JawaPos.com - Jamu merupakan minuman tradisional yang merupakan warian budaya Nusantara. Hampir semua orang Indonesia mengenal dan mengonsumsi jamu. Selama ini, selain dikenal sebagai obat herbal, jamu juga diidentik dengan minum orang tua.
Ternyata stigma itu mulai bergeser. Menurut studi terbaru oleh PT Herbathos, kalangan muda mulai banyak menggemari minum jamu.
"Hal ini merupakan tren positif yang menunjukkan apresiasi anak muda terhadap jamu sebagai warisan budaya yang berharga dan gaya hidup alami," ungkap Direktur Utama PT Herbathos Ahmad Zaini kepada wartawan di Jakarta, Senin (27/5).
Dikatakannya, data konsumsi jamu yang meningkat 20 persen pada kuartal pertama tahun ini, di antaranya ada kontribusi dari konsumen kalangan usia 18-35 tahun. Artinya itu mereka dari kalangan generasi milenial dan generasi Z.
Dengan progres tersebut, kata Ahmad Zaini, PT Herbathos terus memperkenalkan jamu kepada generasi muda. Dia meyakini ada peluang besar untuk mengintegrasikan jamu dalam kehidupan anak muda. Tentunya dengan cara menghadirkan pendekatan yang lebih modern dan inovatif.
Cara pendekatan jamu agar diterima oleh anak muda dengan menginovasikan tampilan atau visualisasi jamu lebih modern. Inovasi seperti itu akan mendorong pembelian dari generasi muda. Hal itu terbukti dari produk-produk unggulan Herbathos seperti Etawalin, Freshmag, Zymuno, Freshvision, Etawaku Platinum, dan Bio Insuleaf.
Ahmad Zaini menyebutkan, pengetahuan tentang jamu yang diwariskan dari keluarga, terutama ibu. Pihak keluarga menilai bahwa jamu itu adalah aset. Jamu merupakan cara menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh.
Dari sisi lain, hasil survei Herbathos, anak muda mengaku jamu itu mengeluarkan aroma kurang menyenangkan dan rasa pahit. Meski begitu mereka menyarankan jamu digabungkan dengan minuman atau bahan lain.
"Kami memahami preferensi dan kebiasaan Generasi Z dan Milenial. Kami siap mengintegrasikan jamu ke dalam gaya hidup modern, menciptakan produk yang sesuai dengan kebutuhan dan selera mereka."