alexametrics

Komitmen Desainer Usung Fashion yang Ramah Lingkungan dan Sustainable

22 November 2019, 23:47:53 WIB

JawaPos.com – Para desainer saat ini semakin sadar dengan lingkungan. Salah satunya dalam hal limbah fashion dan pewarna kain yang bisa mencemari lingkungan. Karena itu konsep ecofriendly atau sustainable fashion ramai-ramai digelorakan oleh para desainer dalam ajang perhelatan fashion show.

Baru-baru ini dalam ajang Indonesia Sharia Economic Fashion di Jakarta, National Chairman Indonesian Fashion Chamber (IFC) Ali Charisma, mengatakan industri fashion muslim Indonesia telah mengalami peningkatan yang signifikan dan menawarkan keragaman konten lokal. ISEF 2019 menghadirkan Sustainable & Ethical Fashion untuk mengangkat pentingnya sustainable fashion (fashion berkelanjutan) dan ethical fashion untuk pertumbuhan jangka panjang dan kesinambungan lingkungan.

“Fashion merupakan salah satu sumber utama pendapatan lokal dan nasional Indonesia yang berkelanjutan dan memberikan dampak ekonomi, lingkungan, sosial, maupun budaya. Untuk mencapai hal tersebut dibutuhkan komitmen dan tanggung jawab dari pelaku desain, perajin, maupun pemerintah,” jelasnya.

Sustainable & Ethical Fashion ISEF 2019 menghadirkan rangkaian gelaran karya dari 78 desainer muslim Indonesia yang mengaplikasikan konsep tersebut. Salah satunya SHAFIRA yang sudah berkiprah selama 30 tahun.

SHAFIRA menggunakan material yang berasal dari serat alam, seperti organic silk dan Tencel. Material ini merupakan serat alami yang terbuat dari kayu bersertifikat khusus dan ramah lingkungan. Produk pakaian yang mengandung serat lingkungan itu memiliki tekstur kain yang lembut, ringan, dan breathable sehingga cocok dengan iklim tropis Indonesia.

Daya serapnya yang tinggi juga membuat pengguna tetap nyaman dan mencegah munculnya bakteri. Karena berasal dari bahan alami, pakaian yang menggunakan 100 persen serat tersebut memiliki sifat biodegradable sehingga dapat sepenuhnya kembali ke alam.

Dengan koleksi bertajuk Raison d’Etre merefleksikan eksistensi dalam rangkaian koleksi dengan palet warna bernuansa cream, tan, beige, hijau hingga biru yang terinspirasi dari komposisi warna tanah dan bumi sebagai representasi unsur alam. Dituangkan dalam berbagai material berserat natural, polesan warna-warna cantik ini juga ditampilkan dalam motif yang indah yang dibuat melalui teknik organic printing untuk menyajikan sebuah suguhan koleksi busana pret-a-porter yang berasal dari material organik baik dari penggunaan bahan maupun pada proses produksinya.

Ada juga koleksi yang unik yang merefleksikan kuat sebuah fashion yang berkelanjutan (sustainable) melalui metode upcycling. Dalam rangkaian koleksi ini, SHAFIRA menyulap material sisa produksi menjadi suguhan karya fashion dengan patch work sebagai aksen yang menambah point of interest yang menyiratkan perjalanan menuju industri yang less-waste.

“Kami berusaha menyuguhkan fashion dengan konsep zero waste atau less waste mendukung gerakan pengurangan sampah. Misalnya juga dalam transaksi menggunakan kantong paperless untuk pembeli sehingga kami ikut mengurangi penggunaan sampah plastik,” tegas founder SHAFIRA, Feny Mustafa.

Editor : Edy Pramana

Reporter : Marieska Harya Virdhani



Close Ads