
Ilustrasi. (Pexels.com)
JawaPos.com - Di tengah pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI), terutama dengan kehadiran ChatGPT, muncul kesenjangan yang cukup mencolok dalam hal penerimaan dan pemanfaatan antargenerasi.
Disaat generasi muda khususnya Generasi Z dan Milenial yang cenderung antusias memanfaatkan ChatGPT untuk berbagai kebutuhan, mulai dari pekerjaan hingga hiburan, namun banyak dari kalangan Generasi Boomer justru terlihat ragu atau bahkan menghindarinya sama sekali.
Fenomena ini menarik untuk dikaji lebih dalam melalui sudut pandang psikologi. Apa sebenarnya yang menjadi penghalang utama bagi para Boomer untuk menggunakan AI seperti ChatGPT?
Apakah berkaitan dengan ketidaknyamanan terhadap teknologi, kekhawatiran akan keamanan data, atau justru karena perbedaan pola pikir dan nilai hidup yang melekat kuat sejak muda?
Dalam artikel ini, kita akan membahas tujuh alasan utama yang membuat Generasi Boomer cenderung menghindari ChatGPT, lengkap dengan penjelasan psikologis di baliknya.
Mari simak dan pahami dinamika lintas generasi ini agar kita bisa lebih bijak dalam menyikapi era digital.
Dilansir dari VegOut, berikut adalah tujuh ciri psikologis yang paling sering ditemukan oleh para peneliti pada Generasi Baby Boomer yang cenderung menghindari teknologi seperti ChatGPT.
1. Kecemasan terhadap Teknologi Semakin Meningkat
Jauh sebelum kecerdasan buatan jadi topik utama, para peneliti sudah mengamati apa yang disebut teknophobia atau gabungan antara rasa takut dan frustrasi yang muncul saat seseorang harus berhadapan dengan perangkat digital baru.
Sebuah studi terhadap orang dewasa berusia 53–88 tahun menemukan bahwa tingkat kecemasan yang tinggi memengaruhi kemauan untuk mencoba perangkat lunak baru, bahkan ketika keterampilan dasarnya cukup memadai.
Antarmuka ChatGPT yang tampak sederhana justru membuat pengguna merasa bahwa kalau terjadi kesalahan, itu adalah kesalahan mereka sendiri. Ditambah dengan pemberitaan soal “halusinasi AI”, rasa khawatir yang awalnya ringan bisa berubah menjadi penghindaran total.
2. Lebih Nyaman dengan Rutinitas yang Sudah Terbentuk
Kebiasaan itu seperti jalan tol bagi otak—sekali terbentuk, segalanya jadi lebih mudah dan otomatis. Karena Boomer memiliki waktu puluhan tahun lebih lama dalam membangun rutinitas, seperti mencari informasi lewat Google, menelepon pustakawan, atau membaca manual, beralih ke ChatGPT terasa seperti membangun jalan baru dari nol.
Inilah yang disebut bias status quo atau kecenderungan untuk tetap pada hal yang sudah dikenal meskipun ada pilihan yang lebih efisien.
3. Merasa Kurang Percaya Diri dalam Menggunakan AI

15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
10 Rekomendasi Mall Terlengkap di Surabaya, Surganya Liburan Anak Muda Buat Shopping
Diperiksa 2 Jam soal Penyalahgunaan AI, Freya JKT48 Serahkan Bukti Akun Baru ke Polisi
Santriwati di Pekalongan Diklaim Keluarga Hamil Tanpa Berhubungan, Masa Iya?
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Gelombang Dukungan untuk Nicko Widjaja Menguat Usai Tuntutan 11 Tahun
17 Kuliner Gado-Gado Paling Laris di Jakarta, Cocok untuk Makan Siang Bersama Teman dan Keluarga
20 Cafe Paling Instagramable di Surabaya, Tempat Ngopi yang Bukan Hanya Kuliner Enak tapi Juga Estetik
