Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 15 Februari 2025 | 05.28 WIB

Ingin Lebih Dekat dengan Teman dan Keluarga di Usia 60-an? Ucapkan Selamat Tinggal pada 9 Kebiasaan Ini

Ilustrasi keluarga kecil - Image

Ilustrasi keluarga kecil

JawaPos.com - Menjalin hubungan yang erat dengan teman dan keluarga di usia 60-an bukan hanya soal kebahagiaan, tetapi juga kesehatan.

Penelitian dalam psikologi hubungan menunjukkan bahwa koneksi sosial yang kuat berkaitan dengan tingkat stres yang lebih rendah, suasana hati yang lebih baik, dan bahkan umur yang lebih panjang.

Namun, tanpa disadari, ada beberapa perilaku yang justru bisa menjauhkan kita dari orang-orang terdekat. Jika ingin hubungan yang lebih erat, mungkin sudah saatnya meninggalkan kebiasaan-kebiasaan berikut. Dilansir dari laman Geediting.com pada Jumat (14/2) yuk simak daftarnya!

1. Tidak Pernah Menyisihkan Waktu untuk Orang Tercinta

Menurut psikolog perkembangan Erik Erikson, salah satu kebutuhan dasar manusia adalah merasa terhubung dengan orang lain. Tetapi, jika kita terus mengesampingkan undangan minum kopi atau melewatkan panggilan telepon karena merasa "terlalu sibuk," kita sendiri yang akhirnya rugi.

Alih-alih menunggu waktu luang, buatlah waktu luang itu sendiri. Sesederhana telepon mingguan atau makan siang bulanan dengan sahabat lama bisa membuat kita lebih dekat dengan teman dan keluarga.

2. Menyimpan Dendam

Ada pepatah yang mengatakan, “Menyimpan dendam itu seperti meminum racun dan berharap orang lain yang mati.” Terdengar ekstrem, tapi ada benarnya.

Dendam hanya akan membebani hati dan membuat kita menjauh dari orang-orang yang sebenarnya bisa menjadi sumber kebahagiaan di usia 60-an. Melepaskan bukan berarti melupakan, tetapi memilih kedamaian dibanding kemarahan. Jika terasa sulit, cobalah menuliskan perasaan dalam jurnal atau berbicara dengan seseorang yang bisa dipercaya.

3. Selalu Berusaha untuk Menjadi Benar

Siapa yang tidak suka merasa benar? Tapi jika setiap perdebatan berubah menjadi ajang pembuktian diri, hubungan yang awalnya akrab bisa berubah menjadi medan perang.

Psikolog Carl Rogers menekankan pentingnya empati dalam memahami perspektif orang lain. Kadang, mendengarkan tanpa buru-buru membantah bisa jauh lebih berharga daripada "memenangkan" sebuah argumen. Lagi pula, apakah selalu benar lebih penting daripada tetap lebih dekat dengan teman dan keluarga?

4. Menghindari Permintaan Maaf

Mengakui kesalahan bukanlah tanda kelemahan. Permintaan maaf yang tulus bisa memperbaiki retakan dalam hubungan lebih cepat daripada apapun.

Jika kita terus menghindari kata "maaf" hanya karena gengsi, hubungan yang sudah terjalin lama bisa merenggang tanpa kita sadari. Ingat, di usia 60-an, kita mungkin tidak memiliki banyak waktu untuk membiarkan kesalahpahaman berlarut-larut.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore