alexametrics
Warisan Peranakan

Para Pelestari Batik di Lasem, Menjaga Nilai Baik Akulturasi Budaya

24 Januari 2020, 17:01:10 WIB

Batik Lasem memiliki histori kuat. Hasil akulturasi budaya lokal dan Tionghoa yang lahir ratusan tahun lalu. Beberapa masih ada hingga kini. Diteruskan generasi kesekian.

NAMANYA Sigit Witjaksono. Nama Tionghoa-nya Njo Tjoe Hian. Dia termasuk tokoh batik tulis Lasem, Rembang. Masyarakat menyebutnya sang maestro lantaran paling tua di antara perajin batik lain.

Selain warna merah, ciri khas batik yang dia buat bermotif latohan, kricak atau batu pecah yang mengingatkan masa tanam paksa, dan juga memadukan kaligrafi Tiongkok. Di usianya yang 92 tahun, Sigit kini tak dapat memproduksi batik buatan sendiri. Fisiknya sudah tidak memungkinkan.

Dia hanya bisa berbaring di atas kasur. Kedua kakinya tidak kuat berjalan lantaran sakit. Saat dikunjungi tim Jawa Pos, raut wajahnya tetap terlihat bersemangat. Dari kasur tempat beristirahat, dia menunjukkan kain batik tulis sinografi goresannya.

Kain itu memiliki motif khas yang dipadu dengan kaligrafi Mandarin yang bertulis kalimat bijak. Apa artinya? Tangan kanan Sigit lantas menunjuk tempelan kertas yang bertulis, ”Usianya setinggi gunung selatan Himalaya. Rezekinya seluas laut timur Samudera Pasifik.”

Saat ditanya di mana dulu dia belajar membatik, tangannya langsung mengarah ke lemari. ”Buku,” jawabnya pelan. Sekarang, produksi batik tulis Sekar Kencana miliknya diteruskan sang istri, Marpat Rochani, beserta putrinya, Rini, dan cucunya, Javier Hartono.

PENERUS: Sigit Witjaksono, pemilik dan perajin batik Sekar Kencana, kini hanya berbaring di kasur. Dia tak bisa lagi membatik karena fisiknya tak mampu. Usaha batiknya kini diteruskan cucunya, Javier Hartono. (Angger Bondan/Jawa Pos)

Biasanya untuk batik tulis sinografi dibuat sendiri oleh Sigit. Karena sekarang fisik tidak memungkinkan, Javier yang meneruskan. ”Dulu digambar langsung. Sekarang polanya dicap, tapi tetap digores menggunakan canting,” ucap pria 24 tahun itu saat ditemui di kediamannya Rabu (15/1).

Keluarga Sigit bisa dibilang pluralis. Dia tak pernah memaksa istri dan anak-anak menganut suatu keyakinan. ”Kakek Konghucu, lalu menikahi perempuan Jawa beragama Islam. Anaknya ada yang beragama Katolik,” ujar Javier, cucu alumnus Gontor. Di awal tahun baru ini, Javier mengaku bahwa Sigit sudah mualaf. ”Alhamdulillah sekarang Islam atas keyakinannya sendiri,” tambahnya.

Javier menceritakan pembauran masyarakat Tionghoa di Lasem berlangsung sejak Tionghoa mendarat pertama. Kemudian, Sigit, kakeknya, merupakan Tionghoa pertama yang menikah lintas budaya. ”Lalu belajar membatik sendiri sambil melihat buku aksara Tiongkok,” terangnya.

Pewarnaan yang dibuat juga istimewa. Merah seperti warna darah ayam. Menurut dia, tak ada daerah lain yang bisa membuat warna tersebut selain Lasem. Sebab, campurannya turun-temurun diwariskan ke keluarga. ”Bahannya mudah dicari. Tapi, pembuatannya harus di Lasem,” ungkapnya.

Javier pernah mencoba membuat warna merah serupa di daerah lain. Hasilnya tidak sama. ”Konon air Lasem punya kandungan berbeda. Kadar logam dan kapurnya tinggi sehingga itu yang membuat warna khas,” ujarnya.

Lasem juga dikenal dengan batik tokwinya. Jelang pergantian Tahun Baru Imlek, masyarakat Tionghoa pasti akan membersihkan altar pemujaan. Termasuk kain penutup altar atau biasa disebut tokwi. Nah, Lasem punya para perajin batik tulis tokwi. Kidang Mas, salah satunya.

Rudi Siswanto atau Tan Tiong Swie, generasi keenam penerus Kidang Mas, menceritakan, dulu leluhur pertama membawa tokwi berbahan sulam dari Tiongkok ke Indonesia. Karena tak banyak orang ahli menyulam, generasi kedua bernama Lie Djee Sioe membuat kain penutup altar dalam bentuk batik. ”Tidak dijual. Tapi diberikan ke sanak saudara,” ungkapnya.

PENUTUP ALTAR: Rudi Siswanto atau Tan Tiong Swie menunjukkan batik tokwi yang dibuat oleh rumah batiknya. Dia adalah generasi keenam penerus batik tokwi Kidang Mas. (Angger Bondan/Jawa Pos)

Ayah Rudi sebagai generasi kelima mulai memproduksi masal. Hal itu disebabkan mayoritas warga Lasem merupakan keturunan Tionghoa sehingga mereka membutuhkan tokwi untuk altar pemujaan di rumah masing-masing. ”Kalau sekarang, banyak rumah kosong. Jarang ada permintaan. Tak banyak perajin batik membuat tokwi lagi,” ucapnya. Tapi, dia masih membuatnya. Jumlahnya tiga lembar. Satu dipakai sendiri, satu lagi untuk penelitian akademik, dan sisanya disimpan.

Meneruskan dan melestarikan batik warisan leluhur tidaklah mudah. Namun, itu berhasil dilakukan di Lasem. Di tangan penerus yang lebih muda, batik-batik legendaris tersebut menemukan caranya sendiri untuk tetap ada. Dengan tetap mempertahankan proses pembuatan yang konvensional. Nilai-nilai baik dari akulturasi budayanya pun terjaga.

Priscilla Renny dan suaminya, Henry Ying, dari batik Maranatha. (Angger Bondan/Jawa Pos)

Priscilla Renny, 38, adalah generasi keenam dari Ong Yok Thay, pendiri batik Lasem Maranatha. Renny kini meneruskan usaha leluhurnya yang dirintis pada 1800-an itu. Dia baru mulai membatik pada 2010. Tapi, dia ulet memproduksi dengan cara tradisional. Pembuatannya pun membutuhkan waktu lama. Sekitar 3–4 bulan.

Trivia Batik Lasem

  • Tone merah yang digunakan untuk warna batik sama dengan warna darah ayam.
  • Ada sentuhan budaya Tionghoa dalam motif-motif batik Lasem. Misalnya, motif naga dan burung phoenix.
  • Sebagian besar perajin batik di Lasem keturunan Tionghoa. Dari 120 orang, kini tinggal 11 perajin saja yang masih tekun melestarikan dan meneruskan produksi batik.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : Robby Kurniawan/c25/jan

Alur Cerita Berita

Lihat Semua


Close Ads