Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 16 November 2024 | 03.14 WIB

Jangan Dimaafkan Lagi! Psikologi Ungkap 7 Tipe Orang yang Tidak Pantas Diberi Kesempatan Kedua

Ilustrasi orang yang tidak pantas diberi kesempatam kedua (freepik) - Image

Ilustrasi orang yang tidak pantas diberi kesempatam kedua (freepik)

JawaPos.com - Sebagai manusia, kita sering kali terdorong untuk memberikan kesempatan kedua dengan harapan orang lain bisa berubah.

Namun, psikologi menunjukkan bahwa beberapa jenis perilaku menunjukkan bahwa orang tersebut mungkin tidak layak mendapat kesempatan kedua. Memberikan kesempatan kedua kepada orang yang salah dapat berdampak buruk pada kesehatan mental dan emosi kita.

JawaPos akan membahas tujuh tipe orang yang menurut psikologi sebaiknya tidak perlu diberi kesempatan kedua. Hal ini bukan berarti mereka tidak bisa berubah, namun kemungkinan untuk berubah mungkin sangat kecil. Dengan memahami hal ini, Anda bisa terhindar dari tekanan dan rasa sakit hati yang tidak perlu.

Dilansir dari laman Global English Editing, Jumat (15/11), berikut adalah tipe orang yang tidak perlu diberi kesempatan kedua:

Pembohong Kronis

Kepercayaan adalah fondasi dari setiap hubungan yang berarti. Orang yang memiliki kebiasaan berbohong, terutama tentang hal-hal penting, cenderung mengikis kepercayaan ini. Pembohong kronis sering kali memanipulasi kenyataan demi keuntungan pribadi, membuat Anda meragukan penilaian Anda sendiri.

Jika seseorang secara terus-menerus merusak kepercayaan, sebaiknya pertimbangkan kembali untuk memberi mereka kesempatan kedua. Kejujuran dan rasa hormat adalah hak yang Anda layak dapatkan dalam hubungan apa pun.

Vampir Emosional

Vampir emosional adalah individu yang menguras energi emosional orang lain. Mereka biasanya memusatkan perhatian pada diri sendiri, sering mengeluhkan masalah mereka tanpa memberikan dukungan balik.

Jenis hubungan ini dapat meninggalkan Anda merasa kelelahan dan tidak didukung. Prioritaskan kesehatan mental Anda dan pertimbangkan untuk menjaga jarak dari individu yang hanya mengambil tanpa memberi kembali.

Pengkritik Kronis

Psikologi menyebut bahwa kritik yang berlebihan dapat menimbulkan stres setara dengan trauma. Pengkritik kronis adalah individu yang terus-menerus menemukan kesalahan pada setiap hal yang Anda lakukan, membuat Anda merasa tidak pernah cukup baik. Jika seseorang terus-menerus merendahkan Anda, lebih baik menjaga jarak untuk melindungi rasa percaya diri dan kesejahteraan Anda.

Pelaku Kesalahan Berulang yang Meminta Maaf Secara Tidak Tulus

Tipe ini adalah orang yang terus-menerus mengulangi perilaku buruk mereka meskipun telah meminta maaf. Kata-kata mereka mungkin terdengar tulus, tetapi tindakan mereka menunjukkan hal yang sebaliknya. Ingat, tindakan lebih penting daripada kata-kata. Jika pola perilaku seseorang terus-menerus menimbulkan stres atau ketidaknyamanan, mungkin saatnya mempertimbangkan hubungan tersebut.

Teman yang Hanya Ada di Saat Senang

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore