alexametrics

Menapaki Jalan Indonesia Sebagai Kiblat Fashion Muslim Dunia pada 2020

19 Mei 2019, 17:01:35 WIB

JawaPos.com – Seruan dan upaya untuk mewujudkan Indonesia sebagai kiblat fashion muslim dunia pada 2020 memang dilakukan para desainer lokal dari beberapa tahun terakhir. Mimpi itu seakan sejalan dengan perkembangan industri modest fashion yang makin ramai. Mulai dari menjamurnya brand lokal hingga pengakuan dunia akan modest fashion Indonesia lewat pekan mode.

Tapi apakah itu cukup untuk membuat Indonesia sebagai kiblat fashion muslim dunia pada tahun depan?

National Chairman Indonesian Fashion Chamber (IFC), Ali Charisma mengungkapkan saat ini atau tahun depan, masih sulit bagi Indonesia untuk menjadi kiblat muslim fashion dunia. Baginya, indikator yang paling kuat adalah ketika label busana muslim Indonesia sudah sejajar dengan label dunia atau dikenal oleh masyarakat dunia.

Sedangkan saat ini, pasar busana muslim Indonesia masih sulit untuk itu. “Paling terlihat adalah yang dimaksud kiblat itu jika masyarakat luar negeri mau cari busana muslim ya ke Indonesia. Sama seperti mau wisata ya ke Bali,” ujar Ali saat pegaleran Muslin Fashion Festival (MUFFEST) beberapa waktu lalu.

Ali Charisma mengungkapkan Indonesia masih sulit untuk menggapai  kiblat fashion muslim dunia pada 2020. (Issak Ramdhani)

Meski masih jauh dari capaian tersebut, kemajuan industri modest fashion Indonesia patut diacungi jempol. Karena adanya pelaku dan domain besar hingga bisa bersaing dengan negara industri fashion lainnya adalah sebuah jalan. Hanya saja pekerjaan rumah selanjutnya adalah bagaimana mendatangkan dunia ke Indonesia.

“Memang tidak akan tercapai pada 2020 tapi pengaruh modest wear Indonesia di dunia banyak permintaan, respon dunia sangat bagus,” sambungnya.

Untuk itu selain gerak cepat para desainer, ungkap Ali, diperlukan peran pemerintah yang kuat untuk mempormosikan koleksi desainer ke luar negeri. Sehingga buyer atau pembeli dari mancanegara mengenal karya terbaik desainer lokal.

“Saya kira peran pemerintah ya, sebab jika peran kami yang memperkenalkan dan menggenjot ke luar negeri tidak semuanya sanggup,” tutupnya.

Senada dengan Ali, desainer fashion senior Itang Yunasz pun menekankan pentingnya keterlibatan pemerintah. Menurutnya, untuk menjadi kiblat fashion muslim dunia bukan hanya dibutuhkan usaha dari para desainer. Akan tetapi juga dibutuhkan fasilitas dan dukungan besar dari pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya.

“Saya rasa enggak (siap) ya. Kalau siap untuk kumpulin desainer saja sih siap. Tetapi siap itu bukan hanya di satu kelompok. Kita harus siap gandeng kerja sama dengan pabrik misalnya, atau siap dengan instansi kaitannya dengan fashion itu sendiri,” tukasnya saat berbincang dengan JawaPos.com beberapa waktu lalu.

Desainer Itang Yunasz bicara tentang Indonesia sebagai kiblat fashion muslim dunia. (Dery Ridwansah/JawaPos.com)

Misalnya dengan adanya lembaga yang mewadahi seluruh pekerjaan fashion. Kemudian ketika masyarakat dunia datang ingin membeli modest wear, bukan hanya bisa singgah ke Tanah Abang untuk mencari busana muslim.

“Harus ada satu hall atau mal, oh ada ini dan itu sebagai ikon pusatnya. Saya enggak yakin kita siap untuk itu. Sekali lagi, kalau kumpulin desainer sih siap,” katanya.

Sedangkan desainer muda Jenahara memandang melihat pertumbuhan industri modest fashion saat ini, Indonesia punya harapan mewujudkan impian tersebut. Terlebih Indonesia punya kekayaan budaya yang tak dimiliki negara lain. Membuat Busana di Indonesia kini sangat beragam dan banyak pilihan.

“Dan aku melihat ga ada fashion muslim yang kayak Indonesia dibandingkan negara lain. Enggak monoton dengan style-nya,” kata Jenahara, desainer, ketika ditemui JawaPos.com di Graha Pena, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Jenahara berbagi pikirannya tentang Indonesia sebagai kiblat fashion muslim dunia saat bermain ke Jawa Pos beberapa waktu lalu. (Dery Ridwansah)

Orang-orang bisa melihat bahwa hijab di Indonesia hadir dalam berbagai macam bentuk. Seperti turban, segitiga, panjang, hingga syar’i. Ditambah lagi dari segi model busana dan warna serta permainan motif yang beragam.

Namun masih ada sistem yang perlu dibenahi kembali untuk mendukung Indonesia sebagai kiblat busana muslim dunia dalam jangka panjang. Karena menjadi kiblat bukan hanya sekedar tren tapi ada fasilitas untuk mendukung karya desainer.

“Misalnya memberikan tempat yang terbaik untuk mereka para desainer punya tempat men-showcase koleksinya. Kalau sekarang masa Tanah Abang, Tanah Abang copy-an kita semua,” tambah Jenahara.

Sebagai contoh seperti di negara Italia memiliki tempat yang bernama Como, tempat karya desainer-desainer Italia berkumpul. Melalui tempat seperti ini masyarakat pun menjadi teredukasi.

Selain dari segi fasilitas, yang masih perlu diingat juga untuk para desainer dan pemerintah sama-sama saling bersinergi demi tujuan yang sama. “Kalau mau dijadiin muslim fashion dunia, semua kerjasama, e-commerce, media, pemerintah, dan desainer. Jangan ngerasa desainnya aku paling keren, ya ga gitu juga, ya sama-sama,” ujarnya.

Editor : Nurul Adriyana Salbiah

Reporter : Marieska Harya Virdhani



Close Ads