Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 14 November 2025 | 18.17 WIB

Psikologi Menyatakan Penerimaan Diri Adalah Merangkul Kontradiksi, Bukan Menghapusnya

Ilustrasi seseorang tersenyum menerima diri. (Freepik) - Image

Ilustrasi seseorang tersenyum menerima diri. (Freepik)

JawaPos.com - Mencapai penerimaan diri yang sejati sering terasa seperti perjuangan panjang untuk memperbaiki kekurangan.

Kita berusaha keras untuk menyingkirkan semua sifat yang tidak kita sukai dari diri sendiri demi kesempurnaan. Padahal, psikologi menawarkan sudut pandang yang jauh lebih lembut.

Melansir dari Geediting.com, gagasan ini menyatakan bahwa penerimaan diri justru melibatkan kita untuk merangkul sifat yang saling bertentangan dalam diri; seperti rasa takut sekaligus keberanian, atau sisi rentan dan kuat.

Tidak seharusnya kita menghapus kontradiksi tersebut untuk mencapai penerimaan diri. Menerima kontradiksi adalah kunci untuk menjalani kehidupan yang lebih utuh.

1. Merangkul Keberagaman di Dalam Diri

Penerimaan diri adalah tentang menyambut kontradiksi yang ada, bukan menghilangkan kontradiksi tersebut. Kontradiksi dalam diri justru berkontribusi besar pada keunikan setiap individu. Ini seperti menghargai semua sisi yang membentuk kepribadian kita.

2. Sumber Ketahanan dan Kekuatan

Saat kita merangkul kontradiksi diri, kita mendapatkan keberanian untuk menghadapi rasa tidak aman. Hal ini juga membantu kita mengatasi kemunduran dan bangkit kembali dengan lebih kuat dari sebelumnya. Kontradiksi menjadi sumber ketahanan alih-alih kelemahan.

3. Menghargai Ketidaksempurnaan Diri

Penerimaan diri yang sejati berarti mengizinkan diri kita menjadi individu yang rumit dan 'tidak sempurna' secara indah. Ini bukanlah upaya untuk menyederhanakan diri. Sebaliknya, hal ini membuat kita memahami dan menghargai semua sisi yang saling bertolak belakang.

4. Menumbuhkan Toleransi terhadap Orang Lain

Ketika kita belajar menerima kontradiksi dalam diri kita, kita juga lebih mudah memberikan penerimaan kepada orang lain. Kita menjadi lebih toleran serta memahami kerumitan dan kontradiksi pada orang di sekitar kita. Proses ini berjalan dua arah dan saling memvalidasi.

5. Bukan Latihan Kritik Diri

Mengakui dan merangkul kontradiksi sama sekali bukanlah upaya untuk mengkritik diri sendiri. Hal itu juga bukanlah sebuah pencarian yang melelahkan untuk selalu menjadi lebih baik. Ini adalah pemahaman sederhana bahwa kerumitan adalah bagian alami dari eksistensi manusia.

6. Memperkaya Identitas, Bukan Mencairkannya

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore