Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 21 September 2024 | 02.41 WIB

8 Perilaku Seseorang yang Selalu Berusaha Ingin Disukai dan Menarik Perhatian Orang Lain Sampai Mengorbankan Diri Sendiri, Nomor 2 Sering Terjadi

Ilustrasi orang yang selalu ingin disukai. (Pexels/fauxels) - Image

Ilustrasi orang yang selalu ingin disukai. (Pexels/fauxels)

JawaPos.com - Dalam kehidupan sosial, keinginan untuk diterima dan disukai adalah hal yang wajar. Namun, ada kalanya upaya untuk mendapatkan popularitas dapat membuat seseorang mengubah perilaku mereka secara drastis, sering kali tanpa disadari.

Kita mungkin mengenal individu yang terus-menerus berusaha keras untuk menarik perhatian atau berusaha menjadi populer, tetapi tanpa disadari tindakan mereka tidak mencerminkan siapa mereka sebenarnya. Dari kecenderungan untuk meniru orang lain hingga membagikan informasi pribadi secara berlebihan, semua ini mencerminkan upaya untuk menciptakan kesan positif yang sering kali terasa tidak asli.

Dilansir dari laman geediting.com, Jumat (20/9), terdapat delapan perilaku khas yang sering muncul pada orang-orang yang terlalu berusaha untuk disukai dan ingin populer.

Menjadi Seorang Ekstrovert yang Berlebihan

Mereka selalu berusaha menjadi yang paling menonjol, seperti berbicara dengan keras atau mencari perhatian dengan cara yang ekstrem. Meskipun ketiga elemen penting dalam membangun hubungan yang baik adalah keaslian (menjadi diri sendiri), pendekatan yang baik (cara berinteraksi dengan orang lain), dan keterkaitan (hubungan yang terjalin), orang ini mungkin tidak menyadari bahwa usaha mereka untuk menonjol justru bertentangan dengan elemen-elemen tersebut.

Perilaku ini merupakan tanda bahwa mereka merasa kurang terhubung dengan orang lain atau memiliki masalah dengan harga diri mereka. Mereka berusaha keras untuk mendapatkan perhatian karena merasa tidak cukup dihargai atau diterima.

Ironisnya, semakin mereka berusaha untuk menjadi pusat perhatian, semakin sulit bagi orang lain untuk melihat mereka sebagai pribadi yang tulus atau mudah didekati. Akibatnya, alih-alih menjadi lebih disukai, mereka malah terlihat kurang menarik atau kurang disukai. Dengan kata lain, usaha yang berlebihan justru malah membawa hasil yang bertolak belakang dengan harapan.

Sifat Setuju yang Berlebihan

Salah satu perilaku yang umum ditemui adalah kecenderungan untuk selalu setuju dengan orang lain. Banyak orang yang berusaha menjaga hubungan baik dengan lingkungan sosialnya cenderung menekan pendapat pribadi mereka demi menghindari konflik. Hal ini sering kali terlihat pada individu yang selalu sepakat dengan setiap pendapat yang diungkapkan, baik itu tentang politik, film, olahraga, atau musik.

Sikap setuju yang berlebihan mungkin tampak sebagai tanda keramahan dan keterbukaan pada awalnya. Namun, seiring waktu, tampak jelas bahwa kebiasaan ini bukan semata-mata untuk menjaga suasana, melainkan berasal dari ketakutan untuk tidak disukai atau diabaikan. Individu dengan sikap ini sering kali merasa perlu untuk menekan pendapat mereka sendiri, meskipun pendapat tersebut valid dan penting demi menjaga hubungan sosial.

Sayangnya, orang lain dapat merasakan ketidakjujuran dalam sikap ini. Meskipun niat awalnya untuk menghindari konflik, kebiasaan selalu setuju justru dapat membuat orang lain kehilangan rasa hormat kepada kita. Pada akhirnya, hubungan yang harus dibangun atas kejujuran dan keberanian untuk mengekspresikan pendapat sendiri, bukan dari sekadar persetujuan yang tidak tulus.

Selalu Mendambakan Validasi

Kebutuhan untuk mendapatkan pengakuan dan persetujuan dari orang lain adalah salah satu tanda bahwa seseorang mungkin berusaha terlalu keras untuk disukai. Individu yang sangat mendambakan validasi sering kali merasa tidak percaya diri dan mencari pengakuan bahwa mereka melakukan hal yang benar, bahkan mengucapkan kata-kata yang tepat.

Perilaku ini dapat terlihat dalam bentuk pertanyaan yang berlebihan atau ketergantungan pada pendapat orang lain sebelum mengambil keputusan. Misalnya, seseorang mungkin selalu meminta pendapat tentang penampilan mereka atau merasa tidak bisa membuat keputusan tanpa berkonsultasi dengan banyak orang terlebih dahulu.

Namun, ketergantungan yang berlebihan pada validasi eksternal ini sering kali berujung pada ketidakpuasan dan perasaan kurang percaya diri. Orang cenderung lebih tertarik pada individu yang percaya diri dan yakin dengan diri mereka sendiri, bukan pada mereka yang terus-menerus meragukan keputusan dan pandangan pribadi. Pada akhirnya, penting untuk memahami bahwa validasi sejati datang dari dalam diri, bukan dari pengakuan orang lain.

Editor: Edy Pramana
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore