JawaPos.com – Pada dasarnya jika seseorang selalu menjelek-jelekkan orang lain maka sangat mudah untuk menganggap mereka bukan orang baik.
Pasalnya mereka sebenarnya menunjukkan rasa tidak aman sehingga sering meremehkan orang lain.
Lantas apa saja sebenarnya tanda seseorang yang selalu menjelek-jelekkan orang lain?
Dalam artikel ini kita akan membahas mengenai beberapa ciri seseorang yang selalu menjelek-jelekkan orang lain sebagaimana dilansir dari laman The Vessel, Jumat (30/8) sebagai berikut :
1. Mereka tidak aman
Salah satu ciri orang yang suka menjelek-jelekkan orang lain adalah merasa dirinya tidak aman. Artinya mereka sering merasa terancam oleh keberhasilan, kebahagiaan atau kepercayaan diri orang lain. Jadi mereka merendahkan dan mengkritik orang lain agar lebih unggul.
Namun mereka cenderung tidak menyadari bahwa mereka melakukannya. Hal ini dikenal sebagai mekanisme pertahanan yaitu cara mereka untuk melindungi harga diri mereka yang rapuh.
2. Mereka mengharapkan perhatian
Mereka yang suka menjelek-jelekkan orang lain cenderung sangat membutuhkan perhatian. Mereka menggunakan kata-kata kasar atau drama untuk membuat perhatian terpusat pada diri mereka sendiri.
3. Mereka kesulitan dengan empati
Pada dasarnya memahami dan berbagi perasaan orang lain bukanlah keahlian semua orang. Bagi mereka yang suka mengumpat maka hal itu sering kali menjadi tantangan besar.
Sebuah penelitian dalam psikologi menunjukkan bahwa orang yang terus-menerus meremehkan orang lain sering kali kurang memiliki empati.
Mereka kesulitan menempatkan diri pada posisi orang lain untuk merasakan apa yang mereka rasakan. Keterputusan ini membuat mereka lebih mudah mengabaikan dampak kata-kata kasar mereka terhadap orang lain.
4. Mereka menikmati perjalanan kekuasaan
Dengan meremehkan orang lain, mereka merasa seolah-olah telah menempatkan diri mereka pada posisi berwenang atau berkuasa. Kata-kata kasar mereka yang mana di dalam pikiran mereka itu adalah alat untuk membangun kendali dan meraih posisi yang lebih unggul.
Perilaku ini sering kali didorong oleh kebutuhan mendalam untuk menegaskan dominasi dan meningkatkan harga diri mereka.
Sebuah studi yang diterbitkan dalam Jurnal Kepribadian dan Psikologi Sosial menunjukkan bahwa individu yang terlibat dalam perilaku merendahkan orang lain sering kali melakukannya untuk mengimbangi rasa tidak aman mereka sendiri dan menggunakannya sebagai cara untuk meningkatkan harga diri mereka.
5. Mereka tidak bahagia dengan kehidupan mereka sendiri
Orang-orang yang suka menjelek-jelekkan orang lain maka mereka biasanya tidak puas dengan keadaan mereka sendiri. Mereka kerap terjebak dalam pekerjaan yang tidak mereka sukai atau mereka sedang menghadapi masalah hubungan.
Bahkan mereka menggunakan ejekan tersebut sebagai cara untuk mengalihkan perhatian mereka dari masalah mereka sendiri. Mereka lebih mudah untuk fokus pada kekurangan orang lain daripada menghadapi kekurangan diri sendiri.
6. Mereka sangat cerdas
Hal yang paling mengejutkan terkait orang yang suka menjelek-jelekkan orang lain adalah mereka sangat cerdas. Bukan menggunakan pikiran tajam mereka untuk hal-hal positif namun mereka malah menggunakannya untuk memanipulasi dan merendahkan orang lain.
Intinya kecerdasan tanpa kebaikan tidak lebih dari sekadar potensi yang sia-sia.
7. Mereka sering merasa iri
Iri hati memang emosi yang buruk dan sering kali disertai dengan rasa dendam yang mendalam. Bukan hal yang aneh jika beberapa orang yang paling ahli dalam membicarakan hal buruk menunjukkan mereka sangat iri dengan orang yang mereka remehkan.
Alih-alih membiarkan rasa iri memotivasi mereka untuk berkembang atau belajar namun mereka memilih untuk menjatuhkan orang lain. Itulah cara mereka bergulat dengan monster bermata hijau.
Sebuah studi yang diterbitkan dalam Journal of Personality and Social Psychology menunjukkan bahwa rasa iri dapat menyebabkan perilaku destruktif sebagai cara mengatasi perasaan tidak mampu.
8. Mereka membutuhkan pertumbuhan pribadi
Inti dari orang suka bicara kasar adalah orang yang masih harus banyak belajar. Mereka perlu belajar menangani rasa tidak aman mereka, menangani emosi mereka dengan cara yang lebih sehat dan menghargai orang lain bahkan saat mereka merasa terancam atau tidak mampu.***