alexametrics
Warisan Peranakan

Indrawati Kombinasikan Motif Batik Lokal dengan Cerita Tionghoa

Ciri Khas Warna Lebih Berani
24 Januari 2020, 18:01:13 WIB

Perjalanan batik peranakan juga ”tiba” di cirebon. Soal warna, batik-batik peranakan di kota ini terbilang mencolok.

INDRAWATI tampak sedang mengusap dengan halus kain-kain batik miliknya saat ditemui Jawa Pos di kediamannya (15/1). Perempuan 76 tahun itu tinggal di kawasan Pasar Tradisional Kanoman, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon.

Huniannya kental dengan ornamen rumah peranakan. Bagian depan dijadikan area niaga untuk batik-batik karyanya. Sambil duduk di kursi goyang, dia membagikan perjalanan cerita batiknya. Bersama sang adik, Jenni Kurniawati, Indrawati menjadi generasi keempat dari usaha batik peranakan yang ditekuni keluarganya. Yaitu, Gouw Tjin Lian (kakek buyut) dan Thio Linnio (nenek buyut). ’’Pada 1934, papa saya memperoleh dokumen izin dari sultan sepuh Keraton Cirebon untuk membatik dengan pola batik keraton,’’ tuturnya.

Perempuan yang seluruh rambutnya memutih itu lantas menuju ruang tamu dan berhenti di area memorabilia. Dengan berjinjit, dia mengambil sebuah bingkai. Di dalam bingkai itu tampak surat izin dari keraton. Di sisi kanan bawah terdapat tanda tangan Sultan Sepuh XI Sultan Radja Jamaludin Aluda Tajularifin.

Dia menuturkan, surat izin tersebut dikeluarkan lantaran ada keluarganya yang masih keturunan Keraton Kanoman Cirebon. Yaitu, sang nenek buyut yang menikah dengan warga keturunan Tionghoa di Trusmi, Kabupaten Cirebon. ’’Kakek buyut saya dagang obat batik di Trusmi. Ketemu nenek buyut saya yang bisa membatik. Lalu, mereka menjalankan usaha batik di Trusmi,’’ paparnya.

Indrawati menuturkan, batiknya memiliki pakem tersendiri. Yaitu, lebarnya 1,1 meter. Untuk panjangnya, Indrawati mengatakan bisa berapa pun. Bebas. Ada yang sampai 2,6 meter. bagaimana dengan motifnya? Indrawati menyebutkan, motif batiknya didominasi gambar satwa. Yang banyak muncul, antara lain, kerbau hingga burung phoenix berukuran besar. Di dalam motif ada cerita tentang dewa-dewi.

Selain motif satwa, batik Cirebon dikenal dengan motif mega mendung yang sarat makna. Alkisah, pada abad ke-16, Sunan Gunung Jati menikah dengan seorang putri Tiongkok, Ong Tien. Rombongan putri membawa banyak keramik, porselen, benang emas. Salah satu porselen itu bermotif awan. Itulah yang menjadi inspirasi motif batik mega mendung.

Indrawati juga mengombinasikan motif daerah dengan cerita-cerita masyarakat Tionghoa. Contohnya, kain batik mega mendung yang dikombinasikan dengan sosok Laksamana Cheng Ho. Atau, motif keraton Cirebon dipadukan dengan burung phoenix.

Soal warna, batik-batik peranakan di Cirebon terbilang mencolok. tokoh peranakan di Cirebon Ong Swie Liok alias Suryapranata menyebutkan, diduga kondisi geografis menjadi faktor. ’’Cirebon dekat pantai. Warna-warna batiknya pun lebih berani. Mulai merah, oranye, hingga biru,’’ paparnya.

Cara Indrawati Merawat Kain Batik

  • Tiga bulan sekali, dia mengeluarkan kain-kain batiknya dari lemari. Kemudian mengangin-anginkannya 5–10 menit. Tidak perlu tepat di bawah sinar matahari.
  • Saat kain diangin-anginkan, lemari tempat penyimpanan batik dibuka 5–10 menit. Agar sirkulasi udara di dalam lemari baik. Sehingga terhindar dari aroma tak sedap.
  • Untuk menghindari hewan ngengat, Indrawati meletakkan beberapa rempah di lemari batik. Antara lain bubuk merica dan irisan daun pandan. ”Pandan dan merica dimasukkan ke dalam plastik yang sudah dilubangi,” jelasnya.
  • Kain batik tak perlu dicuci. Jika terkena noda, segera basahi dengan air, lalu gunakan sikat gigi untuk membersihkannya perlahan.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : dimas nur apriyanto/c19/nor

Alur Cerita Berita

Lihat Semua


Close Ads