← Beranda

5 Alternatif Bungkus Kemasan Daging Kurban yang Ramah Lingkungan Untuk Mengurangi Sampah Plastik!

Anisah MeidayantiRabu, 28 Mei 2025 | 14.46 WIB
Petugas kurban mengemas daging kurban menggunakan besek yang terbuat dari anyaman bambu di Kebayoran Lama, Jakarta, Minggu (11/8/2019). Penggunaan wadah daging kurban yang terbuat dari bambu ini dilakukan sebagai pengganti plastik. Hal ini dilakukan untu

JawaPos.Com — Penggunaan plastik sekali pakai untuk membagikan daging kurban mempunyai masalah tersendiri. Pembagian daging kurban yang membutuhkan banyak bungkus membuat sampah plastik berpotensi melimpah pasca Idul Adha.

Pada tahun 2023, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) telah mengeluarkan Surat Edaran Pedoman Pelaksanaan Idul Adha Tanpa Plastik. Surat edaran ini dirilis dengan pertimbangan untuk mencegah potensi timbulan sampah kantong plastik sekali pakai pembungkus daging kurban yang pada tahun 2023 diprediksi mencapai 119 juta lembar kantong plastik.

Dalam surat edaran tersebut, pemerintah menghimbau panitia untuk tidak menggunakan kantong plastik sekali pakai. Dan menggantinya dengan cara mengajak warga membawa wadah sendiri atau mengganti pembungkus daging dengan alternatif lain.

Beberapa alternatif bungkus kemasan daging kurban yang bisa digunakan oleh panitia kurban untuk mengurangi banyaknya timbulan sampah plastik sekali pakai antara lain:

1. Besek

Kalau daerah kamu dekat dengan pengrajin besek atau bahkan daerahmu banyak pengrajin besek. Kamu bisa bekerjasama dengan pengrajin besek untuk menciptakan siklus ekonomi produk lokal yang berkelanjutan sebagai wadah daging kurban.

Ukuran besek yang biasa digunakan paling kecil adalah 15X15 yang menurut pantauan penulis Jawa Pos di berbagai toko daring dibanderol dengan harga Rp.1600 per biji.

2. Daun Jati

Selain dapat mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, menggunakan daun jati untuk membungkus daging kurban juga bermanfaat untuk mempertahankan kualitas daging. Berdasar artikel ilmiah berjudul Daun Jati sebagai Pembungkus Daging Sapi/Kambing pada Green Qurban 1444 H di Universitas Syiah Kuala, daun jati mengandung senyawa anti mikroba untuk membantu memperlambat pertumbuhan patogen atau mikroorganisme yang dapat berbahaya bagi manusia.

3. Bonsang

Bonsang atau bongsang merupakan keranjang yang terbuat dari anyaman bambu dengan lubang yang lebih besar. Biasanya, bonsang digunakan untuk membungkus tahu sumedang atau tape.

Untuk alasnya, kamu bisa menggunakan daun pisang, daun jati hingga daun pepaya. Sebagai perkiraan, harga satu biji bonsang diperkirakan mencapai Rp.1500.

4. Kotak Thinwall

Penggunaan kotak thinwall sudah sering kita temukan sebagai wadah makanan. Kamu bisa menggunakan kotak thinwall sebagai bungkus daging kurban karena potensi wadahnya yang bisa digunakan kembali atau didaur ulang.

Untuk menjaga keamanan daging kurban sebagai bahan makanan, kamu bisa mencari kotak thinwall dengan logo segitiga daur ulang nomor lima atau nomor dua. Dilansir dari laman Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Buleleng, kode segitiga dua berasal dari plastik HDPE (High Density Polyethylene) yang aman digunakan berkali-kali dan bisa didaur ulang.

Sedangkan kode daur ulang lima pada kemasan plastik thinwall berbahan PP (polypropylene) sangat aman digunakan untuk menyimpan makanan dalam jangka waktu lama. Dan tahan terhadap bahan kimia, panas dan minyak.

5. Kresek Berbahan Alami Seperti dari Singkong atau Jagung

Saat ini, ada banyak produk kresek sekali pakai yang bukan terbuat dari plastik. Namun, berasal dari bahan alami seperti pati singkong dan jagung.

Dengan menggunakan bahan alami, kantong akan mudah terurai baik di tanah maupun larut dalam air. Dengan menggunakan kresek berbahan alami sebagai bungkus kemasan daging kurban, proses membungkus daging kurban akan efisien karena tidak terlalu banyak memakan tenaga dan waktu.

Di Indonesia sendiri ada banyak perusahaan yang memproduksi kresek berbahan alami. Misalnya Telobag, perusahaan kresek berbahan pati singkong pertama di Indonesia. Hingga Ecofrenbag yang membuat inovasi kantong kresek yang terbuat dari tepung jagung.

Dengan beralih ke kemasan ramah lingkungan bisa jadi langkah kecil yang membuat perayaan Idul Adha jadi makin bermakna. Karena sejatinya, menjaga lingkungan juga bagian dari ibadah, sebagai wujud syukur atas alam yang telah Tuhan titipkan kepada kita.

***

EDITOR: Novia Tri Astuti