← Beranda

7 Sifat Unik yang Hanya Dimiliki Anak Tengah, Salah Satunya Jadi Mediator Ulung!

M Shofyan Dwi KurniawanSabtu, 15 Februari 2025 | 05.14 WIB
Ilustrasi anak tengah

JawaPos.com - Kita semua pernah mendengar stereotip tentang anak tengah yang merasa diabaikan atau tersesat di tengah hiruk-pikuk keluarga besar.

Namun, di balik itu, anak tengah justru memiliki keunikan tersendiri yang membentuk perilaku dan kepribadian mereka.

Berbagai penelitian dalam bidang psikologi menunjukkan bahwa posisi di tengah kakak dan adik dapat memberikan keuntungan tersendiri.

Dari kemampuan bernegosiasi hingga rasa keadilan yang kuat, dilansir dari laman Blog Herald pada Jumat (14/2) berikut tujuh sifat unik anak tengah yang menarik untuk disimak.

1. Pembawa Damai Alami atau Mediator

Anak tengah sering kali berperan sebagai mediator dalam keluarga. Ketika kakak dan adik berselisih, entah karena berebut remote TV atau siapa yang berhak memakai baju favorit, anak tengah cenderung turun tangan untuk menenangkan situasi.

Menurut teori urutan kelahiran dari Alfred Adler, anak tengah mengembangkan keterampilan bernegosiasi sejak dini karena mereka secara psikologis "terjepit" di antara saudara kandung lainnya. Kakak yang lebih tua sering lebih dominan, sementara adik lebih banyak dimanja.

Situasi ini membuat anak tengah terbiasa mencari jalan tengah, baik dalam keluarga maupun dalam hubungan sosialnya di kemudian hari. Kemampuan ini juga membuat mereka menjadi teman yang bisa diandalkan dan pemecah masalah yang hebat.

2. Menguasai Fleksibilitas

Tumbuh sebagai anak tengah berarti harus mampu beradaptasi dengan berbagai dinamika dalam keluarga. Kakak mungkin menuntut otoritas, sedangkan adik membutuhkan perhatian lebih. Ini membuat anak tengah secara alami menjadi pribadi yang fleksibel dan mudah menyesuaikan diri.

Studi tentang kemampuan beradaptasi dalam psikologi perkembangan menunjukkan bahwa anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan penuh negosiasi dan kompromi lebih mampu menghadapi perubahan dalam hidup. Dari peralihan ke sekolah baru, pekerjaan baru, hingga tinggal di lingkungan yang berbeda, anak tengah lebih siap menghadapi tantangan dengan sikap yang lebih tenang.

3. Menavigasi Kemerdekaan Lebih Awal

Dibandingkan kakak yang sering jadi pusat perhatian karena tanggung jawabnya, atau adik yang mendapatkan banyak perhatian karena usianya, anak tengah sering kali harus mencari cara sendiri untuk bersinar.

Karena merasa kurang diperhatikan, mereka cenderung mengembangkan minat dan hobi sendiri tanpa terlalu bergantung pada validasi keluarga. Teori dari Carl Jung menyebutkan bahwa pencarian identitas individu dapat menghasilkan kehidupan batin yang kaya.

Banyak anak tengah yang lebih mandiri, menemukan kesenangan dalam eksplorasi kreatif, buku, atau membangun lingkaran sosial di luar keluarga.

4. Pandai Membaca Emosi

Sebagai pembawa damai dalam keluarga, anak tengah sering kali memiliki kepekaan emosional yang lebih tinggi. Mereka terbiasa mengamati perubahan ekspresi wajah, nada suara, atau bahasa tubuh untuk memahami suasana hati orang-orang di sekitarnya.

Psikolog menyebut kemampuan ini sebagai "literasi emosional"—kemampuan untuk membaca dan merespons emosi orang lain dengan baik. Karena sering berlatih sejak kecil, anak tengah tumbuh menjadi pendengar yang baik, teman yang suportif, dan pasangan yang penuh empati.

5. Menguasai Seni Kompromi

Sebagai seseorang yang tidak memiliki otoritas seperti kakak maupun hak istimewa seperti adik, anak tengah sejak kecil terbiasa dengan kompromi. Mereka sering mengalah demi menjaga keharmonisan, entah itu membiarkan adik menang dalam permainan atau berbagi sesuatu dengan kakak demi menghindari konflik.

Kebiasaan ini terus terbawa hingga dewasa. Penelitian menunjukkan bahwa individu yang terbiasa berkompromi memiliki tingkat kepuasan hubungan yang lebih tinggi, baik dalam pertemanan, pernikahan, maupun lingkungan kerja. Anak tengah sering kali menjadi pihak yang mencari solusi adil dan mampu melihat gambaran besar dalam situasi yang membutuhkan kerja sama tim.

6. Rasa Keadilan yang Kuat

Anak tengah hidup dalam kondisi di mana mereka harus berhadapan dengan dua dunia. Yakni, kakak yang bisa berkata, “Aku lebih tua, jadi aku boleh ini dan itu,” serta adik yang bisa mengatakan, “Aku masih kecil, tolong aku.” Situasi ini melatih mereka untuk peka terhadap ketidakadilan dan menjadikan mereka pendukung kesetaraan yang kuat.

Mereka tidak segan untuk membela teman atau kolega yang mereka anggap diperlakukan tidak adil. Dalam lingkungan sosial, mereka juga lebih cenderung menghargai kerja tim dan memastikan semua pihak mendapatkan perlakuan yang sama. Banyak anak tengah yang tumbuh menjadi aktivis sosial, pengacara, atau profesional di bidang yang menuntut keadilan dan kesetaraan.

7. Membentuk Persahabatan Dekat di Luar Keluarga

Karena tidak selalu menjadi pusat perhatian di rumah, anak tengah sering kali membangun hubungan yang erat di luar lingkungan keluarga. Mereka lebih cenderung mengandalkan teman sebagai sistem dukungan emosional dan tempat berbagi cerita.

Berbagai penelitian tentang psikologi hubungan sosial menunjukkan bahwa anak yang lebih banyak mencari koneksi di luar keluarga cenderung memiliki keterampilan interpersonal yang lebih kuat. Mereka memahami nilai hubungan yang sehat dan sering kali lebih setia dalam persahabatan.

Jadi, meskipun anak tengah sering kali dianggap "di tengah-tengah" dalam keluarga, mereka justru memiliki keunikan yang membentuk karakter mereka dengan cara yang luar biasa. Dari fleksibilitas hingga kemampuan berkompromi, sifat unik anak tengah memberikan mereka keunggulan dalam kehidupan sosial maupun profesional. Jika kamu anak tengah, bisa jadi banyak dari poin ini terasa relatable!

EDITOR: Setyo Adi Nugroho