JawaPos.com - Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa saudara kandung yang dibesarkan dalam rumah yang sama bisa memiliki kepribadian yang sangat berbeda? Meskipun mereka berbagi gen yang sama, sering kali mereka memiliki minat, gaya hidup, dan cara berpikir yang bertolak belakang.
Fenomena ini menarik perhatian para peneliti psikologi selama bertahun-tahun, hingga akhirnya ditemukan beberapa teori yang menjelaskan alasan di balik perbedaan ini. Sebelumnya, para psikolog lebih fokus pada pola asuh orang tua dalam membentuk kepribadian anak.
Namun, penelitian yang dilakukan oleh Robert Plomin pada 1980-an mengungkap bahwa meskipun saudara kandung memiliki kemiripan dalam hal fisik dan kecerdasan, mereka sering kali sangat berbeda dalam hal kepribadian. Hal ini menimbulkan pertanyaan besar, jika saudara kandung dibesarkan dalam lingkungan yang sama, mengapa kepribadian mereka bisa begitu beragam?
Ada tiga teori utama yang mencoba menjawab pertanyaan ini. Mari kita bahas lebih lanjut satu per satu, dikutip dari laman NPR, Jumat (7/2).
1. Teori Divergensi
Teori ini dikembangkan oleh Frank Sulloway, seorang peneliti yang mengkaji hubungan antara evolusi dan kepribadian manusia. Menurutnya, saudara kandung secara alami akan mencari cara untuk membedakan diri mereka satu sama lain guna mengurangi persaingan dalam keluarga. Ini disebut sebagai "prinsip divergensi."
Sebagai contoh, jika seorang anak unggul dalam akademik, saudara kandungnya mungkin akan mencari bidang lain untuk dikuasai, seperti olahraga atau seni. Hal ini dilakukan secara sadar atau tidak sadar sebagai cara untuk mendapatkan perhatian dan penghargaan dari orang tua.
Dengan menonjol dalam bidang yang berbeda, mereka dapat mengurangi persaingan langsung dan menemukan identitas unik mereka sendiri.
2. Teori Lingkungan yang Tidak Dibagi
Meskipun saudara kandung tumbuh dalam keluarga yang sama, mereka sebenarnya mengalami lingkungan yang berbeda. Faktor usia dan peristiwa dalam keluarga memainkan peran besar dalam membentuk kepribadian seseorang.
Misalnya, jika seorang anak berusia lima tahun saat orang tua mereka bercerai, pengalaman emosionalnya akan sangat berbeda dibandingkan saudara yang saat itu sudah berusia sembilan tahun.
Selain itu, orang tua juga sering kali secara tidak sadar memperlakukan anak-anak mereka secara berbeda. Setiap anak memiliki kebutuhan dan kepribadian unik yang mempengaruhi cara orang tua merespons mereka.
Satu anak mungkin lebih manja dan mendapat lebih banyak perhatian, sementara yang lain lebih mandiri dan kurang mendapatkan pengawasan. Hal ini menciptakan perbedaan dalam pola asuh yang akhirnya membentuk kepribadian mereka.
Baca Juga: Kenapa Kita Bisa Jatuh Cinta? Ini Penjelasan Menurut Ilmu Psikologi
3. Teori Perbandingan
Teori terakhir berpendapat bahwa keluarga adalah "mesin perbandingan" yang sering kali membesar-besarkan perbedaan kecil antara saudara kandung. Misalnya, dalam sebuah keluarga, seorang anak yang sangat ekstrovert akan membuat saudara lainnya, meskipun cukup sosial, tampak lebih introvert dalam perbandingan.
Setelah label ini diberikan, anak-anak cenderung berperilaku sesuai dengan ekspektasi yang telah terbentuk. Mereka memilih lingkaran pertemanan yang berbeda dan mengembangkan kebiasaan yang memperkuat perbedaan tersebut. Seiring waktu, perbedaan kecil ini semakin membesar, hingga akhirnya mereka memiliki kepribadian yang tampak sangat berbeda satu sama lain.
Dari upaya menghindari persaingan, pengalaman hidup yang berbeda, hingga kecenderungan keluarga dalam membandingkan anak-anak mereka, semuanya berkontribusi dalam membentuk perbedaan karakter pada saudara kandung.
Meskipun mereka berbagi gen dan tumbuh di bawah atap yang sama, perjalanan hidup dan interaksi dalam keluarga membentuk mereka menjadi individu yang unik. Hal ini membuktikan bahwa kepribadian bukan hanya hasil dari gen atau pola asuh, tetapi juga bagaimana setiap individu menyesuaikan diri dengan lingkungan dan dinamika keluarga mereka.