JawaPos.com – Ada istilah yang mengatakan, orang yang selalu ceria dan tertawa paling kencang, sebenarnya dia sedang menyimpan luka serta kesepian mendalam.
Setujukah Anda dengan pendapat tersebut?
Jika iya, apakah Anda pernah mendengar istilah sad clown paradox?
Baca Juga: 15 Kelemahan Orang Ekstrovert, Tantangan di Balik Kepribadian yang Terbuka dan Interaksi Sosial
Sad clown paradox atau bahasa Indonesianya paradoks badut sedih, adalah hubungan kontradiktif antara komedi dan gangguan mental seperti depresi dan kecemasan. Dikutip dari laman DBPedia.
Dimana, sebuah komedi berkembang sebagai pelepas ketegangan, menghilangkan perasaan kemarahan fisik yang tertekan melalui pelampiasan verbal.
Serangkaian eksperimen psikologis yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1981, oleh psikolog Seymour Fisher menunjukkan, ciri-ciri sad clown paradox hanya dimiliki oleh komedian dan tidak dimiliki oleh aktor biasa.
Menurut Seymour, tertawa dapat berkembang sebagai media untuk mempertahankan diri, melepaskan individu dari segala kesulitan yang dihadapi, hingga memungkinkan adanya kendali atas situasi yang tidak nyaman.
Sad clown paradox dicirikan oleh temperamen siklotimia (gangguan mood yang menyebabkan naik turunnya emosi), dan mendorong terciptanya humor ringan, meskipun ada gejolak batin.
Sebenarnya, apa alasan yang mempengaruhi terjadinya sad clown paradox pada seseorang?
Baca Juga: Karakteristik ESFP, Mengenal Kepribadian Pemilik Julukan sang Penghibur dalam MBTI 16 Personality
Melansir dari Radar Jogja (Jawa Pos Grup), ada empat penjelasan mengapa seseorang bisa menjadi sad clown paradox.
1. Menutupi permasalahan
Biasanya, orang sad clown paradox tidak mau ada orang lain mengetahui masalah apa yang sedang dihadapi.
Pada akhirnya, mereka akan berusaha tertawa, ceria, dan bercanda seakan-akan tidak terjadi apa-apa, tetapi di dalam hatinya tetap merasa sedih.
2. Untuk menghibur diri sendiri
Orang yang tertawa paling keras, cenderung sedang berusaha untuk menghibur dirinya sendiri.
Hal tersebut dipercaya, untuk melupakan masalah yang sedang dihadapi sejenak.
3. Tidak mau menyusahkan orang lain
Orang dengan sad clown paradox, terjadi karena mereka tidak ingin merepotkan orang lain atau menumpahkan masalahnya kepada orang.
Dibandingkan bercerita, mereka lebih memilih untuk menutupinya dengan selalu menunjukkan sisi cerianya, agar orang disekitarnya melihat bahwa ia baik-baik saja.
Baca Juga: Mengenal Kepribadian ESTP, Kerap Mendapat Julukan Sebagai Sang Pengusaha di 16 Personality MBTI
4. Butuh perhatian
Orang yang selalu ceria dan tertawa paling keras, pastinya akan mudah menjadi pusat perhatian
Hal tersebut sering terjadi, pada sad clown paradox yang sedang butuh perhatian untuk ditanya mengenai kondisinya saat ini.
Dari keempat alasan diatas, mengapa orang yang terlalu sering tertawa dan ceria adalah orang yang kesepian, itu benar terjadi dan ada.
Tapi, perlu digaris bawahi, tidak semua orang yang ceria mengalami sad clown paradox. Ada orang yang benar-benar selalu ceria, terlepas dari permasalahan di hidupnya.