti exergame mengalami peningkatan fungsi kognitif, sedangkan kelompok kontrol justru menunjukkan penurunan. Peningkatan ini tampak jelas pada kemampuan mengingat kata secara langsung dan tertunda.

Selain itu, ditemukan adanya peningkatan volume materi abu-abu (gray matter) di area hippocampus, bagian otak yang berperan penting dalam pembentukan memori dan biasanya menyusut pada penderita Alzheimer. Perubahan positif juga terjadi pada materi putih (white matter) di area anterior cingulate cortex, yang berfungsi mengatur perhatian dan pengambilan keputusan.

Perubahan volume materi abu-abu di thalamus kiri dan hippocampus total berkorelasi dengan peningkatan kemampuan mengingat kata secara tertunda. Sementara itu, integritas materi putih yang lebih baik juga tampak berhubungan dengan peningkatan fungsi kognitif.

Dr. Dave menilai hasil penelitian ini menjanjikan karena menunjukkan peningkatan volume otak dan perbaikan struktur materi putih setelah pelatihan exergame. Namun, ia juga mengingatkan bahwa jumlah peserta yang kecil dan desain penelitian yang eksploratif membuat kesimpulan masih perlu dikaji lebih lanjut.

Apakah Exergaming Benar-Benar Menyebabkan Perbaikan Kognitif?

Walaupun hasilnya positif, penelitian ini memiliki sejumlah keterbatasan. Ukuran sampel yang kecil dan durasi intervensi yang singkat menjadi faktor utama yang membatasi kekuatan temuan. Selain itu, tidak semua sesi latihan dilakukan di bawah pengawasan langsung peneliti, meski sistem exergame tetap memantau kemajuan peserta secara otomatis.

Para peneliti juga menekankan bahwa uji coba utama belum memiliki kekuatan statistik yang cukup untuk hasil neuroimaging secara mendalam. Oleh karena itu, interpretasi data perlu dilakukan dengan hati-hati. Variasi penyebab gangguan kognitif ringan antar peserta juga menjadi tantangan, sehingga hasil ini mungkin tidak berlaku untuk semua jenis gangguan kognitif.

Meskipun demikian, publikasi ini memberikan dasar penting bagi penelitian lanjutan dengan jumlah peserta yang lebih besar. Studi di masa depan perlu meneliti apakah perubahan struktur otak benar-benar menyebabkan peningkatan kognitif dan apakah manfaatnya bisa meluas ke fungsi otak lainnya.

Para ilmuwan percaya bahwa hubungan antara perubahan otak dan peningkatan kognitif yang ditemukan menunjukkan adanya kemungkinan hubungan sebab-akibat. Dengan penelitian lanjutan, kita dapat memahami lebih dalam bagaimana exergaming memengaruhi otak dan apakah dapat berperan dalam pencegahan demensia jangka panjang.

Exergaming: Cara Mudah dan Menyenangkan Menjaga Kesehatan Otak

Secara keseluruhan, penelitian ini memperkuat gagasan bahwa exergaming dapat memberikan manfaat nyata bagi kesehatan otak dan fungsi kognitif. Aktivitas ini tidak hanya meningkatkan kebugaran fisik, tetapi juga melatih koordinasi, perhatian, dan daya ingat.

Dr. Vernon Williams, ahli saraf olahraga dari Cedars-Sinai Orthopaedics, menilai bahwa banyak orang kini khawatir akan penurunan memori dan risiko demensia. Menurutnya, semakin cepat seseorang mengenali masalah dan melakukan intervensi, hasilnya akan semakin baik.

Ia menambahkan bahwa pelatihan berbasis exergame terbukti aman, memiliki tingkat kehadiran tinggi, dan dapat meningkatkan fungsi kognitif global, perhatian kompleks, serta fungsi eksekutif pada penderita gangguan kognitif ringan. Selain itu, aktivitas ini juga berpotensi memengaruhi struktur otak yang biasanya terdampak oleh penyakit neurodegeneratif.

Dengan kata lain, exergaming dapat menjadi cara menyenangkan untuk menjaga kesehatan otak di usia lanjut. Melalui kombinasi teknologi dan aktivitas fisik, permainan ini memberikan peluang baru bagi masyarakat untuk tetap aktif sekaligus melatih pikiran. Jika dikembangkan lebih lanjut, exergaming bukan hanya sekadar hiburan, tetapi bisa menjadi strategi penting dalam pencegahan demensia dan pelestarian fungsi kognitif seiring waktu.

EDITOR: Candra Mega Sari