alexametrics

Teknik Upcycling Sulap Limbah Fesyen jadi Barang Bernilai Ekonomis

22 September 2019, 23:40:58 WIB

JawaPos.com – Industri fesyen adalah salah satu industri yang banyak menghasilkan polusi. Oleh karenanya, pelaku bisnis di industri ini patut memiliki kesadaran untuk menekan dampak lingkungan tersebut.

Salah satunya dengan mengurangi limbah pakaian. Ada banyak cara untuk melakukan hal itu, sebut saja teknik upcycling.

“Cara paling mudah mengurangi limbah fesyen adalah dengan upcycling,” kata founder Empathy Anastasia Winanti dalam diskusi Upcycle is The New Beauty-Modest Fashion Founders Fund Celebration Days, Minggu (22/9).

Untuk upcycle, pihaknya mengakomodasi barang-barang dari online shop lain yang tidak terjual atau biasa dikenal dengan dead stock untuk kemudian dimodifikasi dengan perca yang ada, sehingga memiliki nilai estetika tambahan.

“Untuk sekarang baru menerima dead stock yang berbahan denim, kenapa denim karena denim bahannya tahan lama dan cocok dimodifikasi dengan perca kami,” ujar Anas.

Anas juga menambahkan, saat ini brand Empathy juga sedang melakukan pengembangan pengolahan perca katun dengan cara diselipkan pada kain tenun.

“Kami lagi develop untuk mengolah limbah perca katun untuk diselipkan dalam kain tenun. Kenapa hanya katun karena sifat kain katun itu sendiri yang mudah diolah dengan alat tenun bukan mesin, dibandingkan jenis kain lain,” tuturnya.

Modest Fashion Founders Fund Celebration Days, Minggu (22/9). (dok. panitia)

Founder Waiki Tekstil Wahyuningsih Wulandari menjelaskan pihaknya mengolah perca dari bahan kaos dan polyester untuk kemudian dirajut menjadi barang lain berupa tas dan aksesoris dekorasi rumah. Sehingga menjadi bernilai ekonomis.

“Kami hanya mengolah limbah fesyen dari bahan kaos dan polyester untuk kemudian dirajut dan dibentuk menjadi barang yang bernilai jual seperti tas dan bentuk aksesoris lain,” ungkap Wahyuningsih.

Wulan menambahkan, perca-perca tersebut ia dapatkan dari beberapa konveksi yang ada di wilayah tempat dia tinggal. Namun, ia mengakui, mengolah limbah fesyen dari konveksi bukanlah hal mudah.

“Dikerjain sendiri tentu enggak bisa, karena dari satu konveksi saja perminggu percanya bisa mencapai 80 kilogram. Sementara satu tas hanya membutuhkan 500 gram perca,” imbuhnya.

Founder Srengenge Retno Suminaringtyas menceritakan. upayannya mengurangi limbah fesyen dengan menggunakan teknik Sashiko. Konsep Sashiko itu untuk memperkuat pakaian.

“Saya bisa menghasilkan satu pakaian dari potongan-potongan kain yang sudah lama tidak terpakain dengan Sashiko, dan jadi barang baru yang lebih baik kualitasnya. Intinya sampah kain jangan dibuang, dikumpulkan pasti akan berguna nantinya,” jelasnya.

Editor : Estu Suryowati

Reporter : Marieska Harya Virdhani



Close Ads