← Beranda

Jerawat Batu Bisa Lebih Parah dari Jerawat Biasa, Ketahui Penyebab dan Cara Mengatasinya agar Tidak Berbekas

Zalfa Hanifatul WafaSabtu, 27 September 2025 | 21.37 WIB
Ilustrasi ketika muncul jerawat batu di wajah (Dok. Freepik)

JawaPos.com - Masalah kulit wajah menjadi salah satu kekhawatiran utama bagi banyak orang, terutama remaja dan dewasa muda. Berbagai jenis jerawat dapat muncul di wajah, mulai dari komedo hitam, komedo putih, hingga jenis yang lebih parah seperti jerawat meradang. Kondisi kulit yang bermasalah ini tidak hanya mempengaruhi penampilan fisik, tetapi juga dapat berdampak pada kepercayaan diri seseorang.

Jerawat batu atau yang dalam istilah medis dikenal sebagai nodul acne merupakan salah satu bentuk jerawat yang paling parah dan sulit diobati. Jenis jerawat ini terbentuk jauh di bawah permukaan kulit dan memiliki karakteristik berupa benjolan keras yang terasa nyeri saat disentuh.

Berbeda dengan jerawat biasa yang muncul di permukaan kulit, jerawat batu terbentuk ketika pori-pori tersumbat sangat dalam sehingga menciptakan infeksi dan peradangan yang hebat. Bahkan ukurannya bisa lebih besar dari 5 milimeter dan dapat bertahan selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan.  

Adapun perbedaan utama antara jerawat batu dengan jerawat biasa terletak pada lokasi, ukuran, dan tingkat keparahannya. Jerawat biasa umumnya muncul di permukaan kulit dan mudah terlihat mata putih atau hitamnya, sedangkan jerawat batu terbentuk di lapisan kulit yang lebih dalam tanpa menunjukkan tanda-tanda nanah di permukaannya.

Gejala yang paling menonjol dari jerawat batu adalah rasa nyeri yang signifikan, bahkan tanpa disentuh sekalipun. Kulit di sekitar area jerawat batu juga akan tampak kemerahan dan bengkak, serta terasa hangat saat diraba karena adanya proses peradangan yang intens di bawah permukaan kulit.

Munculnya jerawat batu sebenarnya dapat disebabkan oleh berbagai faktor yang saling berkaitan. Dilansir dari Cleveland Clinic, terdapat beberapa penyebab utama yang dapat memicu terbentuknya jerawat batu, yang perlu dipahami untuk pencegahan dan pengobatan yang lebih efektif. Faktor-faktor ini mencakup kondisi fisik, genetik, hormonal, hingga gaya hidup seseorang. 

  • Keringat Berlebihan (Excessive Sweating) 

Kulit yang sering berkeringat memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami jerawat batu, terutama jika seseorang mengenakan pakaian yang memerangkap keringat di permukaan kulit. Kondisi ini menciptakan lingkungan lembap yang ideal bagi bakteri untuk berkembang biak dan menyumbat pori-pori kulit. Orang dengan hiperhidrosis atau kondisi keringat berlebihan memiliki peluang yang lebih besar untuk mengembangkan jerawat batu karena produksi keringat yang tidak normal.  

  • Faktor Genetik

Riwayat keluarga dengan jerawat batu sangat mempengaruhi kemungkinan seseorang mengalami kondisi yang sama. Gen yang diturunkan dari orang tua dapat mempengaruhi struktur kulit, produksi minyak, dan respons peradangan tubuh. Jika salah satu atau kedua orang tua memiliki riwayat jerawat batu, maka keturunannya memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengalami masalah kulit serupa.  

  • Perubahan Hormonal 

Remaja yang sedang mengalami masa pubertas sangat rentan terhadap jerawat batu karena perubahan kadar hormon yang drastis. Peningkatan kadar androgen dapat menyebabkan minyak di kulit menjadi lebih kental sehingga mudah menyumbat pori-pori. Remaja laki-laki dan pria muda memiliki kadar hormon ini yang lebih tinggi, sementara wanita dapat mengalami jerawat batu saat hamil, menstruasi, atau menopause karena fluktuasi hormon. 

  • Efek Samping Obat-obatan 

Beberapa jenis obat, terutama kortikosteroid, dapat memperburuk kondisi jerawat batu yang sudah ada. Obat-obatan ini dapat mengubah keseimbangan hormonal atau mempengaruhi sistem kekebalan tubuh sehingga meningkatkan risiko peradangan pada kulit. Konsultasi dengan dokter diperlukan jika jerawat batu muncul setelah mengonsumsi obat tertentu untuk mengevaluasi kemungkinan efek samping.  

  • Produk Perawatan Kulit yang Tidak Tepat 

Penggunaan lotion, krim, atau make-up yang tidak sesuai dengan jenis kulit dapat menyumbat pori-pori dan memicu terbentuknya jerawat batu. Produk yang terlalu berminyak atau mengandung bahan komedogenik dapat memperburuk kondisi kulit yang sudah bermasalah. Pemilihan produk perawatan kulit yang tepat dan sesuai dengan jenis kulit menjadi sangat penting untuk mencegah timbulnya jerawat batu.

  • Stres dan Kecemasan

Tingkat stres dan kecemasan yang tinggi dapat memicu tubuh untuk memproduksi lebih banyak sebum karena peningkatan kadar kortisol. Kortisol dikenal sebagai hormon stres yang dapat mempengaruhi berbagai fungsi tubuh, termasuk produksi minyak di kulit. Ketika kadar kortisol meningkat, kulit cenderung memproduksi minyak berlebihan yang dapat menyumbat pori-pori dan memicu peradangan.

Pengobatan Jerawat Batu 

Selain itu, pengobatan jerawat batu memerlukan pendekatan yang lebih intensif dibandingkan dengan jerawat biasa karena sifatnya yang dalam dan persisten.

Dilansir dari Hello Sehat, terdapat beberapa pilihan pengobatan yang dapat dipertimbangkan tergantung pada tingkat keparahan dan kondisi spesifik setiap individu. Kombinasi berbagai metode pengobatan juga seringkali diperlukan untuk mencapai hasil yang optimal.

1. Obat Topikal

Obat topikal dalam bentuk salep atau krim menjadi pilihan pertama dalam pengobatan jerawat batu, dengan pemilihan yang disesuaikan berdasarkan usia, lokasi jerawat, dan tingkat keparahan kondisi. 

  • Benzoyl peroxide bekerja dengan membunuh bakteri penyebab jerawat dan mengurangi peradangan di area yang terkena. 
  • Retinoid membantu mempercepat pergantian sel kulit dan mencegah penyumbatan pori-pori.
  • Asam azelaic memiliki sifat anti-inflamasi dan antibakteri yang efektif untuk mengurangi kemerahan dan pembengkakan. 
  • Dapson merupakan pilihan alternatif yang dapat digunakan jika obat lain tidak memberikan hasil yang memuaskan.  

2. Antibiotik

Ketika jerawat batu disebabkan oleh infeksi bakteri, penggunaan antibiotik menjadi pilihan pengobatan yang tepat untuk mengatasi akar masalah. Antibiotik dapat diberikan dalam bentuk topikal untuk aplikasi langsung pada area yang terkena atau oral untuk kasus yang lebih parah. Jenis antibiotik yang umum digunakan termasuk clindamycin, erythromycin, atau tetracyclin yang bekerja dengan menghambat pertumbuhan bakteri penyebab jerawat. Penggunaan antibiotik harus dilakukan sesuai petunjuk dokter dan dalam jangka waktu yang tepat untuk menghindari resistensi bakteri.  

3. Terapi Hormon

Wanita yang mengalami jerawat batu akibat ketidakseimbangan hormon dapat memperoleh manfaat dari terapi hormon yang disesuaikan dengan kondisi mereka. Kontrasepsi oral dengan kombinasi estrogen dan progestin dapat membantu mengatur kadar hormon dan mengurangi produksi minyak berlebihan. Adapun spironolactone yaitu obat yang biasanya digunakan untuk mengatasi tekanan darah tinggi, juga efektif dalam mengurangi efek androgen pada kulit. Terapi hormon ini memerlukan pengawasan ketat dari dokter karena dapat memiliki efek samping dan tidak cocok untuk semua wanita.

4. Isotretinoin

Isotretinoin, yang lebih dikenal dengan nama dagang Accutane, merupakan obat yang sangat efektif untuk mengobati jerawat batu yang parah dan resisten terhadap pengobatan lain. Obat ini bekerja dengan mengurangi ukuran kelenjar sebaceous, menurunkan produksi sebum, dan memiliki efek anti-inflamasi yang kuat. Karena isotretinoin memiliki efek samping yang serius dan dapat menyebabkan cacat lahir jika dikonsumsi selama kehamilan, penggunaannya harus diawasi ketat oleh dokter. Pasien yang menggunakan isotretinoin perlu pengawasan dokter dan konsultasi berkala untuk memantau respons tubuh terhadap obat ini.

Walaupun jerawat batu kerap mengganggu kepercayaan diri penderitanya, namun dengan kesabaran dan konsistensi dalam menjalani pengobatannya, maka hasilnya pun akan signifikan. Selain itu, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dermatolog jika mengalami jerawat batu, karena penanganan dini dapat mencegah perburukan kondisi dan meminimalkan risiko jaringan parut yang dapat mengganggu penampilan dalam jangka panjang.

EDITOR: Candra Mega Sari