Aplikasi payet pun masih menjadi ciri utama sepatu PVRA dalam koleksi ini. Namun, kini duo desainer Kara Nugroho dan Putri Katianda mencoba bermain-main dengan payet yang edgy sesuai dengan busananya.
"Koleksi ini sengaja kami buat dengan sangat edgy. Itu jadi tantangan sih untuk kami menggabungkan tren," kata mereka dalam konferensi pers, Minggu (28/10).
Koleksi Natalia Kiantoro
Menghadirkan lebih dari 20 look di atas runway. Didominasi warna hitam, biru dongker, hijau lumut, serta terakota. Koleksi pertama muncul dengan jumpsuit yang edgy.
Lalu dilanjutkan dengan rok dan atasan warna hitam serta biru dongker. Hadir pula celana biru dongker dan atasan hijau lumut. Rata-rata cela 7/8 dan 3/4 menjadi pilihan koleksi.
Tak hanya itu, busana edgy juga ditampilkan dalam koleksi busana warna serba putih semi blazer serta celana dan jaket kulit warna hitam. Tak ketinggalan mini dress dan mide dress juga menjadi pilihan.
Untuk tampilan lebih feminin, ada pilihan koleksi lainnya berupa dress satu lengan. Dan hampir seluruhnya didominasi dengan bahan organza dan brocade.
2. PVRA
PVRA selalu konsisten dengan bahan payet dan manik-manik. Didirikan pada April 2015, PVRA didirikan oleh Kara Nugroho dan Putri Katianda. Nama PVRA adalah nama pendek dari nama panggilan mereka, Putri dan Kara. Fokus sandal manik-manik menjadi khas mereka.
Sandal buatan tangan itu dipadukan dengan kulit pilihan tangan dan pengaturan manik-manik tiga dimensi. Pada ajang JFW 2020, koleksi PVRA yang ditampilkan lebih menonjolkan manil-manik 2-4 layer di seluruh sisi sandal dan sepatu. Total sepatu dan sandal yang ditampilkan sekitar 16 koleksi.
Sedangkan pilihan alas kaki yang ditawarkan terdiri dari sandal, sepatu sandal dengan tali samping dan belakang, serta sepatu dengan heels sekitar 3-5 centimeter. Ada pula sepatu dengan bahan velvet. Manik-manik yang ditawarkan didominasi dengan warna biru dongker, terakota, rose, oranye dan cokelat.