JawaPos.com - Terbuka kepada orang tua bukanlah hal yang mudah bagi sebagian anak, terlepas dari usianya.
Beberapa keluarga memang mengalami kesulitan dalam berinteraksi dan berkomunikasi secara terbuka dengan orang tua.
Bahkan bagi orang dewasa yang memiliki hubungan baik dengan orang tua, berbagi perasaan yang lebih dalam bisa terasa sulit.
Melansir Bjones Counseling, percakapan mungkin hanya menyentuh permukaannya saja, tentang kegiatan sehari-hari, tetapi jarang menyentuh ranah emosi.
Namun di lain sisi, orang tua seringkali merasa kesulitan untuk membangun komunikasi yang baik dengan anaknya, terutama saat anak memasuki usia remaja.
Mengapa Rasanya Sulit Terbuka kepada Orang Tua?
Adapun beberapa faktor yang menyebabkan sulit terbuka dan bercerita kepada orang tua, dilansir dari Pysch Central berikut beberapa di antaranya:
1. Pola Asuh Otoriter
Pola asuh yang terlalu memaksakan kehendak orang tua dapat membuat anak merasa tidak nyaman dan enggan untuk bercerita. Hal ini menjadi tembok penghalang bagi anak karena tidak memiliki ruang untuk berpendapat.
Anak juga mungkin takut untuk bercerita karena khawatir akan dihakimi, dimarahi, atau disalahkan oleh orang tua.
2. Kurangnya Perhatian dan Kepedulian
Kesibukan orang tua dan kurangnya interaksi yang berkualitas dengan anak membuat anak merasa tidak dipedulikan dan akhirnya menutup diri.
Begitu pun, karena sejak kecil anak melihat orang tuanya jarang bercerita, maka anak pun meniru untuk enggan bercerita.
3. Komunikasi yang Buruk
Kurangnya diskusi tentang emosi dalam keluarga dapat menyulitkan koneksi antara anak dan orang tua.
Kembali melansir Pysch Central, ketika seorang anggota keluarga tidak mengomunikasikan perasaan secara terbuka akan menyebabkan minimnya koneksi yang baik.
Tips Mengatasi agar Lebih Terbuka kepada Orang Tua
Melansir Voices of Youth, membangun komunikasi yang terbuka membutuhkan kesabaran, pengertian, dan upaya yang konsisten.
1. Buat Interaksi dengan Landasan Empati
Rasa saling percaya dan pengertian merupakan fondasi dalam hubungan. Untuk itu, anak dan orang tua harus memahami sudut pandang satu sama lain dan mendengarkan dengan perhatian.
Hindari memotong pembicaraan bahkan meremehkan permasalahan yang sedang dihadapi oleh anak.
Berikan ruang dan waktu untuk interaksi berjalan dengan nyaman dan terbuka.
2. Ciptakan Waktu yang Berkualitas
Kesibukan orang tua dan anak seringkali menjadi penghalang komunikasi. Untuk itu, upayakan untuk meluangkan waktu yang berkualitas.
Berikan anak kesempatan untuk bercerita memilih, dan hindari memberi nasihat terlalu cepat.
Begitu pun pahami empati orang tua yang ingin memberikan dukungan dan bimbingan dengan bijak.
3. Menjadi Pendengar yang Aktif
Ketika Anak mulai membuka diri untuk bercerita, dengarkan dengan seksama sebagai pendengar yang aktif. Sebaliknya, dengarkan pula pesan-pesan yang disampaikan orang tua.
Penting untuk meletakkan ego agar tidak menjadi perdebatan antara orang tua dan anak. Terkadang ketegangan antara anak dan orang tua menjadi tembok penghalang lain yang membuat anak sulit untuk terbuka kepada orang tua.
Dengan menerapkan beberapa tips tersebut, Anda barangkali bisa mulai membuka diri dan membangun komunikasi yang lebih baik dengan orang tua.
***