← Beranda

3 Catatan Evaluasi Pekan Mode Tanah Air dan Dunia 2018

Nurul Adriyana SalbiahJumat, 28 Desember 2018 | 01.00 WIB
Brandon Maxwell memilih dekorasi yang terinspirasi dari Car Club di Manhattan.

JawaPos.com - Dunia fashion selalu berkembang dan kreatif. Tiap tahun pasti ada saja koleksi terbaik yang ditampilkan dalam pagelaran pekan mode baik di Tanah Air maupun dunia. Sebut saja perhelatan tahunan seperti Jakarta Fashion Week, Indonesia Fashion Week, New York Fashion Week, dan Paris Fashion Week.


Para desainer di Indonesia pun makin membanggakan. Tak hanya di dalam negeri, mereka juga ikut berkiprah dalam kancah pekan mode internasional. Di tahun 2018 kali ini, pekan mode di Indonesia hampir menunjukkan benang merah atau highlight yang sama, yaitu Kebhinekaan. Semangat persatuan dan cinta produk dalam negeri terus digaungkan dalam balutan fashion.


Berikut catatan pekan mode dunia dan Indonesia


Indonesia Fashion Week


Ajang tahunan bergengsi perhelatan fashion Indonesia Fashion Week 2018 digelar 28 Maret hingga 1 April 2018 lalu. Ada yang berbeda, tahun ini nuansa 3 kekayaan bangsa dipadukan menjadi satu dengan tema Cultural Identity. Mengusung tema itu, sebuah konsep yang menjadikan tujuan wisata sebagai inspirasi fashion. Untuk itu IFW 2018 mengangkat budaya dari tiha kawasan sebagai sorotan utama yaitu Danau Toba di Tamah Batak, Borobudur di Jawa Tengah, dan Labuan Bajo di Nusa Tenggara Timur. Sebagai pagelaran fashion terbesar nasional, IFW 2018 tahun ini berkolaborasi dengan 200 perancang mode (lokal dan internasional), 460 peserta pameran tekstil, workshop, dan kuliner.


Jakarta Fashion Week


Jakarta Fashion Week menyelenggarakan selebrasinya yang ke-sebelas sepanjang 20-26 Oktober 2018 di Senayan City, Jakarta. Selama sepekan, lebih dari 200 desainer Indonesia dan mancanegara menampilkan koleksi terbaik mereka di Jakarta Fashion Week 2019. Kolaborasi menjadi kata kunci tahun ini. Menggabungkan berbagai elemen menjadi kesatuan yang
saling memperkaya seakan sudah menjadi lebur dalam komitmen pekan mode terbesar di Asia Tenggara ini. Ajang itu memperkaya khasanah kreasi melalui kolaborasi lintas batas negara, industri, generasi, bahkan juga lintas komunitas. Tekad membawa bakat-bakat mode bangsa ke kancah internasional tidak pernah surut. Hal ini ditunjukkan dengan kemitraan yang dijalin secara berkelanjutan dengan mitra-mitra internasional.


New York Fashion Week


Merupakan salah satu pekan mode terbesar di dunia setelah Milan, Paris, dan London. Tak sedikit pula desainer Tanah Air yang ikut serta dalam ajang New York Fashion Week.  Misalnya, sulam karawo yang ditampilkan oleh desainer Yurita dan mempromosikannya di New York Fashion Week. Berbeda dengan di Indonesia, New York Fashion Week digelar satu tahun dua kali yaitu setiap Februari dan September. Pekan ini mulai diselenggarakan pada tahun 1943 selama Perang Dunia II.


Paris Fashion Week


Paris Fashion Week menjado ajang bergengsi para desainer dunia. Pusat kota mode dunia itu selalu menampilkan koleksi mengagumkan. Ajang itu digelar setengah tahunan di Paris, Perancis. Tanggal ditentukan oleh Federasi Fashion Perancis sekutar September hingga Oktober.


Banyak pula desainer Tanah Air yang unjuk gigi di sana. Di antaranya bahkan karya busana muslim (modest wear) dari Indonesia Modest Fashion Designers (IMFD). Mereka memboyong para anggota ke panggung Paris Fashion Week 2018 (Fashion Studio). Mereka adalah Jeny Tjahyawati, Lia Afif, Melia Wijaya, Si.Se.Sa, Ratu Anita Soviah dan Nila Baharuddin. Atas semua pekan mode tersebut, Kritikus Mode Sonny Muchlison kepada JawaPos.com baru-baru ini punya catatan evaluasi tersendiri.


Lalu, apa kata kritikus mode mengenai pekan mode sepanjang 2018?


Catatan pada 2018, terdapat beberapa produk fashion yang menyita perhatian dan masih laris di pasaran. Kritikus Mode Sonny Muchlison menilai tahun 2018 setiap desainer berusaha mencari keunikannya sendiri, tidak menjadi follower. 


"Menandakan bahwa tahun 2018 sudah berasa ada kesan individuality, harus punya kekhasan masing-masing. Memilih pakaian tak lagi berdasarkan asumtif kehebohan atau asal viral. Mulai cari identitas yang dimiliki," jelasnya kepada JawaPos.com baru-baru ini.


Lalu berbagai produk fashion yang menjadi viral, menurut Sonny belum tentu dipakai oleh semua orang. Karena itu, jangan asal viral tetapi juga mengutamakan kualitas.


"Viral itu kan sesuatu yang diviralkan biasanya adalah bencana terburuk atau terbaik. Belum tentu semua orang mau pakai," ujarnya.


1. Tema Singularity


Hampir semua desainer yang tampil di pekan mode baik Indonesia dan dunia menampilkan keunikan dan ciri khas masing-masing. Bukan lagi menjadi follower, tetapi masing-masing punya gaya.


"Tema singularity menonjolkan sesuatu yang berbeda. Masing-masing juga menampilkan kisah dan cerita memorabilia masa lalu di balik koleksinya," ungkap Sonny.


2. Gaya Vintage Hingga Futuristik


Beberapa karya yang ditampilkan juga memiliki jeda waktu yang sangat berbeda. Dari mulai gaya masa lalu (vintage) hingga gaya yang sangat futuristik di masa depan. Gaya vintage misalnya seperti gaya kerajaan di zaman Game of Throne, Ratu Elizabeth dan Victoria. Sedangkan gaya futuristik membuat para desainer terinspirasi dari para superhero yang muncul. Misalnya The Avanger, Captain America, Star Wars dan inspirasi lainnya.


"Elegan dengan gaya hirarki masa lalu. Lalu afda juga yang sangat futuristik dengan terinspirasi dari Marvel dan berbagai komik. Era digital membuat dunia tak ada batasan lagi. Tema ini muncul karena di dalam diri manusia masih merindukan seorang pemimpin yang adil dan baik. Terpampang dalam fashion yang rapi, praktis dan elegan," jelas Sonny.


3. Everybody is an Artist


Semua desainer ingin tampil berbeda. Everybody is an artist dalam cara berpakaian. Dalam mendandani dir di era media sosial, setiap orang ingin menampilkan keunikan masing-masing.


"Tentu dipengaruhi dengan era media sosial membuat masing-masing desainer berlomba menampilkan ciri otentik," kata Sonny.

EDITOR: Nurul Adriyana Salbiah