Jawapos.com – Orang tua memiliki peran yang sangat penting dalam tumbuh kembang anak. Namun, seringkali pola asuh orang tua dalam mendidik anak menggunakan cara yang salah, sehingga berdampak buruk terhadap perkembangan kepribadian sang anak dalam jangka waktu yang panjang.
Sindrom anak emas (golden child syndrome) merupakan salah satu hasil dari pola asuh orang tua yang buruk. Secara umum, sindrom ini adalah suatu kondisi ketika sang anak diharapkan bisa melakukan segala hal baik sesuai ekspektasi orang tuanya.
Secara tidak langsung, orang tua mengharapkan sang anak melakukan segala hal dengan benar tanpa kesalahan sekecil apa pun. Akibatnya, sang anak akan merasa terbebani lantaran terlalu takut akan kegagalan.
Lantas, bagaimana ciri-ciri anak mengalami golden child syndrome? Merangkum dari Best Life dan Ideapod, berikut karakteristik selengkapnya.
1. Terlalu Taat Pada Aturan
Anak emas tumbuh besar di lingkungan yang mengharuskan mereka mengikuti aturan dan hidup sesuai harapan orang tuanya. Dengan begitu, maka tak heran jika sang anak cenderung terlalu taat pada aturan dan sangat mendukung otoritas.
Meskipun aturan tersebut bersifat buruk untuknya, namun anak yang memiliki golden child syndrome tetap menaati dan mendukungnya. Sejak kecil, mereka dipaksa untuk selalu mengikuti perintah yang diberikan pada mereka dan beranggapan bahwa hal itu merupakan yang terbaik untuk mereka.
2. Memiliki Jiwa Perfeksionis dan Kompetitif
Karakteristik lain yang sering dijumpai pada anak emas adalah jiwa perfeksionis dan kompetitif yang tinggi. Mereka memiliki obsesi untuk mengungguli orang-orang di sekitar mereka.
Mereka cenderung berusaha untuk menjadi yang paling ‘sempurna’ dengan mengalahkan orang-orang yang dianggap sebagai saingan untuk mendapatkan validasi dan pujian dari orang tuanya. Inilah salah satu alasan mengapa anak emas biasanya berprestasi dan memiliki nilai akademik yang tinggi di sekolah.
3. Selalu Dibandingkan dengan Saudaranya
Anak emas biasanya menjadi anak kesayangan orang tuanya karena dianggap lebih ‘sempurna’ dari saudaranya. Hal ini menyebabkan saudaranya yang lain tidak mendapatkan perlakuan dan kasih sayang yang sama serta sering dibanding-bandingkan dengan anak emas.
Dalam jangka waktu yang lama, hal ini tentu akan berdampak buruk karena bisa mengikis hubungan antar saudara yang berujung pada kompetisi dan kecemburuan.
4. Tidak Bisa Menerima Kekalahan Atau Kegagalan
Hidup dengan harapan dan ekspektasi orang tuanya, anak emas selalu ingin menjadi yang terbaik dan cenderung takut akan kekalahan atau kegagalan karena tidak ingin mengecewakan orang tua.
Saat anak emas mengalami kegagalan atau kekalahan, mereka akan sangat marah dan merasa kecewa dengan dirinya sendiri. Biasanya, sang anak akan lebih sensitif dan stres karena hal tersebut.
5. Mudah Iri Melihat Pencapaian Orang Lain
Memiliki jiwa kompetitif dan perfeksionis, anak emas cenderung terobsesi menjadikan orang-orang sekitarnya sebagai saingan. Rasa takut yang besar akan kegagalan membuat mereka cemburu dengan keberhasilan orang lain, bahkan saudaranya sendiri.
Sebagai anak yang terus-menerus didorong untuk menjadi yang paling ‘sempurna’, anak emas tidak suka saat orang lain menjadi pusat perhatian.
6. Merasa ‘Spesial’ dan Narsistik
Sejak kecil, anak emas sering menjadi pusat perhatian dan dihujani oleh pujian yang berlebihan dari orang tuanya. Mereka memiliki ego yang tinggi dan selalu merasa ‘spesial’ karena menganggap diri mereka lebih superior dibanding orang lain.
7. Kesehatan Mental yang Menurun
Ekspektasi tinggi yang dapat membebani anak emas bisa berdampak buruk pada kesehatan mental. Mereka lebih rentan mengalami stres, kecemasan, bahkan depresi jika tidak berhasil mencapai keinginan orang tuanya.