alexametrics

Hermes Laris Selama Pandemi, Harga Dua Tas Branded Lainnya Melambung

18 Mei 2020, 13:14:44 WIB

JawaPos.com – Sejumlah sektor fesyen mungkin terpukul dengan wabah virus Korona karena anjloknya pembeli. Tapi tidak terjadi pada tas-tas branded. Tas Hermes asal rumah mode Prancis tetap juara. Web penjualan kembali dan lelang yang menjual produk-produk tas tangan Hermès, melaporkan bahwa penjualan terus berlanjut meski ada krisis.

Reseller fesyen mewah yang berbasis di Paris, Vestiaire Collective, mengatakan kepada Bloombergits bahwa penjualan tas Hermes dan Chanel tetap stabil dalam harga dan volume yang tinggi. Memang ada sedikit penurunan ketika lockdown di Eropa dimulai, seperti dilansir dari Quartz, Senin (18/5).

Tak hanya Hermes, merek-merek mewah terkemuka, termasuk Chanel dan Louis Vuitton, telah meningkatkan harga beberapa produk mereka yang paling favorit. Mereka berusaha untuk menebus kehilangan penjualan selama berminggu-minggu lockdown akibat wabah Coronavirus.

Semua rumah mode telah melaporkan bisnis yang cepat di Korea Selatan dan pasar utama Tiongkok, saat toko-toko mulai dibuka kembali pada Maret. Sebagian mengimbangi penurunan penjualan di Eropa dan Amerika Serikat.

Chanel mengatakan kenaikan harga pada tas dan beberapa barang kecil dari kulit antara 5 persen dan 17 persen di seluruh dunia karena pandemi telah mendorong naiknya harga bahan baku tertentu. Penyesuaian ini dilakukan sambil memastikan untul menghindari perbedaan harga yang berlebihan antarnegara. The Korea Times melaporkan adanya kenaikan harga 25 persen untuk barang merek Chanel di Korea Selatan.

Label mode bintang industri LVMH Louis Vuitton juga menikmati pertumbuhan penjualan lebih dari 50 persen di Tiongkok pada awal April. LVMH juga telah menaikkan harga tas tangan di Amerika Serikat dan Eropa.

Bahkan, di Tiongkok dan Korea Selatan, orang-orang antre di luar toko Chanel minggu ini. Xie Lan, pembuat film dokumenter di Beijing, mengatakan dia telah berhasil membeli tas tangan dengan harga hampir 30 ribu yuan atau Rp 70 jutaan sebelum harganya naik.

“Pekerjaan sibuk dan membuat stres, saya ingin memberi diri saya hadiah,” katanya seperti dilansir dari AsiaOne, Senin (18/5).

Para analis mengatakan bahwa merek-merek terkuat, seperti Louis Vuitton, dapat tergoda untuk mendorong harga tetap tinggi. Apalagi adanya pengaruh pada perjalanan internasional dan resesi di Eropa dan Amerika Serikat.

“Ini strategi untuk mempertahankan margin,” kata Analis Barang Mewah di Bernstein, Luca Solca.

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Edy Pramana

Reporter : Marieska Harya Virdhani



Close Ads