← Beranda

Anak yang Tumbuh dengan Orang Tua yang Terlalu Mengontrol Sering Menampilkan 8 Perilaku Ini Saat Dewasa, Apa Saja?

Irfan FerdiansyahSabtu, 10 Agustus 2024 | 05.45 WIB
Ilustrasi anak yang terlalu dikontrol oleh orang tua. (Freepik)

JawaPos.com - Masa kanak-kanak adalah periode yang membentuk dasar dari siapa kita sebagai individu di masa dewasa. Orang tua berperan sebagai pembimbing, pelindung, dan pemberi kasih sayang yang membentuk pola pikir, emosi, dan perilaku anak-anak mereka.

Namun, ketika kontrol orang tua menjadi terlalu ketat, dampaknya bisa sangat dalam dan bertahan hingga dewasa. Anak-anak yang tumbuh dengan orang tua yang terlalu mengontrol sering kali mengalami kesulitan untuk mengekspresikan diri secara bebas dan mengembangkan kemandirian.

Dilansir dari Ideapod pada Jumat (9/8), terdapat delapan perilaku umum yang sering muncul pada orang dewasa yang tumbuh di bawah bayang-bayang kontrol orang tua yang berlebihan.

1. Kesulitan Membuat Keputusan

Orang dewasa yang tumbuh dengan orang tua yang terlalu mengontrol sering kali merasa kesulitan dalam membuat keputusan, baik itu keputusan kecil maupun besar.

Hal ini terjadi karena selama masa kanak-kanak, setiap aspek kehidupan mereka diatur oleh orang tua. Mereka mungkin tidak pernah diberi kesempatan untuk membuat keputusan sendiri atau mengatasi konsekuensi dari keputusan mereka.

Akibatnya, ketika mereka dewasa, mereka cenderung ragu-ragu atau bahkan takut dalam mengambil keputusan, khawatir akan melakukan kesalahan atau mendapatkan penilaian dari orang lain.

2. Kurangnya Rasa Percaya Diri

Orang tua yang mengontrol cenderung meremehkan kemampuan anak-anak mereka untuk berpikir dan bertindak sendiri.

Mereka sering kali memberikan pesan implisit bahwa anak mereka tidak cukup kompeten atau cerdas untuk membuat pilihan yang benar. Akibatnya, anak-anak ini tumbuh menjadi orang dewasa yang kurang percaya diri.

Mereka mungkin meragukan kemampuan mereka sendiri dan merasa tidak mampu menghadapi tantangan hidup tanpa bimbingan atau persetujuan dari orang lain.

3. Kebutuhan akan Persetujuan dari Orang Lain

Karena kontrol orang tua yang terlalu ketat, orang dewasa ini sering kali memiliki kebutuhan yang kuat untuk mendapatkan persetujuan dari orang lain, terutama dari figur otoritas.

Mereka mungkin merasa cemas jika tidak mendapatkan pengakuan atau persetujuan dari atasan, pasangan, atau teman-teman mereka. Kebutuhan ini muncul karena mereka terbiasa mencari persetujuan dari orang tua mereka sepanjang masa kanak-kanak, dan kebiasaan ini terbawa hingga dewasa.

4. Kecenderungan Menjadi Perfeksionis

Perfeksionisme adalah salah satu mekanisme pertahanan yang berkembang sebagai respons terhadap ekspektasi yang tinggi dari orang tua yang mengontrol.

Orang dewasa yang tumbuh di bawah tekanan untuk selalu memenuhi standar yang ketat sering kali merasa bahwa mereka harus sempurna dalam segala hal yang mereka lakukan.

Mereka mungkin takut gagal atau takut mengecewakan orang lain, sehingga mereka berusaha keras untuk mencapai kesempurnaan, bahkan jika itu berarti mengorbankan kebahagiaan dan kesejahteraan mereka sendiri.

5. Kesulitan dalam Menetapkan Batasan

Anak-anak yang tumbuh dengan orang tua yang terlalu mengontrol sering kali tidak diajarkan cara menetapkan batasan pribadi.

Orang tua yang mengontrol cenderung melanggar batasan anak mereka, baik secara fisik maupun emosional. Sebagai orang dewasa, mereka mungkin merasa kesulitan untuk menetapkan batasan dalam hubungan mereka, baik itu dalam konteks profesional, sosial, maupun pribadi.

Mereka mungkin merasa bersalah atau tidak nyaman ketika harus mengatakan "tidak" atau meminta ruang pribadi.

6. Kecemasan Berlebih

Tumbuh di bawah pengawasan yang ketat sering kali menyebabkan tingkat kecemasan yang tinggi pada anak-anak, dan ini bisa berlanjut hingga dewasa.

Orang dewasa yang mengalami kontrol berlebihan di masa kecil mungkin mengalami kecemasan yang berlebihan dalam situasi yang menuntut mereka untuk tampil atau mengambil risiko.

Mereka mungkin merasa cemas tentang masa depan, takut akan kegagalan, atau khawatir bahwa mereka tidak akan mampu memenuhi harapan orang lain.

7. Kesulitan dalam Menjalin Hubungan yang Sehat

Orang dewasa yang tumbuh dengan orang tua yang mengontrol sering kali mengalami kesulitan dalam menjalin hubungan yang sehat.

Mereka mungkin mencari pasangan yang juga mengontrol, karena itu adalah dinamika yang mereka kenal dan terbiasa.

Di sisi lain, mereka mungkin menjadi sangat mandiri dan menghindari hubungan yang dekat karena takut kehilangan kebebasan mereka. Kedua pola ini bisa menjadi penghalang dalam membangun hubungan yang saling mendukung dan sehat.

8. Ketergantungan pada Orang Lain

Kontrol yang berlebihan dari orang tua dapat menghambat perkembangan kemandirian anak.

Sebagai hasilnya, orang dewasa yang tumbuh dengan orang tua yang terlalu mengontrol mungkin merasa sulit untuk mengandalkan diri sendiri dan cenderung bergantung pada orang lain, baik secara emosional, finansial, maupun dalam pengambilan keputusan.

Mereka mungkin merasa tidak nyaman atau takut jika harus menghadapi tantangan hidup sendiri tanpa dukungan atau panduan dari orang lain.

------------

Orang dewasa yang tumbuh dengan orang tua yang terlalu mengontrol sering kali membawa beban emosional yang berat dari masa kecil mereka.

Perilaku-perilaku yang muncul sebagai hasil dari pola asuh yang terlalu ketat ini bisa sangat membatasi mereka dalam menjalani kehidupan yang bebas dan mandiri. Namun, penting untuk diingat bahwa dengan kesadaran dan dukungan yang tepat, orang-orang ini dapat mulai melepaskan diri dari pola yang merugikan dan membangun kehidupan yang lebih sehat dan memuaskan.

Proses ini mungkin memerlukan waktu dan usaha, tetapi pemulihan dari dampak negatif pengasuhan yang terlalu mengontrol adalah hal yang sangat mungkin dicapai.

EDITOR: Edy Pramana