JawaPos.com - Baik itu dari anggota keluarga, rekan kerja, atau bahkan orang asing, pasti kamu pernah mendengar kata-kata yang menyakitkan. Pernahkah kamu terlibat dalam percakapan yang terasa biasa saja, tanpa ada topik yang kontroversial, namun tiba-tiba seseorang mengatakan sesuatu yang menyentuh perasaanmu?
Baik itu ucapan kasar dari sahabat dekat, saudara, atasan, atau orang asing, hampir dipastikan kamu merasa terkejut atau terguncang oleh kata-kata tersebut. Sebuah studi pada tahun 2016 menunjukkan bahwa usai mengalami atau menyaksikan kejadian tersebut, kita cenderung merespons dengan sikap kasar.
Penelitian sebelumnya juga mengungkapkan bahwa hal ini bisa mengurangi kreativitas, meningkatkan agresivitas, dan menurunkan kinerja kita di tempat kerja. Dikutip dari psychcentral.com, berikut ini beberapa cara menghadapi orang yang berkomentar negatif supaya tetap dalam batasan.
1. Berikan jeda saat berkumpul
Dalam kehidupan yang serba cepat, kita sering terburu-buru merespons, terutama saat dihadapkan pada kata-kata menyakitkan. Reaksi spontan biasanya muncul tanpa dipikirkan. Dengan meluangkan waktu sejenak untuk bernapas dan merenung bisa membantu kita merespons secara lebih bijaksana.
Psikolog Aguirre menjelaskan bahwa reaksi impulsif dipicu oleh emosi, bukan pemikiran rasional. Dengan jeda sejenak, kita memberi ruang guna mengelola perasaan dan melihat situasi lebih jelas. Mengendalikan impuls memberi kesempatan untuk berkomunikasi lebih efektif, memilih kata yang tepat, dan mengubah konflik agar lebih memahami.
2. Melepaskan
Beberapa orang memang senang menciptakan konflik. Mereka mungkin sengaja mencari-cari kesalahan orang lain atau melontarkan komentar yang menyakitkan hanya agar mendapatkan perhatian atau reaksi. Dengan memahami motivasi di balik perilaku negatif ini, kita dapat lebih mudah melepaskan diri dari pengaruhnya.
Saat kita menyadari bahwa tujuan utama orang tersebut adalah untuk memancing reaksi, kita tidak perlu merasa terancam atau tersinggung. Sebaliknya, kita bisa memilih agar tetap tenang dan tidak terlibat. Dengan begitu, kita tidak hanya melindungi diri sendiri, tetapi juga menyadarkan orang tersebut bahwa perilakunya tidak akan berhasil.
3. Advokasi kepada diri sendiri
Advokasi diri bukan hanya tentang melindungi diri sendiri, namun juga membangun hubungan yang lebih baik dengan orang lain. Ketika kita berani mengungkapkan perasaan dan kebutuhan, kita memberikan kesempatan kepada orang lain dalam memahami kita dengan lebih baik.
Tentu saja, advokasi diri membutuhkan keberanian. Namun, dengan berlatih secara konsisten, kita dapat menjadi lebih percaya diri dalam menyampaikan pendapat dan perasaan kita. Ingatlah, tujuan utama dari advokasi diri adalah guna mencapai kesepahaman dan menemukan solusi bersama, bukan untuk memulai pertengkaran.
4. Menetapkan batasan
Menetapkan batasan juga merupakan bentuk penghargaan terhadap diri sendiri. Saat kita berani menyatakan apa yang dibutuhkan dan diharapkan, kita menunjukkan kepada orang lain bahwa kita menghargai diri sendiri dan tidak akan membiarkan diri kita diperlakukan dengan semena-mena.
Dengan demikian, batasan yang jelas bisa membantu membangun rasa saling menghormati dalam sebuah hubungan. Ketika orang lain memahami dan menghormati batasan kita, mereka akan lebih cenderung memperlakukan kita dengan baik.
5. Jangan buang napas
Membatasi interaksi dengan orang-orang yang sulit diajak berkomunikasi tidak hanya menghemat waktu dan energi, tetapi juga penting demi menjaga kesehatan mental dan emosional kita. Berinteraksi dengan orang yang negatif atau toxic bisa memicu stres, kecemasan, bahkan depresi.
Aguirre menyarankan kita supaya fokus pada apa yang dapat kita kendalikan. Apabila seseorang terus-menerus membuat kita merasa tidak nyaman atau tidak dihargai, kita berhak untuk membatasi interaksi dengan mereka.
6. Memanfaatkan isyarat nonverbal
Kadang-kadang, cara terbaik merespons sebuah situasi bukanlah dengan kata-kata, melainkan dengan memakai isyarat nonverbal. Dalam beberapa kasus, kami bisa mencoba menunjukkan kepada orang tersebut bagaimana kata-kata mereka memengaruhi perasaanmu tanpa harus mengucapkan sesuatu.
Contohnya, kamu bisa menggelengkan kepala, berpaling, berjalan menjauh, meninggalkan ruangan, atau bahkan menampilkan ekspresi wajah yang menggambarkan rasa sakit. Isyarat-isyarat ini bisa menjadi cara yang kuat guna menyampaikan perasaanmu tanpa harus mengatakannya secara langsung.
7. Mengajukan pertanyaan
Terkadang, menghadapi situasi yang tidak menyenangkan dengan konfrontasi langsung justru dapat memperburuk keadaan. Jika kamu merasa tidak nyaman dengan pendekatan yang langsung, ada cara lain yang lebih halus namun tetap efektif dalam menyampaikan pesanmu, yaitu dengan mengajukan pertanyaan.
Lurie menjelaskan bahwa pertanyaan ‘apa’ memiliki kekuatan dalam mengubah dinamika percakapan. Dengan mengajukan pertanyaan, kita tidak hanya meminta klarifikasi, tetapi juga mendorong orang yang bersangkutan untuk berpikir lebih dalam mengenai apa yang mereka katakan.