alexametrics

5 Pola Asuh Sederhana Agar Anak Laki-laki dan Perempuan Setara

21 April 2019, 13:55:09 WIB

JawaPos.com – Semangat Raden Ajeng Kartini dalam membela hak perempuan salah satunya adalah agar kedudukan laki-laki dan perempuan setara. Sayangnya, budaya dan pola asuh orang tua pada anak-anaknya sejak kecil justru membuat mereka tumbuh dengan berbagai perbedaan berdasarkan gender.

Budaya tersebut akhirnya berpengaruh juga di masyarakat dalam berbagai bidang. Padahal perempuan dan laki-laki punya kesempatan yang sama untuk maju.

“Kesetaraan gender bukan hal instan tapi butuh proses dan pembiasaan sejak dini. Saya percaya anak-anak tumbuh dalam pembiasaan. Oleh karena itu, kesetaraan juga perlu dibiasakan. Sejak kapan? Sedini mungkin,” tegas Psikolog Anak dan Keluarga Vera Itabiliana Hadiwidjojo kepada JawaPos.com, Minggu (21/4).

Menurut Vera, secara fisik, laki-laki dan perempuan tentu berbeda. Namun, ini bukan berarti keduanya harus diperlakukan dan diberi kesempatan berbeda sejak dari kecil. Baik anak laki-laki maupun perempuan perlu diberikan kesempatan setara dengan pola asuh yang tidak diskriminatif berdasarkan gender.

“Anak laki-laki perlu mengembangkan afeksinya dan sebaliknya anak perempuan pun perlu sama tegarnya seperti anak laki-laki,” tegasnya.

Maka para orang tua disarankan untuk menghindari berbagai pola asuh yang keliru agar anak laki-laki dan perempuan tumbuh dewasa dengan setara. Berikut lima langkah sederhana yang bisa diterapkan dalam mengasuh anak.

Ajari tidak ada perbedaan dalam melakukan hal apapun sejak kecil. (Shutterstock)

1. Menolong Anak Perempuan Lebih Cepat

Orang tua cepat memberikan bantuan jika anak perempuan yang mengalami kesulitan daripada anak laki-laki. Misalnya, jika anak perempuan yang jatuh cepat dibantu berdiri tapi sebaliknya anak laki-laki diharapkan bangun sendiri. Sebaiknya perbedaan ini tidak dilakukan.

2. Larang Permainan Tertentu

Orang tua melarang aktivitas main tertentu. Misalnya, anak perempuan tidak boleh main berantem-beranteman atau anak laki-laki tidak boleh main masak-masakan.

3. Kesukaan Terhadap Warna

Mengidentikkan warna dengan jenis kelamin. Misalnya warna biru hanya untuk laki-laki dan pink untuk perempuan.

4. Batasi Ekspresi Emosi

Ada hal-hal menyangkut emosi yang dibatasi. Misalnya anak perempuan tidak boleh tertawa terbahak-bahak atau anak laki-laki tidak boleh menangis.

5. Larang Jenis Mainan

Misalnya, membedakan jenis mainan anak. Seperti mobil-mobilan/robot untuk anak laki-laki dan boneka untuk anak perempuan.

Editor : Nurul Adriyana Salbiah

Reporter : Marieska Harya Virdhani

Alur Cerita Berita

Lihat Semua


Close Ads