← Beranda

Aktivitas Sehari-hari ini Dapat Bantu Tanamkan Delayed Gratification pada Anak, Latihan Sabar dan Menunda Kesenangan Demi Mencapai Tujuan

Yasmir JPRabu, 10 Juli 2024 | 00.19 WIB
Ilustrasi parenting yang baik. (Freepik)

JawaPos.com - Memberikan semua yang diinginkan oleh anak tidak melulu dapat bermanfaat positif. Karena dengan menuruti semua permintaannya dengan instan bisa membuat si kecil memiliki sifat tidak sabar dan juga egois.

Atas dasar itu, daripada mengamini semua keinginan anak, akan lebih baik jika si kecil diajarkan tentang delayed gratification sejak usia dini.

Faktanya, mengajarkan anak delayed gratification bisa memberikan banyak manfaat untuk kehidupan masa depan mereka.

Berdasarkan informasi yang dilansir dari situs resmi Pusat Inovasi Psikologi Unpad, Selasa (9/7) menyebutkan, bahwa delayed gratification adalah kemampuan anak menggunakan logikanya, untuk bersabar dan menunda keinginan demi memperoleh hasil yang lebih besar dengan melatih fungsi kognitifnya dalam hal berpikir dan membuat perencanaan.

Dalam proses tersebut, si anak akan belajar mengelola kondisi emosi yang dirasakan ketika menunda keinginan.

Adapun manfaat yang bisa didapatkan oleh anak dengan kebiasaan delayed gratification ini, seperti yang dijelaskan dalam laman LiniSehat yang dikutip, Selasa (9/7), adalah dinilai mempunyai kemampuan sosial, akademis yang lebih baik, si anak lebih fasih secara verbal, berpikir lebih rasional, mampu menghadapi stres, mempunyai daya juang lebih tinggi, serta mampu menentukan tujuan.

Kemampuan untuk menunda kesenangan atau delayed gratification merupakan salah satu bekal yang dibutuhkan untuk mencapai kesuksesan. Oleh karenanya, hal tersebut perlu ditanamkan dan dilatih sejak anak masih belia.

Dilansir dari situs resmi RSJ Bangka Belitung, pada Selasa (9/7), menyebutkan bahwa aktivitas yang dilakukan sehari-hari oleh orang tua dan anak ternyata bisa digunakan sebagai alternatif untuk mengembangkan delayed gratification pada anak, seperti mengajarkan anak untuk mengantri, menabung guna membeli barang yang diinginkan, dan melibatkan anak dalam membuat makanan kesukaannya (memasak bersama).

Hal tersebut memberikan impact yang signifikan terhadap kesabaran anak karena dilakukan bersama orang-orang terdekat.

Bisa juga dilatih melalui interaksi antar anggota keluarga, seperti tidak memotong pembicaraan atau menunggu giliran berbicara, tidak selalu menyetujui keinginan anak dengan membuat batasan yang tegas.

Namun, tetap dapat membuat si kecil mengeksplor kemampuan dirinya sehingga ia dapat belajar bahwa tidak semua keinginannya dapat dikabulkan, tidak semua keinginannya dapat diperoleh meski dengan tantrum sekalipun, dan lain sebagainya.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho