← Beranda

Cantiknya Padu Padan Batik, Tenun, dan Brokat

Mohamad Nur AsikinSenin, 24 April 2017 | 02.11 WIB
Koleksi Yustina Wardhani

JawaPos.com – Apapun bahan pakainnya, yang penting nyaman dipakai. Kalimat itu sudah sering dilontarkan banyak kaum hawa saat berbusana. Akan tetapi tak ada salahnya jika mulai sekarang lebih memerhatikan bahan busana yang digunakan. 


Berbagai kain nusantara bisa menjadi pilihan. Dengan tangan dingin Yustina Wardhani (42), wanita dua anak ini memiliki butik online yang memadukan tiga bahan yaitu batik, tenun, dan brokat.


Nama butiknya, RNE B’tiq. Dhani, begitu dia akrab disapa, membuka usaha butik online berawal dari hobinya mendesain pakaian. Bakatnya mengalir dari sang ibunda yang merupakan penjahit. Sejak kuliah, Dhani mulai rajin membuat desain pakaian. Kini wanita yang hobi naik gunung ini, mulai fokus menekuni bisnisnya ini.


“Saya punya butik online. Membuka butik hanya menyalurkan kebisaan saya saja. Saya kembangkan sesuatu yang baru dengan prinsip padu padan. Saya memang belum membuka toko atau gerai. Baru sebatas melalui media sosial karena menurut saya lebih efisien,” kata Dhani, Minggu (23/4).


Dhani menggarap tiga bahan utama yaitu tenun, batik, dan brokat. Dhani menyukai tenun Nusa Tenggara Timur dan tenun Madura. Baginya, tenun Indonesia begitu indah dengan berbagai nilai sejarah dan fungsinya.


“Saya kembangkan tenun NTT dan tenun Jepara. Tenun Jepara warnanya kombinasinya lebih berani. Tenun NTT lebih konvensional. Dari segi kualitas lebih bagus tenun NTT tapi tenun Jepara lebih fashionable, karena warnanya lebih berani,” jelas warga Bogor ini.


Untuk batik, menurut Dhani batik paling keren adalah batik Madura. Warnanya juga berani dengan detail motif yang lebih rinci.


“Batik Cirebon juga bagus, tapi batik Madura lebih berani warnanya merah hijau oranye tabrak-tabrak. Kalau batik Betawi banyak dipakai sebagai Batik Encim atau Kebaya Encim,” katanya.


Dhani mengakui masyarakat sudah mengenal bahwa batik Pekalongan adalah juaranya. Namun Dhani lebih suka menggunakan motif batik tua atau konvensional ala batik Pekalongan. Baginya dari segi corak dan warna, batik Pekalongan konvensional lebih memiliki unsur orisinil.


“Desain itu mencerminkan apa yang jadi fokus kita. Saya senang kombinasi brokat, batik, dan tenun. Dikombinasikan menjadi cantik. Kebaya kutubaru atau Kartini saat ini juga sudah menjadi tren sehari-hari. Karena itu cintai budaya negeri sendiri dengan menggunakan kain nusantara,” tutupnya. (cr1/JPG)



 

EDITOR: Mohamad Nur Asikin