alexametrics
Warisan Peranakan

Batik Pekalongan Oey Soe Tjoen yang Tak Lekang oleh Zaman

Generasi Ketiga Pertahankan Corak Buketan
24 Januari 2020, 17:25:32 WIB

Dari daftar nama pebatik peranakan di Kabupaten Pekalongan, nama Oey Soe Tjoen bisa dibilang salah satu yang paling dicari. Usaha batik tersebut kini diteruskan generasi ketiga, Widianti Widjaja.

KAKEK saya (Oey Soe Tjoen) membuat batik sejak 1925,” ucapnya. Dua generasi di atas sang kakek awalnya berdagang batik di Pasar Kedungwuni.

Desain batik yang dihasilkan Oey Soe Tjoen umumnya memiliki motif buketan (rangkaian) bunga dengan warna kalem. Antara lain, hijau daun, merah marun, hingga kuning yang soft. Ada dua jenis batik yang diproduksi. Yaitu, kain panjang (jarit/tapih) dan sarung batik. Motif yang digarap Oey Soe Tjoen khusus bunga dan satwa. ”Untuk satwa, kami pakai kupu-kupu dan burung,” urai Widianti.

Desain batik Oey Soe Tjoen tidak pernah dibuat satu orang, tapi dibikin secara bersama. Widianti menyebutkan, Oey Soe Tjoen mencari inspirasi dari banyak hal. Mulai visual bunga secara nyata hingga kartu ulang tahun masa Hindia Belanda. Setelah mendapatkan inspirasi desain, Oey Soe Tjoen memanggil juru gambar untuk merepresentasikan keinginannya itu.

Pengembangan desain bisa memakan waktu lama. ”Setelah juru gambar menggambar, hasilnya ditunjukkan ke Oey Soe Tjoen dan istri (Kwee Nettie, Red) untuk dimintai persetujuan,” papar Widianti.

Setiap generasi batik Oey Soe Tjoen mempunyai ciri khas desain masing-masing. Widianti mengatakan, pada generasi pertama, Oey Soe Tjoen membuat banyak motif buketan, merak ati, urang ayu, dan cuwiri khas zat pewarna soga alam.

Standar jumlah buket pada kain panjang milik Oey Soe Tjoen hanya enam buah. Serta, ada empat buket per kain sarung. Motif buketan khas dengan gradasi warna. Jenis bunga yang biasa ditampilkan, antara lain, seruni, mawar, tulip, daffodil, sepatu, teratai, dan magnolia.

Di generasi kedua (Oey Kam Long dan Lie Tjien Nio), sekitar 1985, ada sedikit perubahan motif. Yaitu, motif cuwiri dihilangkan. Saat itu, motif cuwiri banyak di-printing. Oey Kam Long mulai menggunakan motif kupu-kupu besar. Ada motif burung gelatik juga. ’’Kalau Oey Soe Tjoen memakai burung kolibri,” tutur Widianti.

Nah, bagaimana dengan generasi ketiga saat dipegang Widianti? Tetap tidak meninggalkan identitas batik Oey Soe Tjoen dengan buketan. Kemudian, pada 2009, dia kembali memproduksi motif cuwiri setelah menerima pesanan dari Jerman.

Terpisah, tokoh peranakan Henri Susilo Pekasa mengatakan, pada zaman dulu kondisi sosial masyarakat peranakan di Pekalongan sangat tertutup. ’’Jadi, saat berbusana pun ya begitu, tidak berani menunjukkan budaya Tionghoa. Tidak seperti wilayah sebelahnya, Tegal, misalnya,” ujarnya.

Untuk urusan warna, lanjut Henri, batik peranakan Pekalongan memang cenderung kalem. Tidak terlalu mentereng. Ditengarai, hal itu dipengaruhi kondisi sosial masyarakat peranakan di Pekalongan yang sedikit tertutup saat itu.

AGAR KAIN BATIK TETAP AWET ALA WIDIANTI WIDJAJA

  • Kain sebaiknya disimpan dengan cara digulung. Tujuannya, mengurangi bekas lipatan pada kain.
  • Untuk menghalau kutu atau ngengat, jangan menggunakan pewangi seperti kapur barus. Namun, gunakan cengkih, merica, atau rempah-rempah lain yang berbau menyengat.
  • Widianti memperbolehkan kain-kain batiknya mandi alias dicuci. Namun, jangan menggunakan detergen. ”Soalnya bisa merusak warna. Cuci dengan sabun khusus batik atau lerak,” ucapnya.
  • Tak perlu menggunakan pelembut atau pewangi kain.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : dimas nur apriyanto/c7/nor

Alur Cerita Berita

Lihat Semua


Close Ads