alexametrics

Cegah Penyalahgunaan Vape dari Narkoba, Hindari Black Market

21 November 2019, 14:42:51 WIB

JawaPos.com – Isu adanya dugaan penyalahgunaan narkoba dalam cairan vape atau rokok elektrik membuat para pengguna vape resah. Pasalnya, hal itu justru sudah menyimpang dari niat sebelumnya di mana vape digunakan untuk menekan rasa ketergantungan serta kecanduan pada rokok.

Salah satu asosiasi vape di Indonesia, Asosiasi Personal Vaporizer Indonesia (APVI) mengingatkan para vapers untuk tidak membeli produk vape dari produk yang sumbernya tidak jelas seperti pasar gelap (black market). Pihak APVI mendorong konsumen untuk membeli produk vape hanya melalui jalur resmi.

“Kami selalu mendorong konsumen kami untuk hanya menggunakan cairan vape yang dibeli secara resmi dan memiliki pita cukai,” kata Ketua APVI Aryo Andrianto.

Direktorat Jenderal Bea dan Cukai sendiri telah mewajibkan semua produk vape agar bebas dari bahan-bahan narkotika dan psikotropika. Ditjen Bea Cukai juga mengharuskan pemilik produk untuk setuju bahwa setiap pelanggaran akan berakibat pada pencabutan penerbitan pita cukai oleh Ditjen Bea Cukai, atau dalam kata lain, produk tersebut akan dianggap ilegal.

Di Indonesia, kewajiban untuk memasang pita cukai pada vape dan produk tembakau alternatif lainnya telah diterapkan untuk menghindari dan meminimalkan distribusi produk vape ilegal. Aryo mengatakan bahwa asosiasi sangat menghargai upaya yang dilakukan oleh pemerintah.

“Pada 2018 sendiri, industri rokok elektrik berpotensi menyumbang Rp 106,6 juta dari pajak cukai. Kami optimis bahwa Bea Cukai akan menyambut baik kontribusi ini dan seluruh pihak akan terus mendukung pertumbuhan industri rokok elektrik,” kata Aryo.

Temuan terbaru oleh Pusat untuk Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat (AS), beberapa orang dilaporkan mengalami penyakit paru-paru setelah menggunakan produk vape ilegal.

Para pasien tersebut membeli produk-produk vape dari sumber-sumber tidak resmi, seperti teman, pedagang gelap, atau dari jalanan. CDC menemukan dari 867 pasien pengguna vape, 86 persen diantaranya memakai vape yang mengandung tetrahydrocannabinol (THC) atau ekstrak ganja dari merek yang muncul di pasar gelap.

Mengomentari kasus ini, fisikawan sekaligus mantan komisioner Food and Drug Administration AS (FDA), Scott Gottlieb menyatakan, jika suatu produk mengandung THC, maka itu bukan rokok elektrik. Pasalnya, rokok elektrik adalah sistem penghantar nikotin elektronik (Electronic Nicotine Delivery System, ENDS) dan dianggap sebagai produk tembakau.

“Perangkat khusus untuk menguapkan THC bersifat ilegal berdasarkan hukum federal, dan bukan rokok elektrik,” kata Scott.

Seorang praktisi kesehatan Indonesia, dr. Arifandi Sanjaya juga angkat bicara soal kasus ini. Dia berpendapat bahwa kasus kesehatan yang terjadi di AS terjadi karena penyalahgunaan bahan dasar dari vape itu sendiri. Bahan-bahan yang mengandung THC sendiri bersifat ilegal di Indonesia.

“Kejadian di Amerika kemarin itu menggunakan THC-nya oil based. Sedangkan THC oil based merupakan THC yang cukup murah kalau di Amerika, dan tidak untuk dikonsumsi,” ujar Arifandi.

Peredaran produk-produk black market dapat merugikan industri rokok elektrik dan menciptakan stigma yang keliru di masyarakat. Sebagai contoh, ada online marketplace yang menjual ribuan produk rokok elektrik tiruan dalam jumlah besar. Beberapa penjual bahkan menyertakan video yang menunjukkan cara memasukkan e-liquid yang juga tiruan. Beberapa kasus seperti ini berakhir dengan dilayangkannya tuntutan hukum dan pengaduan pelanggaran paten terhadap puluhan pembuat rokok elektrik palsu.

Editor : Banu Adikara

Reporter : Marieska Harya Virdhani



Close Ads