← Beranda

Kece Tanpa Kere, Simak Tips Berikut Ini

Dhimas GinanjarKamis, 11 Mei 2017 | 12.30 WIB
Adinia Wirasti (dua dari kanan) saat berbincang soal Kece Tanpa Kere

JawaPos.com – Di era digital sekarang, anak muda makin kreatif dalam menghasilkan pemasukan. Namun, di sisi lain mereka juga kerap terjebak pada perilaku konsumtif. Bagaimana menangkalnya? Adinia Wirasti, Hamish Daud, Ringgo Agus, berbagi cerita.


 


Pemasukan meningkat umumnya dibarengi dengan pengeluaran yang makin besar pula. Bukannya makin besar tabungan dan investasi. Ada banyak hal yang menyebabkan hal itu terjadi. Salah satunya, peer pressure atau tekanan sosial.


 


Ketika orang-orang dalam lingkungan sekitar heboh mengganti smartphone dengan tipe terbaru, ada yang tergoda untuk melakukan hal sama. Meski, sebenarnya sudah punya smartphone yang cukup memenuhi kebutuhan. Begitu juga ketika booming brand make-up luar negeri dan sahabat perempuan berbondong-bondong memakainya.


 


Perempuan lain seolah harus ikut membelinya, meskipun harganya bisa sepuluh kali lipat merek lokal yang biasa di pakai (yang sebenarnya sudah cukup bagus pula). Menurut aktris Adinia Wirasti, hal-hal seperti itu memang sulit dihindari di masa sekarang, tapi bisa dikendalikan.


 


”Kenali diri kita untuk tahu mana needs, mana wants. Mana yang betul-betul kita perlu dan mana yang sekedar mau,” tutur pemeran Critical Eleven itu seperti yang tertuang dalam buku Kece tanpa Kere yang disusun tim Permata Bank.


 


Berkutat di dunia hiburan, kata Asti –sapaannya- pengeluaran untuk menunjang penampilan menjadi hal yang sulit diabaikan. ”Make-up termasuk lifestyle perempuan yang paling mahal. Kalau mau beli sesuatu, saya tanya dulu ke make-up artist saya, bener-bener perlu nggak,” paparnya.


 


Tak jarang, sang make-up artist mengingatkan, Asti tak perlu beli, bisa memakai dari palet warna make-up yang sudah dia punya. ”Anak muda sekarang godaannya besar, belanja tinggal klik. Peer pressure juga ketat, misalnya alis siapa paling bagus, make-up siapa paling flawless,” kata Asti, lantas tertawa.


 


Bukan berarti tak boleh menyenangkan diri sendiri. Asti kerap menghadiahi diri dengan traveling dan olahraga. Dia menjadi member salah satu studio olahraga yang menurut Asti harganya masih reasonable. Kalau ingin lebih hemat, saran Asti, tidak harus bergabung dengan studio gym.


 


”Bisa lari di CFD bareng temen-temen. Free, manfaat sehatnya tetep dapet,” ucapnya.


 


Yang juga jadi ”ancaman” adalah latte factors. Apa itu? Pengeluaran-pengeluaran yang terlihat kecil namun dilakukan berkali-kali. Padahal sebenarnya bisa untuk ditabung. Contohnya, belanja barang-barang yang kurang perlu, ngopi di kafe, beli snack, atau bayar transportasi online.


 


Hamish Daud mengakui, latte factor-nya adalah sering nongkrong atau makan di luar dengan teman. ”Setelah dihitung, besar juga. Sekarang belajar mengurangi makan di fancy restaurant,” tuturnya.


 


Untuk jadi generasi #SayangUangnya, Hamish mencatat tiap pengeluaran, kemudian di akhir bulan di-review, mana yang membengkak dibandingkan dengan bulan sebelumnya.


 


Aktor yang juga bermain di Critical Eleven itu berbagi tip untuk anak muda. Tidak perlu ikut tren atau pergaulan, kembali ke psychological being kita. ”Jangan malu pakai baju tidak bermerek, buat first jobber jangan malu kalau tidak kerja kantoran,” ujar Hamish yang sejak SMP dilatih mandiri oleh sang ayah, membuat bangku kayu untuk mendapat uang jajan.


 


Itu sharing dari mereka yang masih lajang. Yang sudah berkeluarga, merasakan pola hidup, pola belanja, dan pola pikir berubah. Saat masih lajang, Ringgo Agus Rahman tidak berpikir panjang soal keuangan. Ada pemasukan, ingin membeli sesuatu, ya dibeli. ”Sekarang mikirnya harus jangka panjang. Harus punya tabungan, pendidikan sama asuransi anak gimana,” tutur ayah Bjorka itu.


 



Berkeluarga membuat perencanaan keuangan suami Sabai Morscheck ini jadi lebih terukur. Alokasi uang diatur dengan lebih tepat. Tipnya bagaimana? ”Pilih istri yang bisa hemat dan paham mengelola uang,” kata Ringgo dengan gaya khasnya. Dia dan Sabai kompek menomorsatukan keperluan keluarga dalam perencanaan keuangan. (nor/JPK)

EDITOR: Dhimas Ginanjar