JawaPos.com - Tidak hanya peran ibu saja yang diperlukan dalam tumbuh kembang seorang anak, namun kehadiran ayah pun turut memainkan peran penting di dalamnya.
Bahkan dilansir JawaPos.com dari Fatherless Boys Foundation pada Jumat (6/9), disampaikan bahwa seorang anak yang tumbuh tanpa seorang ayah dapat mengubah struktur otaknya secara permanen.
Terlebih bagi anak laki-laki yang melihat sosok ayah sebagai contoh bagaimana menjalani kehidupannya. Jadi, bila sosok ayah tidak didapatkannya, maka baik langsung maupun tidak akan berdampak pada kondisi psikologisnya.
Berikut tujuh kondisi psikologis yang cenderung dibawa oleh seorang anak laki-laki yang tumbuh tanpa figur ayah atau fatherless ketika dewasa.
1. Agresif
Seorang anak yang tumbuh tanpa seorang ayah akan memendam emosi lebih banyak dan tidak tahu bagaimana melampiaskannya. Jadi, anak tersebut nantinya akan tumbuh menjadi sosok yang lebih agresif dan cepat marah.
Kemarahan yang dimilikinya bisa saja terlampiaskan ataupun dipendam begitu saja yang suatu saat akan meledak. Keduanya bukanlah hal yang baik, karena kemarahan membuat kemampuan berpikir seseorang menjadi pendek bahkan hilang sehingga tidak heran ketika dikuasai amarah seseorang akan bertindak bodoh.
Buruknya, bila sikap agresif dan mudah marahnya ini sampai diturunkan kepada anaknya ketika menikah nanti.
2. Penghargaan Terhadap Diri yang Rendah
Seiring bertambahnya usia, seorang anak tentu berpikir mengapa ayahnya tidak hidup bersama dengannya, terlebih bagi orang tua tunggal yang berpisah karena perceraian.
Hal ini akan melahirkan perasaan-perasaan buruk di benak sang anak, seperti terluka, tidak berharga, dan tidak diinginkan. Nantinya, sang anak akan tumbuh menjadi pribadi yang tertutup, tidak percaya diri, bahkan tidak menghargai dan mencintai dirinya sendiri.
3. Kesehatan Fisik dan Mental Terganggu
Psychology Today mengungkapkan bahwa seorang anak yang tumbuh tanpa seorang ayah memiliki lebih banyak gangguan kesehatan fisik hingga psikosomatis, seperti asma, sakit kepala, dan sakit perut.
Dilaporkan juga bahwa anak-anak tersebut konsisten memiliki lebih banyak kesehatan mental, misalnya rentan merasa cemas hingga depresi yang menyebabkan mereka melakukan bunuh diri.
4. Rentan Terpengaruh Perilaku Buruk
Ditambahkan dalam Owl Cation, selain masalah kesehatan fisik dan mental, anak laki-laki yang tumbuh tanpa figur ayah pun memiliki masalah dalam kehidupan sosialnya.
Dijelaskan sebelumnya bahwa anak yang tumbuh tanpa seorang ayah cenderung lebih agresif dan cepat marah, membuatnya tidak diterima dalam pergaulan.
Jadi, ketika ada kelompok yang menerimanya, anak tersebut dengan mudahnya terpengaruh dengan kebiasaan dan perilaku kelompok tersebut meski buruk dan dilarang, seperti bertato sampai mengonsumsi obat-obat terlarang.
Hal tersebut pun dilakukan untuk menutupi dan menyamarkan ketakutan, kebencian, kecemasan, dan ketidakbahagiaan yang mereka rasakan.
5. Prestasi Buruk
Kurangnya atau hilangnya motivasi untuk berprestasi dalam bidang akademik lebih banyak terjadi pada anak-anak yang dibesarkan tanpa sosok ayah di sampingnya.
Sementara sang ibu yang sibuk bekerja demi menyambung hidup akan memperparah keadaan. Sang anak tidak lagi diperhatikan, sehingga tidak sedikit anak yang bolos sekolah, mendapatkan nilai buruk, hingga putus sekolah dalam kondisi ini.
6. Mengikuti Jejak Buruk
Memori-memori buruk tentang kedua orang tuanya sedikit banyak akan tersimpan dalam benak sang anak. Emosi negatif yang menumpuk tersebut akan memengaruhi kondisi psikologisnya yang tanpa sadar membawa sang anak mengikuti jejak buruk ayahnya di masa lampau, seperti meninggalkannya ketika masih kecil, cepat untuk menceraikan pasangannya, melakukan 'kumpul kebo', atau memiliki anak di luar pernikahan yang sah.
Demikianlah enam kondisi psikologi yang mungkin dibawa oleh seorang anak laki-laki yang tumbuh tanpa figur ayah ketika dewasa kelak. Semoga hal ini tidak terjadi pada Anda.
***