JawaPos.com - Dari sudut pandang psikologis, Dr. Denitrea Vaughan mendefinisikan sifat manja sebagai sebuah karakteristik perilaku yang ditandai dengan egoisme dan ketidakdewasaan. Pola asuh yang kurang konsisten dalam memberikan batasan pada anak bisa menjadi pemicu utama munculnya sifat tersebut.
Meskipun berasal dari niat baik, pola asuh tersebut justru dapat menghambat perkembangan emosional anak dan berdampak negatif pada kehidupan mereka di masa depan.
Mengutip parade.com, berikut ini beberapa ciri orang yang dimanja saat kecil hingga berpengaruh besar ketika dewasa.
1. Ketergantungan terhadap orang lain
Kebiasaan memanjakan anak mampu menghambat pertumbuhan kemandirian mereka dan tentunya ini berdampak buruk. Anak-anak yang terlalu dimanjakan cenderung sangat bergantung pada orang lain guna memenuhi kebutuhan emosional dan praktis sehari-hari.
Akibatnya, mereka merasa sering kesulitan mengembangkan kepercayaan diri yang kuat dan kemampuan mengambil keputusan sendiri. Dr. Hafeez menjelaskan bahwa kemandirian dan kepercayaan diri biasanya terbentuk lewat pengalaman langsung dalam menghadapi tantangan, membuat pilihan, dan memecahkan masalah.
2. Egois
Walaupun ini terdengar begitu kasar, namun tindakan tersebut mencerminkan sifat umum anak-anak yang dulu dimanjakan. Anak-anak yang tumbuh dengan perhatian berlebihan cenderung lebih fokus pada kepentingan mereka sendiri dan kurang mempertimbangkan perasaan atau pilihan orang lain.
Patel menjelaskan bahwa perilaku ini adalah karakteristik yang sering muncul pada anak-anak yang tidak terbiasa mempertimbangkan dampak tindakan mereka terhadap orang lain, sehingga mereka cenderung menjadi orang dewasa yang kurang empatik.
3. Kurangnya empati
Salah satu dampak jangka panjang dari memanjakan anak, yakni kesulitan dalam berkomunikasi dan berempati. Saat anak-anak terlalu terbiasa memperoleh apa yang mereka harapkan tanpa harus bernegosiasi atau berkompromi, mereka cenderung mengembangkan sikap egois.
Seperti yang dipaparkan oleh Dr. Vaughan, bahwa kurangnya pengalaman dalam menghadapi masalah dan perbedaan pendapat membuat mereka kesulitan dalam memahami perspektif orang lain. Akibatnya, mereka mungkin mengalami kesusahan guna membangun hubungan yang sehat dengan orang lain.
4. Keterampilan komunikasi yang buruk
Perasaan menjadi pusat perhatian sejak kecil dapat membuat anak-anak sulit menerima penolakan atau kritik. Mereka mungkin merasa bahwa mereka berhak atas segala sesuatu dan tidak perlu bertanggung jawab atas tindakan mereka. Hal ini bisa mengakibatkan mereka tumbuh menjadi orang dewasa yang narsistik dan manipulatif.
Dr. Vaughan menerangkan bahwa anak-anak yang tidak diajarkan untuk berkomunikasi dengan sopan dan santun cenderung memakai kata-kata sebagai senjata untuk menyakiti orang lain. Dengan kata lain, memanjakan anak bisa menghambat perkembangan moral dan etika mereka.
5. Tidak mampu mengatur emosi
Mendidik anak membutuhkan kesabaran dan konsistensi. Meskipun terkadang sulit untuk melihat anak kita kesal atau sedih, kita perlu mengingat bahwa kita sedang membantunya tumbuh menjadi orang yang mandiri dan bertanggung jawab.
Dengan mengajarkan anak-anak menghadapi tantangan dan mengatasi kesulitan, kita membekali mereka dengan keterampilan yang diperlukan agar sukses dalam hidup. Dr. Vaughan menegaskan bahwa anak-anak yang selalu mendapatkan apa yang mereka inginkan akan kurang siap dalam menghadapi realitas kehidupan yang tidak selalu sesuai dengan harapan mereka.
6. Kurangnya disiplin diri
Struktur dan batasan yang jelas membantu anak-anak mengembangkan rasa percaya diri dan kemandirian. Ketika anak-anak tahu apa yang diharapkan dari mereka dan memiliki kebebasan untuk membuat pilihan dalam batasan yang sudah ditentukan, mereka belajar bertanggung jawab atas tindakan mereka.
Menurut Dr. Vaughan, kurangnya batasan di masa kanak-kanak dapat menghambat perkembangan diri anak. Misalnya, orang dewasa yang tidak mempunyai disiplin diri mungkin akan menghadapi kesulitan guna mencapai tujuan mereka dan menghadapi tantangan hidup.
7. Intoleransi terhadap perbedaan
Orang yang terbiasa memperoleh apa yang mereka inginkan sejak kecil umumnya kesulitan dalam membangun dan mempertahankan hubungan yang sehat. Mereka mungkin memiliki ekspektasi yang tidak realistis bahwa orang lain akan senantiasa memenuhi keinginan mereka.
Dr. Vaughan telah menjelaskan, kurangnya pengalaman guna mengelola konflik dan perselisihan bisa menghambat kemampuan seseorang untuk berinteraksi secara efektif dengan orang lain. Mereka mungkin kesusahan berkompromi, mendengarkan sudut pandang orang lain, dan mengatasi perbedaan pendapat.
8. Menuntut
Pola asuh yang terlalu permisif mampu membentuk pola perilaku yang bermasalah pada anak. Anak-anak yang senantiasa mendapatkan apa yang mereka harapkan cenderung mengembangkan sikap yang berpusat pada diri sendiri dan kurang peduli dengan kebutuhan orang lain.
Mereka mungkin susah berempati dan memahami perspektif orang lain. Menurut Dr. Klosk, kebiasaan ini dapat membuat mereka menjadi terlalu suka mengontrol pada hubungan mereka. Mereka mungkin berupaya mengatur orang lain supaya sesuai dengan keinginan mereka, tanpa mempertimbangkan perasaan atau kebutuhan orang lain.
9. Susah berbagi
Anak-anak yang selalu menjadi pusat perhatian mungkin kesulitan memahami konsep tim dan kolaborasi. Mereka mungkin merasa bahwa mereka tidak perlu bergantung pada orang lain demi mencapai tujuan mereka. Akibatnya, mereka mungkin kurang termotivasi untuk berkontribusi pada kesuksesan kelompok.
Seperti yang dijelaskan oleh Dr. Patel, orang-orang ini cenderung lebih individualistis dan kurang peduli dengan kesejahteraan orang lain. Keadaan ini dapat menghambat kemampuan mereka dalam membangun hubungan yang saling menguntungkan.
10. Cemas
Pengalaman merupakan guru terbaik. Anak-anak perlu diizinkan untuk menghadapi tantangan dan membuat kesalahan supaya mereka bisa belajar dari pengalaman mereka. Sayangnya, anak-anak yang terlalu dimanjakan biasanya akan terlindungi dari kesulitan.
Akibatnya, mereka mungkin tidak mempunyai keterampilan yang diperlukan guna mengatasi masalah yang kompleks. Dr. Klosk memaparkan bahwa kebiasaan ini dapat menimbulkan mereka merasa tidak mampu dan kehilangan kepercayaan diri.
11. Mencintai
Pola asuh yang ideal adalah keseimbangan antara kasih sayang, disiplin, dan kebebasan. Walaupun terlalu memanjakan anak dapat menyebabkan masalah, kamu perlu memahami bahwa anak-anak membutuhkan cinta dan dukungan dari orang tua mereka.
Dr. Klosk menerangkan jika anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan yang penuh kasih sayang, maka cenderung tumbuh menjadi sosok yang baik hati dan penyayang. Sayangnya, kamu perlu memperhatikan bahwa kasih sayang harus diimbangi dengan batasan yang jelas dan konsisten.